Straight to content

Saat El Niño Mengancam Kelestarian Lahan Basah

Published on:

Krisis iklim yang diakibatkan El Niño berkembang perlahan namun berdampak luas terhadap ketersediaan air, pangan, dan kesehatan. Di Indonesia, kekeringan akibat El Niño meningkatkan risiko kerusakan lahan basah, terutama gambut dan mangrove yang berperan penting menyimpan karbon dan air. Perlindungan serta rehabilitasi lahan basah menjadi strategi kunci untuk memperkuat ketahanan iklim dan mengurangi risiko bencana di masa depan.

El Niño kembali mengingatkan bahwa krisis iklim tidak selalu hadir dalam bentuk bencana yang datang tiba-tiba. Ia bergerak perlahan, merayap melalui musim kemarau yang semakin panjang, sumur-sumur mulai terasa asin, udara yang kian panas, serta bentang lahan perlahan kehilangan cadangan air.

Fenomena yang berawal dari pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik berkembang menjadi gangguan iklim global yang memengaruhi sistem pangan, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, hingga ketahanan ekosistem di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, El Niño identik dengan udara yang lebih panas, hujan yang semakin jarang, tanah retak, sungai menyusut, hingga meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Ketika curah hujan turun drastis, tanah kehilangan kelembapan, sumber air mengering, dan ekosistem menjadi semakin rentan.

Indonesia memiliki 30% mangrove dunia (>3 juta ha) dan sekitar 22 juta ha lahan gambut (World Bank, 2024). Ekosistem gambut dan mangrove (PME/peatland and mangrove ecosystem) di Indonesia juga memiliki kepadatan karbon ekosistem tertinggi di dunia (mangrove = 1.023 MgC ha-1 dan lahan gambut = 2.658 MgC ha-1), sebuah kapasitas yang besar untuk peluang mitigasi.

Fenomena El Niño kembali menjadi sorotan global. Di Indonesia, siklus ini tidak hanya dipahami sebagai perubahan suhu laut, tetapi juga sebagai pemicu krisis berlapis, mulai dari kebakaran hutan dan lahan hingga terganggunya sistem pangan dan ketersediaan air. Dalam konteks tersebut, pendekatan lanskap lahan basah menjadi semakin penting sekaligus semakin rentan.

El Niño menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasokan air di beberapa daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia dengan periode kekeringan paling intens (Rohmat, 2023).

Pada saat El Niño terjadi, memicu penurunan curah hujan yang signifikan. Dampaknya terlihat jelas, permukaan laut yang hangat, vegetasi kehilangan kelembapan alami, dan cadangan air semakin menurun. Pada wilayah dengan dominasi ekosistem lahan basah seperti rawa, gambut, dan mangrove, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan ekosistem yang serius.

Penelitian oleh Sandi et al., 2019, menunjukkan bahwa ekosistem lahan basah dapat mengalami periode kekeringan ekstrem yang dipengaruhi oleh siklus El Niño, namun vegetasi lahan basah tetap menunjukkan resiliensi dan mampu pulih ketika kondisi hidrologis kembali membaik.

Namun, lanskap gambut saat mengalami kekeringan berkepanjangan tidak selalu diikuti restrukturisasi ekosistem  yang cepat. Gambut mengering mudah terbakar, dan api dapat menjalar di bawah permukaan tanah selama berminggu-minggu tanpa terlihat.

El Niño yang terjadi pada 2015 silam menjadi pengingat.  Jutaan hektar lahan gambut terbakar, menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar, dan menimbulkan dampak kesehatan lintas negara di Asia Tenggara. Biaya besar pun harus dikeluarkan untuk penanganan kebakaran, sementara manfaat ekologis yang hilang jauh lebih besar.

Lahan basah sering dianggap sebagai lahan yang “tidak produktif” (Page, 2022), padahal justru memiliki fungsi ekologis penting dalam menghadapi krisis iklim. Ekosistem ini berfungsi sebagai penyimpan air alami, menjaga kelembapan tanah, serta menjadi penyangga pada musim kering. Gambut, misalnya, mampu menyimpan air hingga beberapa kali lipat dari beratnya sendiri.

Sayangnya, di tengah berbagai kesepakatan global tentang iklim, masyarakat di sekitar kawasan lahan basah masih menghadapi tekanan yang besar.  Padahal lahan basah juga memberikan perlindungan bagi kelompok masyarakat sekitarnya, meliputi perlindungan pesisir, pengendalian banjir, kualitas air, dan ketahanan pangan.

Di banyak wilayah pesisir dan pedalaman, lahan basah menjadi sumber penghidupan melalui perikanan, pertanian, maupun hasil hutan non-kayu. Ketika lahan mengering, produksi pangan menurun, akses air bersih semakin terbatas, dan konflik perebutan sumber daya meningkat dan harus mencari alternatif penghidupan lain.

Menghadapi El Niño bukan hanya soal mitigasi bencana, tetapi juga bagaimana memperkuat ketahanan ekosistem. Lahan basah harus dipandang sebagai infrastruktur alami yang setara pentingnya dengan infrastruktur dasar.

Kerugian dan kerusakan (loss and damage) ditekan melalui peningkatan kesadaran terhadap perubahan iklim. Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan melalui restorasi hidrologi gambut, perlindungan mangrove, penguatan tata kelola berbasis masyarakat, dan integrasi lahan basah dalam kebijakan iklim nasional.

El Niño sudah datang sebagai bagian dari dinamika iklim dunia. Namun dampaknya tidak harus menjadi bencana. Dengan tata kelola tepat, lahan basah bertransformasi menjadi benteng alami yang melindungi Indonesia dari krisis iklim.

Karena itu, kesadaran terhadap perubahan iklim harus menjadi fokus utama yang dipahami hingga tingkat masyarakat. Penguatan pemahaman dan kemampuan adaptasi menjadi kunci untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu melindungi lahan basah, tetapi apakah kita cukup cepat bertindak sebelum siklus berikutnya kembali datang.

Oleh : Ehdra Beta Masran