Straight to content

Story from The Field: Belajar Pemupukan dan Kesuburan Peraian Bersama Sekolah Lapang NASCLIM di Sekatak Bengara

Published on:

Sebanyak 13 anggota Sekolah Lapang Pesisir (Coastal Field School/CFS) didampingi tim Yayasan Lahan Basah (YLBA) dan narasumber Dinas Perikanan Kabupaten Bulungan, Agustyo. Anggota dari Sekolah Lapang Pesisir mengikuti sesi lanjutan tentang pemupukan, identifikasi kesuburan perairan, identifikasi warna air, dan tindakan pengelolaan. 

Ini adalah rangkaian pembelajaran sebelumnya tentang pembuatan Mikroorganisme Lokal (MoL) yang diadakan pada tanggal 16 Juli lalu, sehingga peserta mulai memahami keterkaitan antara pengelolaan tanah dan air tambak dengan pertumbuhan pakan alami bagi udang. 

Dokumentasi Kegiatan Sekolah Lapang CFS di Sekatak Bengara, Kalimantan Utara. Photo credit: Andi Darmawansyah

Agustyo sebagai narasumber dan pendamping di lapangan mengajak peserta untuk memahami bahwa tujuan pemupukan tidak saja memberi makan udang, tapi menyediakan unsur hara untuk menumbuhkan fitoplankton sebagai pakan alami. Hal ini untuk menjaga keseimbangan ekosistem tambak. 

Pembelajaran tentang identifikasi kondisi tambak melalui warna air juga diberikan. Agustyo menuturkan, “Apabila terdapat air berwarna hijau muda atau hijau kecokelatan, pertanda kondisi yang ideal karena didominasi plankton yang bermanfaat. Sementara itu, air yang terlalu bening justru menunjukkan minimnya plankton sehingga produktivitas tambak menjadi rendah dan memerlukan tindakan pengelolaan yang tepat.” 

Farhan, salah satu petambak dari Suku Duri yang bergabung dalam Sekolah Lapang Pesisir berujar, “Kemarin kami diajarkan cara membuat MoL, saat ini menunggu proses fermentasi selesai agar kami bisa aplikasikan ke tambak. Selama ini juga, kami mengira air yang jernih itu bagus, ternyata justru menandakan pakan alaminya sedikit (plankton).” 

Dokumentasi Kegiatan Sekolah Lapang CFS di Sekatak Bengara, Kalimantan Utara. Photo credit: Andi Darmawansyah

Pemahaman baru ini membuat peserta semakin menyadari bahwa pengelolaan kualitas air tidak hanya dilihat dari kejernihannya, tetapi juga dari keseimbangan biologis yang mendukung pertumbuhan udang.

Melalui rangkaian materi yang saling terhubung, Sekolah Lapang mendorong petambak untuk mulai menerapkan pengelolaan tambak berdasarkan pengamatan dan pencatatan kondisi biofisik. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petambak dalam mengambil keputusan budidaya yang lebih tepat, adaptif, dan berkelanjutan, sejalan dengan prinsip Associated Mangrove Aquaculture (AMA) yang dikembangkan oleh Program NASCLIM.

Kredit

Kisah ini berdasarkan dokumentasi lapangan NASCLIM dari Desa Sekatak Buji, Kalimantan Utara, disusun oleh Andi Darmawansyah.