Story from The Field: Antusiasme Ibu-Ibu Desa Sekatak Buji Hadiri Pelatihan Bandeng Cabut Duri
Sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas kelompok usaha masyarakat, Tim Climate Smart Livelihood (CSL) NASCLIM kembali memfasilitasi pelatihan pengolahan bandeng cabut duri bagi kelompok perempuan di Desa Sekatak Buji. Kegiatan yang dilaksanakan di Rumah Produksi Desa Sekatak Buji ini merupakan pelatihan ketiga dalam rangkaian pengembangan usaha berbasis perikanan yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal.
Pelatihan diikuti oleh lima peserta perempuan dengan rentang usia 36 hingga 51 tahun. Selama kurang lebih satu jam sejak pukul 09.00 WITA, peserta memperoleh pendampingan teknis mengenai proses pengolahan ikan bandeng, khususnya teknik pencabutan duri yang tepat untuk menghasilkan produk yang aman, berkualitas, dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Dalam sesi praktik, peserta berhasil mengolah sekitar 5 kg ikan bandeng yang selanjutnya digunakan sebagai sarana pembelajaran sekaligus uji pasar.

Berbeda dengan pelatihan sebelumnya, hasil praktik pada kegiatan kali ini langsung diperkenalkan kepada pasar lokal dengan membawanya ke warung makan yang ada di Desa Sekatak Buji. Harga jual ikan bandeng tanpa duri bernilai cukup tinggi, mencapai Rp60.000 per kilogramnya, dengan harga beli ikan bandeng sebelumnya ialah Rp30.000 per kilogram.
Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada peserta mengenai potensi pemasaran produk sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan. Cucu Supriatin (51 tahun, Suku Sunda), selaku ketua Kelompok Bandeng Cabut Duri sekaligus perangkat Desa Sekatak Buji, menyampaikan bahwa pelatihan yang telah berlangsung sebanyak tiga kali ini menunjukkan perkembangan kemampuan yang signifikan di kalangan anggota kelompok.
“Kemampuan anggota terus meningkat dari satu pelatihan ke pelatihan berikutnya. Jika pada awal kegiatan sebagian peserta masih kesulitan mengenali dan mencabut duri-duri halus pada ikan bandeng, saat ini mereka sudah lebih terampil dan percaya diri. Kami merasa bangga karena hasil praktik hari ini dapat langsung diperkenalkan kepada warung makan di desa, sehingga anggota dapat melihat secara langsung peluang usaha yang dapat dikembangkan,” ungkap Cucu.
Senada dengan hal tersebut, Fasilitator Tim CSL NASCLIM, Nur Afdalia, menegaskan bahwa pengembangan keterampilan teknis perlu diiringi dengan pemahaman mengenai aspek usaha dan pemasaran agar kelompok mampu membangun usaha yang berkelanjutan.
“Pelatihan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan produksi, tetapi juga untuk memperkuat kapasitas kelompok dalam melihat peluang ekonomi yang tersedia di sekitar mereka. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kegiatan ini mampu meningkatkan kepercayaan diri anggota, khususnya perempuan, untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi lokal,” jelas Nur Afdalia.
Salah satu peserta, Rizki Hamzah (36 tahun) sebagai seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki sumber penghasilan tunai tetap dan termasuk dalam kategori kelompok ekonomi rentan, mengaku memperoleh manfaat besar dari kegiatan tersebut.
“Saya belum pernah belajar mengolah bandeng cabut duri. Pada awal praktik, saya merasa kesulitan karena prosesnya membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Namun setelah mendapatkan arahan dan mencoba secara langsung, saya mulai memahami tekniknya. Saya sangat senang mengikuti pelatihan ini karena memberikan keterampilan baru yang berpotensi menjadi peluang usaha dan membantu meningkatkan ekonomi keluarga,” tutur Rizki Hamzah..

Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa seluruh peserta memberikan respons positif terhadap pelatihan. Meskipun sebagian peserta mengakui bahwa proses pencabutan duri memerlukan latihan berulang untuk mencapai hasil yang optimal, mereka merasa termotivasi karena dapat melihat perkembangan kemampuan yang dimiliki dari waktu ke waktu. Para peserta juga berharap adanya pendampingan lanjutan, khususnya terkait pengemasan produk, standar mutu, dan strategi pemasaran, agar usaha bandeng cabut duri dapat berkembang menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, Tim CSL NASCLIM terus mendorong penguatan kapasitas kelompok perempuan dan kelompok rentan di Desa Sekatak Buji. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pengembangan mata pencaharian yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan yang tersedia di desa.
Artikel ini berdasarkan dokumentasi lapangan NASCLIM dari Desa Sekatak Bengara, Kalimantan Utara, disusun oleh Nur Afdalia.