The Ecosystem-based Approach/Nature-Based Solutions for Climate Smart Livelihoods in Mangrove Landscapes (NASCLIM), Indonesia
Apa itu NASCLIM
Dirancang untuk mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dalam memerangi deforestasi yang terjadi secara cepat, proyek NASCLIM bertujuan untuk memulihkan hutan mangrove yang terdegradasi dan melindungi hutan yang masih utuh di Delta KayanSembakung di Kalimantan Utara dan Delta Mahakam di Kalimantan Timur, melalui pendekatan berbasis ekosistem/solusi berbasis alam.
Selama beberapa dekade terakhir, pengembangan tambak telah secara signifikan mengurangi daya dukung ekosistem delta-delta tersebut, yang menyebabkan degradasi hutan mangrove di pesisir. Dengan merehabilitasi aliran pasang surut alami dan mempromosikan perikanan dan akuakultur yang
berkelanjutan, NASCLIM bertujuan memperkuat ketahanan pesisir dan memberdayakan masyarakat yang rentan, terutama perempuan. NASCLIM juga bertujuan meningkatkan kapasitas pembuat keputusan untuk mendorong reformasi kebijakan yang memberikan insentif bagi perlindungan mangrove dalam jangka panjang. NASCLIM akan menjadi model yang dapat diterapkan secara luas, menginspirasi perubahan berkelanjutan dalam restorasi mangrove di seluruh Indonesia dan sekitarnya.
Tujuan NASCLIM
NASCLIM juga bertujuan meningkatkan penghidupan masyarakat di keenam desa sembari mengatasi dampak perubahan iklim. NASCLIM juga akan fokus pada peningkatan kesadaran para perempuan dari masyarakat akan nilai sosial, lingkungan, dan ekonomi dari akses mereka terhadap mangrove.
Latar Belakang
Mangrove adalah salah satu ekosistem yang produktif di muka Bumi.

Mangrove adalah sumber daya yang penting untuk mitigasi perubahan iklim. Hilangnya hutan mangrove tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menyebabkan hilangnya tempat pembibitan ikan, meningkatnya polusi, dan berkurangnya perlindungan pantai serta juga mengganggu
habitat penting bagi keanekaragaman hayati darat dan laut.
Pemerintah Republik Indonesia telah menugaskan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) untuk memfasilitasi percepatan rehabilitasi mangrove seluas 600.000 hektar dalam kurun waktu 2021-2024. Dengan mencegah konversi hutan mangrove, Indonesia dapat mengurangi emisi gas rumah
kaca dari penggunaan lahan sebesar 30%.
Rehabilitasi mangrove di Indonesia membutuhkan biaya sekitar Rp 63 juta per hektar, di atas rata-rata biaya global sebesar Rp 57 juta*. Tingkat keberhasilan yang rendah meningkatkan risiko dan biaya, sehingga banyak upaya yang dilakukan untuk mencapai hasil yang bertahan lama. NASCLIM
mengupayakan agar regenerasi alami terjadi, sehingga pesisir dapat tumbuh subur sebagai tempat pertumbuhan mangrove dengan segala manfaatnya bagi masyarakat pesisir, dengan
pendekatan yang lebih hemat biaya.
Pemulihan mangrove untuk penghidupan
keberlanjutan
Keenam desa lokasi implementasi NASCLIM adalah rumah bagi 19,339 orang (9,289 perempuan dan 10,050 pria). Jumlah ini tidak termasuk ribuan pemilik dan pekerja tambak, juga keluarga mereka yang mungkin tinggal di luar desa.
NASCLIM akan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk mempengaruhi praktik perlindungan dan rehabilitasi mangrove di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, dan desa, serta dengan para pemilik tambak dan nelayan untuk mencapai:
- Pembuatan kebijakan oleh pemerintah yang berfokus pada perlindungan dan rehabilitasi mangrove yang peka terhadap hak-hak perempuan, yang didukung oleh upaya pemantauan yang berkelanjutan.
- Kolaborasi yang mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan sekaligus memberi manfaat bagi
masyarakat lokal dan melestarikan ekosistem mangrove. - Peningkatan mata pencaharian yang terhubung dengan pengelolaan habitat dan keanekaragaman
hayati mangrove yang berkelanjutan.