Pembaruan Global Mangrove Watch Ungkap Pertumbuhan Mangrove Dunia, tetapi Ancaman Belum Berakhir
Setelah puluhan tahun kekhawatiran membayangi masa depan hutan mangrove dunia, pembaruan Global Mangrove Watch (GMW) dengan tingkat akurasi mencapai 93 persen membawa kabar menggembirakan dan akan diluncurkan secara resmi pada Hari Mangrove Sedunia, 26 Juli. Data terbaru menunjukkan adanya penambahan seluas 47.707 hektare tutupan mangrove di seluruh dunia selama 40 tahun terakhir.
Peta sebaran dan perubahan mangrove dalam pembaruan Global Mangrove Watch (GMW) 4.1 menunjukkan bahwa tutupan mangrove dunia berkembang lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Temuan ini sejalan dengan penelitian terbaru yang mencatat penurunan laju deforestasi dan degradasi mangrove, sementara regenerasi alami dan upaya restorasi mulai membuahkan hasil yang nyata.

Beberapa negara mencatat peningkatan luas mangrove yang sangat signifikan selama empat dekade terakhir, di antaranya Australia (1.396 km²), India (1.180 km²), Filipina (473 km²), Pakistan (439 km²), dan Senegal (349 km²).
Sejalan dengan hal tersebut, adanya pembaruan GMW dengan akurasi yang lebih tinggi memberikan fakta baru bahwa sejumlah negara yang memiliki kawasan mangrove penting di dunia masih mengalami kehilangan mangrove dalam jumlah cukup besar.
Data menunjukkan bahwa beberapa wilayah mengalami penurunan luas mangrove dalam kurun waktu empat dekade terakhir. Sebagai negara dengan ekosistem mangrove terluas di dunia, Indonesia kehilangan sekitar 2.043 kilometer persegi tutupan mangrove sejak 1985. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari alih fungsi lahan dan aktivitas manusia hingga dampak perubahan iklim.
Merespons tantangan tersebut, Pemerintah Indonesia terus memperkuat upaya perlindungan dan rehabilitasi mangrove sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, dan peningkatan ketahanan wilayah pesisir. Kementerian Kehutanan menerapkan prinsip Memulihkan, Meningkatkan, dan Mempertahankan (3M) sebagai landasan rehabilitasi mangrove untuk meningkatkan tutupan sekaligus memastikan pengelolaannya berlangsung secara berkelanjutan. Selain itu, pemerintah mendorong kolaborasi multipihak dan memperkuat peran masyarakat dalam memulihkan ekosistem mangrove yang terdegradasi.
Berbagai langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejak 2015, luas mangrove di sejumlah negara, termasuk Indonesia, memperlihatkan tren yang lebih stabil, mencerminkan meningkatnya efektivitas upaya konservasi dan rehabilitasi yang dilakukan.
“Peningkatan akurasi Global Mangrove Watch mengubah cara kita memahami kondisi mangrove, baik di tingkat global maupun lokal. Kemajuan ini juga memperkuat kemampuan kita dalam melindungi dan merestorasi ekosistem mangrove,” kata Lammert Hilarides, Kepala Program Global Mangrove Watch di Wetlands International.
“Didukung data dengan tingkat akurasi yang belum tertandingi serta sistem peringatan dini yang unik, platform terdepan di dunia ini kini semakin andal. Teknologi tersebut memungkinkan pemerintah, masyarakat, dan pegiat konservasi merencanakan pengelolaan mangrove secara lebih efektif serta merespons pembukaan hutan mangrove secara ilegal segera setelah terjadi, bahkan di kawasan terpencil yang sulit dijangkau melalui pengawasan rutin,” ujarnya.
Melindungi 147.283 km² mangrove yang masih tersisa di dunia sangat penting bagi manusia, alam, dan iklim. Mangrove yang sehat mendukung ketahanan pangan dan mata pencaharian masyarakat pesisir, melindungi kawasan pesisir dan perkotaan dari gelombang badai, serta kenaikan muka air laut, menyerap karbon hingga empat kali lebih besar per hektare dibandingkan hutan daratan, serta menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
Selain regenerasi alami, data juga menunjukkan bahwa peningkatan luas mangrove sebagian merupakan hasil dari program aforestasi dan restorasi. Namun kini, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa sebagian besar proyek penanaman mangrove berskala besar gagal membentuk ekosistem mangrove yang berfungsi secara alami. Dalam konteks ini, Global Mangrove Watch dapat membantu menunjukkan manfaat pendekatan restorasi berbasis ekologis, yang memulihkan konektivitas ekosistem sekaligus mendorong regenerasi alami sebagai praktik terbaik dalam restorasi mangrove.
Yus Rusila Noor, Direktur Wetlands International Indonesia, menekankan pentingnya ketepatan metode pemulihan di lapangan. “Kami mengharapkan pada tingkat tapak dilakukan restorasi mangrove yang benar-benar berbasis ekologis. Dengan pendekatan ini, luasan pemulihan mangrove di Indonesia akan menjadi lebih nyata dan berkelanjutan, yang tentunya sejalan dengan peningkatan fungsi ekologis serta beragam manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
Data juga mengindikasikan bahwa sebagian peningkatan luas mangrove, yang banyak terjadi di sekitar sungai dan kawasan delta, kemungkinan dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang merusak di wilayah hulu, seperti pertambangan dan deforestasi. Aktivitas tersebut mengubah aliran air dan sedimen di sungai sehingga menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan mangrove di sejumlah lokasi.
Ironisnya, pertambahan hutan mangrove di beberapa wilayah diduga terjadi sebagai dampak dari hilangnya tutupan hutan di daerah hulu akibat penebangan. Dengan kata lain, mangrove di sejumlah kawasan tampak berkembang karena hutan lain justru mengalami kerusakan.

