Straight to content

Ketika Perempuan Mulai Bergerak, Desa Ikut Berubah

Published on:

Di Desa Muara Pantuan, Kalimantan Timur, perubahan nyata terlihat dari semakin aktifnya peran perempuan dalam kehidupan sosial dan lingkungan.

Di desa ini, pembagian peran gender umumnya masih bersifat tradisional. Lelaki mendominasi sektor publik dengan pencaharian utama sebagai nelayan atau petambak, sementara perempuan memikul tanggung jawab domestik serta berperan penting dalam pengolahan hasil tangkapan.

Nur Rahimah (34), seorang ibu rumah tangga, mengungkapkan bahwa ia masih merasakan adanya anggapan bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan dan pencarian nafkah merupakan urusan laki-laki. Padahal, ia ingin terlibat lebih aktif dalam menjaga lingkungan, khususnya melalui pengelolaan sampah di Desa Muara Pantuan, yang menghadapi permasalahan penumpukan sampah di kawasan pesisir.

“Saya ingin membantu menjaga kebersihan pesisir. Sampah yang terkumpul nantinya akan dikumpulkan dan diserahkan ke bank sampah di Kota Samarinda,” ujar Nur Rahimah.

Saat rutin mengikuti kelas ”Melati” untuk Women Field School (WFS) Program NASCLIM, yang didampingi oleh Jamiah (29) dan Risky Eka (28) dari Yayasan BUMI setiap dua minggu sekali yang dihadiri oleh perempuan marginal di Desa Muara Pantuan, ia mendapatkan pengetahuan bagaimana memimpin kegiatan, serta mengambil inisiatif dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan, termasuk menjaga keberlanjutan mangrove.

“Kami merasa setelah mengikuti sekolah lapang perempuan pola pikir kami mulai berubah. Peran laki-laki dan perempuan tidak lagi seperti zaman orang tua kami.  Kini kami menyadari bahwa kami memiliki peran yang setara sebagai sesama manusia. Karena itu, kami ingin perempuan ikut bergerak mengurus pengelolaan sampah di Desa Muara Pantuan, agar anak cucu kita bisa menikmati lingkungan yang layak dan bersih,” terang Rahmi sebagai panggilan akrab dari Nur Rahimah.

Walaupun pelatihan WFS berlangsung singkat, semangat para peserta tidak berhenti di situ. Mereka berinisiatif mengembangkan praktik pengelolaan sampah secara mandiri, buah atas kesadaran bahwa lingkungan yang bersih dan terkelola dengan baik berpengaruh langsung pada kelestarian mangrove. Sampah yang dikelola dengan baik mencegah pencemaran dan menjaga kualitas air, mendukung agar ekosistem pesisir tetap sehat.

Dampak WFS semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Tidak saja berdampak pada Rahmi, juga pada perempuan di Desa Muara Pantuan. Mereka menjadi lebih percaya diri, mampu memimpin kegiatan, dan berperan dalam pengambilan keputusan lingkungan desa. Masyarakat pun mulai terbiasa melibatkan perempuan dalam berbagai kegiatan.

Kini, Desa Muara Pantuan melihat hasil nyata dari perempuan yang bergerak: kesadaran masyarakat meningkat, pola kerja sama keluarga dan komunitas lebih setara, serta mangrove tetap terjaga sebagai sumber kehidupan masyarakat desa. 

Kisah kelompok WFS ini menunjukkan bahwa ketika perempuan diberdayakan, perubahan kecil dapat memicu dampak besar—memperkuat peran perempuan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan menjaga keberlanjutan lingkungan untuk masa depan.

Kredit
Kisah ini berdasarkan dokumentasi lapangan NASCLIM dari Desa Muara Pantuan, Kalimantan Timur, disusun oleh Nor Hayati