Keberhasilan Pertanian Hidroponik Menandakan Meningkatnya Keyakinan di Kalangan Perempuan Pesisir di Kalimantan Utara
Halbatia awalnya ragu apakah pakcoi itu akan bertahan hidup. Rumah kaca tersebut masih baru, sistem hidroponiknya belum dikenal dengan baik, dan kelompoknya masih harus banyak belajar. Namun, pada pertengahan Juni, Halbatia berhasil memanen sayuran berdaun segar ini untuk ketiga kalinya: 22 ikat, bersih dan siap disajikan di meja makan atau dijual di pasar.
Saat memanen pakcoi dan sebelum melanjutkan ke tahap penyortiran, pembersihan, dan pengemasan untuk dijual, Halbatia merenungkan proses ini sebagai cara baru dalam bertani.
“Setiap panen mengajarkan kami sesuatu yang baru,” kata Halbatia. “Mulai dari cara merawat tanaman hingga menyiapkan hasil panen untuk dijual. Pekerjaan ini membuat kami semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha hidroponik kami ke depannya.”
Halbatia pertama kali diperkenalkan dengan pertanian hidroponik saat ia bergabung dengan inisiatif pengembangan kapasitas di desanya, Sekatak Bengara, Kalimantan Utara, bersama kelompok-kelompok perempuan lain di lingkungannya. Inisiatif ini, yang merupakan bagian dari proyek Nature-Based Solutions for Climate Smart Livelihoods in Mangrove Landscapes (NASCLIM), bertujuan untuk mendukung kelompok tersebut dengan cara-cara kreatif guna mendiversifikasi pendapatan mereka.

Penghidupan masyarakat pesisir di Kalimantan Utara telah lama bergantung pada penangkapan ikan dan pengelolaan tambak, termasuk mengolah hasil tangkapan mereka menjadi produk pangan yang dapat dipasarkan. Namun, pembukaan tambak juga berkontribusi signifikan terhadap hilangnya hutan mangrove, karena tambak sering kali dibangun melintasi sabuk mangrove pesisir. Di sisi lain, mangrove yang sehat justru dapat menjadi habitat alami ikan dan biota laut lainnya, yang dapat meningkatkan produktivitas tambak.
NASCLIM, sebuah proyek kolaboratif antara Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur, Global Green Growth Institute (GGGI), dan Wetlands International, bekerja sama dengan masyarakat pesisir di Kalimantan Utara untuk membangun mata pencaharian yang berkelanjutan sebagai insentif untuk melindungi dan merehabilitasi hutan mangrove yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Ide ini sederhana: ketika masyarakat memiliki kepentingan ekonomi yang nyata dalam ekosistem yang sehat, konservasi menjadi sesuatu yang mereka pilih sendiri, bukan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka.

Pertanian hidroponik yang hemat lahan, bebas bahan kimia, dan cocok untuk lingkungan pesisir yang lembap, merupakan salah satu cara untuk membangun kepentingan tersebut. Inisiatif pertanian hidroponik ini juga berfungsi sebagai sumber pendapatan alternatif yang inovatif selain budidaya ikan dan udang di kawasan mangrove. Inisiatif ini menjaga ketahanan pangan di kalangan masyarakat, mengembangkan keterampilan komunitas, serta menciptakan peluang ekonomi baru yang berakar pada potensi lokal.
Fasilitator tim, Nur Afdalia, telah menyaksikan kepercayaan diri itu tumbuh seiring dengan tanaman-tanaman tersebut. Tujuannya sejak awal adalah agar kelompok tersebut menguasai seluruh proses, tidak hanya penanaman, tetapi juga bisnis di baliknya.
“Panen ketiga ini menunjukkan bahwa kelompok ini semakin mampu mengelola segala sesuatunya secara mandiri,” katanya. “Kami berharap produksi terus meningkat, dan hal ini terus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi para anggotanya.”
Kelompok hidroponik Sekatak Bengara sedang dalam perjalanan untuk menjadi teladan tentang apa yang bisa dicapai ketika masyarakat memiliki keterampilan, dukungan, dan alasan untuk berinvestasi pada tanah dan air mereka sendiri.