El Niño dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kebakaran Gambut di Indonesia, Diperlukan Aksi Nyata.
Wetlands International melalui white paper terbaru menyerukan tindakan mendesak untuk menekan risiko terulangnya kebakaran besar di lahan gambut Indonesia sekaligus mencegah krisis kabut asap lintas negara.
Berdasarkan white paper Wetlands International tersebut, Indonesia menghadapi peningkatan resiko kebakaran gambut dalam beberapa bulan mendatang.yang berpotensi menimbulkan dampak buruk terhadap masyarakat, keanekaragaman hayati, perekonomian, hingga krisis iklim global.

Selain itu, kombinasi fenomena El Niño yang semakin menguat, kenaikan suhu, dan degradasi lahan gambut yang terus terjadi dapat memicu kembali kebakaran berskala besar seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Meskipun tingkat keparahan kebakaran tahun ini belum dapat dipastikan, namun waktu untuk melakukan langkah-langkah pencegahan semakin terbatas.
Indonesia memiliki sekitar 13,4 juta hektare lahan gambut tropis, salah satu yang terluas di dunia. Ekosistem ini berperan penting sebagai penyimpan karbon, mengatur tata air, habitat bagi berbagai keanekaragaman hayati, sekaligus sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat. Namun, pengeringan berulang, alih fungsi lahan, dan kebakaran berulang telah menyebabkan sekitar empat hingga enam juta hektare lahan gambut mengalami degradasi dan rentan terbakar.

Berbeda dengan kebakaran hutan pada umumnya, api di lahan gambut menjalar hingga ke lapisan organik di bawah permukaan tanah dan dapat terus membara selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Kebakaran di lahan gambut dapat melepaskan emisi gas rumah kaca dan asap beracun dalam jumlah yang sangat besar dan sulit untuk dipadamkan. ekosistem gambut yang terjaga tahan terhadap kebakaran karena berada pada kondisi jenuh air, akan tetapi begitu dikeringkan, lahan gambut menjadi sangat mudah terbakar.
Belajar dari Bencana Masa Lalu
White paper ini mengingatkan kembali pada bencana kebakaran lahan gambut 1997–1998, ketika sekitar 9–10 juta hektar lahan terbakar di berbagai wilayah Indonesia. Kabut asap yang dihasilkan berdampak pada lebih dari 200 juta penduduk di Asia Tenggara, mengganggu transportasi, memicu gangguan pernapasan secara luas, serta melepaskan emisi karbon dalam jumlahbesar ke atmosfer. Terulangnya peristiwa kebakaran saat ini akan membawa konsekuensi yang sangat berat.
Laporan tersebut mengidentifikasi sejumlah risiko utama, antara lain:
- Ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat kebakaran serta dampak kesehatan serius dari paparan asap beracun di berbagai negara.
- emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar akan mempercepat perubahan iklim.
- Hilangnya keanekaragaman hayati di ekosistem gambut yang bernilai penting secara global
- Kerugian ekonomi yang sangat besar.
- Kerusakan permanen pada lahan gambut yang menyebabkan produktivitas lahan terus menurun serta meningkatkan risiko banjir dan kebakaran di masa mendatang.
Bencana Masih Dapat Dicegah
Wetlands International menegaskan bahwa krisis kebakaran lahan gambut dalam skala besar bukanlah sesuatu yang tidak dapat dihindari, meskipun risiko kebakaran meningkat, Tindakan cepat dan tepat dapat menekan secara signifikan kemungkinan dan tingkat keparahan kebakaran lahan gambut.
Melalui white paper ini, Wetlands International menyerukan kepada pemerintah, pengelola lahan, sektor swasta, masyarakat, dan lembaga pendanaan untuk memperkuat kesiapsiagaan kebakaran sebelum musim kemarau memuncak. Langkah-langkah yang direkomendasikan meliputi pemulihan tinggi muka air di lahan gambut yang telah dikeringkan, perbaikan infrastruktur pembasahan kembali (rewetting), penguatan sistem peringatan dini, serta peningkatan dukungan terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran berbasis masyarakat.
Dalam jangka panjang, Wetlands International mendorong investasi berkelanjutan dalam program restorasi lahan gambut, pengembangan mata pencaharian adaptif seperti paludikultur, penguatan pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat, kebijakan terpadu yang meletakkan lahan gambut sebagai infrastruktur esensial bagi ketahanan iklim, ketahanan air, dan konservasi keanekaragaman hayati.
Investasi untuk Membangun Ketahanan
Mencegah kebakaran lahan gambut jauh lebih efektif sekaligus jauh lebih hemat biaya dibandingkan menanggulanginya saat kebakaran terjadi. Dengan melindungi dan memulihkan lahan gambut sejak sekarang, Indonesia dapat menekan risiko bencana, melindungi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan dan air, menjaga keanekaragaman hayati, serta mempercepat pencapaian komitmen iklim nasional.
Seiring perubahan iklim yang semakin meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem, investasi untuk menciptakan lahan gambut yang tangguh menjadi prioritas yang semakin mendesak. Upaya ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi kawasan Asia Tenggara dan iklim global secara keseluruhan.