Jejak Baru Pak Marwan dan Pilihan Sulit di Pesisir Desa Liagu
Bagi Pak Marwan (45), aroma asap kayu bakau yang terbakar bukan sekadar bau menyengat, melainkan aroma keberlangsungan hidup. Selama puluhan tahun, sejak tenaganya masih kuat di masa muda, ia telah melakoni peran sebagai pembuat arang. Peran tersebut merupakan warisan turun-temurun, sebuah keterampilan yang dipelajari dari nenek moyangnya demi menyambung hidup di Desa Liagu.
Setiap bulan, Pak Marwan bersama tiga rekannya bergelut dengan panasnya tungku untuk memproduksi sekitar 1.000 karung arang. Skala produksinya terhitung cukup besar karena untuk menghasilkan 200 karung arang saja, mereka harus menebang sekitar 10 hingga 15 batang pohon Rhizophora besar. Arang-arang itu kemudian dijual seharga Rp25.000 per karung. Namun, angka tersebut bukanlah keuntungan bersih. Setelah dikurangi biaya operasional yang tidak sedikit dan dibagi berempat, sisa uangnya harus diputar otak sedemikian rupa agar cukup untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah keempat anaknya.

Pak Marwan sebenarnya tidak buta akan alam. Ia dan kawan-kawannya memiliki aturan tak tertulis bahwa setiap satu pohon yang ditumbang, sepuluh bibit harus ditanam kembali. Namun, ia menyadari upaya itu hanyalah balutan kecil bagi luka besar yang dialami hutan mangrove Liagu. Seiring berjalannya waktu, benteng hijau itu kian menipis bukan hanya karena tungku arang, tapi juga karena masifnya alih fungsi lahan menjadi tambak-tambak ikan yang kini banyak berjajaran di wilayah desa Liagu.
Benturan Realita dan Pengetahuan
Kegelisahan Pak Marwan memuncak saat tambak ikan miliknya sendiri mulai gagal. Air yang keruh dan produktivitas yang terus merosot membuatnya tersudut secara ekonomi. Kondisi inilah yang membawanya bertemu dengan kelompok Liagu Lestari Barokah dan mengenal program NASCLIM.
Awalnya, Pak Marwan datang dengan ragu-ragu, hanya berharap ada bantuan untuk tambaknya. Namun, melalui proses sosialisasi dan Sekolah Lapang Tambak, ia mendapatkan tamparan realitas yang tak terduga. Pak Marwan mulai memahami bahwa kegagalan tambak dan menipisnya tangkapan nelayan adalah akibat dari hilangnya ekosistem mangrove yang sehat.
Melalui kegiatan yang didukung oleh NASCLIM, Pak Marwan belajar cara-cara yang lebih berkelanjutan, seperti memproduksi MOL (Mikro Organisme Lokal) untuk memperbaiki kualitas air tambak tanpa kimia berbahaya guna meningkatkan produktivitas tambak yang lebih ramah lingkungan. Ia mulai mengerti bahwa mangrove bukan sekadar kayu bakar, melainkan turut berperan sebagai rahim bagi kepiting juga tempat bertelur biota laut. Lebih lanjut, peran krusialnya terletak melalui bagaimana mangrove menjadi pelindung terakhir ketika badai dan gelombang besar datang menghantam pemukiman warga desa.”
Transisi yang Tidak Mudah
“Saya menyadari sekarang, [bahwa] membuat arang dari bakau selama puluhan tahun ini sebenarnya adalah cara hidup yang keliru bagi alam kita.” tutur Pak Marwan dengan nada suara yang lebih berat.
Namun, Pak Marwan bersikap realistis. Mengubah mata pencaharian tidak bisa dilakukan dalam semalam. Saat ini, ia sedang meniti jalan sulit untuk beralih profesi. Pilihannya jatuh pada pembuatan rumpon ikan–sebuah metode untuk mengundang ikan datang ke titik pemancingan yang lebih ramah lingkungan.


Ia mulai menyisihkan sisa hasil arangnya sedikit demi sedikit untuk membeli peralatan rumpon. “Barang-barangnya saya cicil satu per satu. Kalau sudah terkumpul semua, segera saya rakit dan pasang di sungai Desa Liagu.” katanya sambil menunjukkan beberapa peralatan yang sudah terbeli.
Bagi Pak Marwan, situasi saat ini bagaikan perlombaan dengan waktu. Ia ingin segera memadamkan api di tungku arang untuk selamanya sebelum hutan itu benar-benar habis. Harapannya sederhana namun mendalam; mengenai keinginannya agar masyarakat Liagu berhenti melihat mangrove sebagai komoditas singkat. Sudah saatnya masyarakat turut menilai mangrove sebagai warisan yang harus utuh agar apesisir–bukan sekadar sisa arang yang menghitam.
Oleh :