Ketika El Niño Mengubah Nasib Predator Lahan Basah
Fenomena El Niño mengancam kelangsungan hidup buaya yang bergantung pada ekosistem lahan basah. Peningkatan suhu dan kekeringan dapat mengganggu fungsi fisiologis, ketersediaan pakan, serta keberhasilan reproduksi, sehingga berpotensi menurunkan populasi dan meningkatkan risiko kematian buaya di alam.

Fenomena El Niño yang tengah terjadi di wilayah tropis seperti di Indonesia tidak saja berdampak bagi manusia, satwa liar ikut berdampak, salah satunya pada buaya.
Buaya sangat terikat hidupnya dengan ekosistem lahan basah. Habitatnya yaitu di sungai, kanal air, hutan mangrove, hingga pesisir pantai. Di Indonesia terdapat empat jenis buaya yang dilindungi oleh pemerintah berdasarkan Permen LHK P.106/2018 yaitu buaya irian (Crocodylus novaeguineae), buaya muara (Crocodylus porosus), buaya siam (Crocodylus siamensis), dan buaya senyulong (Tomistoma schlegelii).
Secara tidak langsung fenomena El Niño dapat memengaruhi fungsi fisiologis, tingkat kelangsungan hidup, dan keberhasilan reproduksi buaya.
Kita tahu bahwa buaya sering disebut fosil hidup. Hal ini dikarenakan perubahan morfologi buaya sejak 200-240 juta tahun yang lalu hingga saat ini relatif kecil. Artinya bahwa bentuk tengkorak, susuran gigi, hingga postur semi-akuatik dari buaya tetap dipertahankan sejak dulu dan perubahannya tidak sedrastis kelompok burung maupun mamalia.
Bagi buaya, berjemur bukan sekadar kebiasaan, melainkan kebutuhan penting untuk bertahan hidup. Kebiasaan ini sangat mendukung fungsi fisiologis sebagai hewan ektotermik (berdarah dingin). Buaya memanfaatkan panas matahari untuk mengatur suhu tubuhnya. Suhu tubuh yang optimal memungkinkan metabolisme, aktivitas berburu, dan pencernaan berjalan dengan baik.
Bisa dibayangkan apabila terjadi fenomena El Niño yang berkepanjangan maka hewan-hewan yang berdarah dingin seperti kelompok reptil, amfibi, ikan, dan invertebrata lainnya termasuk buaya akan sangat rentan. Fenomena El Niño akan meningkatkan suhu permukaan air termasuk suhu di sekitar habitat lahan basah dari kelompok hewan ektoterm. Kondisi ini menjadikan kelompok hewan ektoterm kesulitan menemukan lokasi yang ideal untuk mendinginkan suhu tubuhnya. Apabila dalam jangka panjang suhu semakin meningkat dan lokasi yang cocok untuk mendinginkan suhu tubuh tidak dapat ditemukan maka akan rentan mengalami kematian massal.
Dampak El Niño juga dapat mempengaruhi kelangsungan hidup buaya apabila dilihat dari segi ketersediaan makanan. El Niño menyebabkan peningkatan suhu serta perubahan pola curah hujan yang sering kali memicu kekeringan di wilayah tropis. Kondisi ini berdampak pada ketersediaan produsen (tumbuhan air dan darat) yang menjadi dasar rantai makanan. Penurunan ini kemudian berimbas pada berkurangnya populasi mangsa seperti ikan, amfibi, dan mamalia kecil yang menjadi sumber makanan bagi buaya. Sebagai predator puncak dinamika tersebut bisa mengubah kelimpahan dan kerentanan jejaring makanan. Dalam kondisi ekstrem, kelangkaan makanan dapat menyebabkan penurunan kondisi tubuh, gangguan reproduksi, hingga peningkatan mortalitas individu buaya.
Keberlangsungan reproduksi buaya secara alami juga dapat terganggu. Perubahan suhu yang terjadi dapat berpengaruh pada rasio seks (jenis kelamin) buaya yang akan menetas. Misalkan telur buaya dihasilkan dari rasio seks jantan dan betina 1:1, ketika ada perubahan suhu lingkungan dan di dalam sarang membuat rasio jantan dan betina menjadi 1:4. Dalam dunia reptil kasus itu sering disebut TSD (Temperature-dependent sex determination) yaitu proses perubahan kromosom seks akibat temperatur ketika telur berada pada fase inkubasi (pengeraman) sebelum menetas.
Bisa dibayangkan apabila El Niño terjadi berpanjangan. Bisa jadi dalam satu waktu jumlah buaya dengan jenis kelamin jantan atau betina di suatu lokasi akan melimpah. Rasio seks yang tidak seimbang menjadikan buaya rentan terhadap penurunan populasi karena meningkatnya persaingan mencari pasangan saat musim berbiak.
Penelitian yang dipimpin oleh Stacey Lance mengungkapkan bahwa sebanyak 70% buaya betina berkembang biak dari pejantan yang sama sejak 1997 hingga 2005 bahkan mungkin hingga saat ini. Kasus tersebut menunjukkan bahwa buaya sangat terikat dengan pasangannya. Dapat kita bayangkan apabila El Niño berkepanjangan terjadi, akan ada perubahan seks rasio dalam populasi buaya.
Kita perlu menyadari bahwa perubahan iklim, termasuk fenomena El Niño, tidak hanya dipengaruhi oleh proses alam, tetapi juga diperparah oleh aktivitas manusia. Alam memiliki kemampuan untuk menjaga keseimbangannya, tetapi kerusakan terjadi ketika manusia mengabaikan tanggung jawab untuk mengelola lingkungan secara bijaksana. Kondisi ini turut memengaruhi keberlangsungan hidup buaya dan satwa liar lainnya yang bergantung pada ekosistem lahan basah. Oleh karena itu, menjaga kelestarian lahan basah merupakan tanggung jawab bersama untuk mencegah semakin parahnya kerusakan ekosistem dan meningkatnya risiko kepunahan satwa liar di alam.
Oleh: Yaumud Raiyardhi