Gambut: Terbentuk Ribuan Tahun, Bisa Musnah Seketika
Gambut adalah rekaman panjang perjalanan sebuah ekosistem. Lapisan yang tampak sederhana, ternyata terbentuk melalui proses yang berlangsung ratusan hingga ribuan tahun.
Di rawa yang tergenang, sisa vegetasi (daun, ranting, batang, kulit pohon, dan akar tumbuhan yang mati) tidak terurai sempurna, karena miskin oksigen yang memperlambat aktivitas mikroba pengurai. Material organik itu kemudian menumpuk, lapis demi lapis. Secara alami, penambahan bahan organik hanya sekitar 0,15–2 milimeter per tahun. Dengan laju yang sangat lambat tersebut, akumulasi sekitar satu milimeter per tahun dapat membentuk lapisan gambut setebal satu meter setelah 500 hingga 1.000 tahun atau lebih.

Air menjadi kunci dalam proses akumulasi tersebut. Genangan air menciptakan kondisi lingkungan miskin oksigen yang menghambat pembusukan bahan organik, sehingga terbentuklah gambut. Dalam kondisi alaminya, gambut memiliki kemampuan menahan air yang sangat tinggi menyerupai spons raksasa yang menjaga keseimbangan tata air ekosistem.
Namun, ketika lahan gambut dikeringkan melalui drainase atau kanal, keseimbangan itu hilang. Air keluar dari pori-pori gambut dan digantikan oleh udara yang membawa oksigen. Mikroba kembali aktif menguraikan bahan organik, menyebabkan gambut menyusut, mengalami amblesan atau subsidence, melepaskan karbon dioksida, dan lahan gambut yang mengering tersebut menjadi sangat rawan terbakar.
Mengapa Kebakaran Gambut Sulit Padam?
Pengeringan ekstrem menyebabkan gambut menjadi kering tak balik (irreversible drying). Struktur yang semula gembur dan mampu menyerap air berubah menjadi rapuh dan hidrofobik—menolak air dan sulit menyerap air kembali, bahkan saat hujan deras.
Kondisi gambut yang kering, menjadikannya mudah terbakar apabila ada pemicunya (api). Ketika lahan gambut terkabar, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat ke dalam lapisan bawah melalui smouldering combustion—pembakaran tanpa kobaran yang sulit dipadamkan dan menghasilkan asap pekat.

Ketika satu meter gambut terbakar, yang hilang bukan sekadar (tanah) gambutnya. Ratusan hingga ribuan tahun sejarah ekosistem, cadangan karbon, kemampuan menyimpan air, dan struktur tanah dapat lenyap hanya dalam hitungan jam atau hari.
Dampak terbakarnya lahan gambut tidak hanya berupa hilangnya lapisan (tanah) gambut. Kebakaran juga menyebabkan berbagai fungsi ekologis gambut menjadi terganggu atau bahkan hilang.
Dari sisi hidrologi, gambut yang terbakar mengalami kerusakan struktur fisik secara permanen dan kehilangan kemampuan utamanya untuk menyimpan air. Hilangnya lapisan organik ini menyebabkan permukaan lahan mengalami amblesan atau subsidence. Perubahan kondisi mikroklimat dan topografi ini pada akhirnya menghambat proses pemulihan alami serta menyulitkan vegetasi untuk tumbuh kembali.
Dampaknya juga dirasakan langsung oleh satwa yang bergantung pada ekosistem ini. Hilangnya vegetasi dan perubahan kondisi habitat menghilangkan tempat berlindung, sumber makanan, serta lokasi berkembang biak bagi berbagai jenis satwa di dalamnya.