Pembaruan terbaru pada platform yang dapat diakses secara gratis ini juga berhasil mengidentifikasi kawasan mangrove yang sebelumnya belum pernah dipetakan, termasuk di dua negara dan empat wilayah baru. Dengan temuan tersebut, jumlah negara dan wilayah yang diketahui memiliki ekosistem mangrove kini bertambah menjadi 128.Bagi negara-negara kepulauan kecil, yang memiliki mangrove dalam luasan terbatas namun sangat penting—terutama karena keterkaitannya dengan ekosistem lain seperti terumbu karang—pembaruan ini memberikan dukungan penting bagi upaya konservasi di tingkat lokal.
Akurasi peta dasar (baseline) terbaru GMW diperkirakan mencapai 93 persen, meningkat secara signifikan dibandingkan versi sebelumnya. Peningkatan ini dimungkinkan berkat kemajuan teknologi machine learning, penggunaan citra satelit beresolusi lebih tinggi, masukan dari para pengguna, serta berbagai penyempurnaan lainnya. Akurasi yang lebih tinggi memungkinkan para praktisi di lapangan mengidentifikasi lokasi yang berpotensi untuk direstorasi, menentukan kawasan prioritas konservasi, serta memantau perubahan kondisi mangrove dengan tingkat keyakinan dan ketelitian yang lebih baik.
Luz Gil, Policy Lead dari Mangrove Breakthrough, mengatakan, “Data berkualitas tinggi merupakan fondasi bagi kebijakan dan investasi yang efektif. Pembaruan terbaru Global Mangrove Watch menyediakan informasi yang dibutuhkan pemerintah untuk menetapkan target yang lebih ambisius dan berbasis bukti dalam Nationally Determined Contributions (NDC) maupun strategi nasional lainnya. Data ini juga membantu para investor mengidentifikasi dan memprioritaskan peluang investasi yang memberikan dampak terbesar. Ketika berbagai negara beralih dari tahap komitmen menuju implementasi, alat seperti GMW menjadi sangat penting untuk mengarahkan pendanaan ke lokasi yang mampu memberikan manfaat terbesar bagi iklim, keanekaragaman hayati, dan masyarakat.”
Global Mangrove Watch juga meningkatkan secara signifikan akurasi peta sebaran mangrove. Peta dasar terbaru, yang kini tersedia hingga tahun 2025, dibuat menggunakan resolusi 10 meter, sehingga menawarkan detail spasial enam kali lebih tinggi dibandingkan versi sebelumnya. Hal ini memudahkan identifikasi fitur-fitur kecil di kawasan mangrove. Sementara itu, peta perubahan berupa kehilangan dan pemulihan mangrove kini tersedia dengan resolusi 30 meter dan mencakup periode 1985–2025, jauh lebih panjang dibandingkan cakupan sebelumnya yang hanya meliputi periode 1996–2020.

Lammert Hilarides menekankan pentingnya peningkatan tersebut. “Melalui peta beresolusi lebih tinggi, pengelola di lapangan dan pembuat kebijakan kini dapat mendeteksi berkurangnya tutupan mangrove hingga pada skala lokal. Misalnya, melalui sistem peringatan kehilangan mangrove yang diperbarui setiap bulan, mereka dapat dengan cepat mengetahui lokasi dan penyebab berkurangnya mangrove, lalu segera mengambil langkah untuk mencegah kehilangan lebih lanjut,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Pengguna kini juga dapat berlangganan layanan notifikasi untuk menerima peringatan deforestasi yang disesuaikan dengan kawasan mangrove yang mereka kelola.”
For more information:
Susanna Tol, Senior Communications and Advocacy Officer, Wetlands International
[email protected]; +31 6 22624702
Connor Wheatley, Communications Manager, Global Mangrove Alliance [email protected], +1 770-653-0422
Explore the platform www.globalmangrovewatch.org
Join the global webinar on July 27 to learn more. Register here About the Global Mangrove Watch
The Global Mangrove Watch platform is the evidence base informing the Global Mangrove Alliance and is the result of years of continuous collaboration between local and international scientific, research, environmental organizations, and foundations including Wetlands International, The Nature Conservancy, SoloEO, Aberystwyth University, The Japan Aerospace Exploration Agency, NASA, WWF, the IUCN, and supported by the Oak Foundation, COmON Foundation, DOB Ecology, and the Dutch Postcode Lottery.