Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan
Di Desa Muara Pantuan, sebuah perubahan dalam usaha ekonomi lahir dari langkah seorang perempuan perantau. Suriani, perempuan suku Bugis yang meninggalkan kampung halamannya di usia 38 tahun, datang membawa harapan sederhana: membangun kehidupan yang lebih baik.
Suriani, salah satu anggota komunitas Coastal Smart Livelihood (CSL) Muara Pantuan memiliki usaha untuk membuat kerupuk udang. Udang yang didapat berasal dari pasar yang dikelola secara sederhana dengan metode produksi yang seadanya, yaitu adonan yang telah diolah akan direbus kurang lebih selama satu jam, kemudian diangin-anginkan sampai dingin dan didiamkan semalaman di kulkas agar adonan mengeras sehingga memudahkan proses pemotongan. Kemudian dijemur satu persatu di bawah sinar matahari selama dua hari- jika cuaca cerah dan dimasukkan kemasan sesuai ukuran (250 gram, 500 gram, dan 1000 gram), serta pemasaran yang dilakukan melalui verbal dan sosial media (facebook dan WhatsApp) untuk menginfokan ketersediaan produk.

Pelatihan pengembangan usaha diikuti Suriani pada 15 Juni 2025 melalui program Nature-Based for Climate Solutions in Mangrove Landscapes (NASCLIM), diselenggarakan oleh Global Green Growth Institute (GGGI) dan Wetlands International, membuka wawasan sekaligus meningkatkan keterampilannya dalam mengembangkan usaha kerupuk udang yang lebih sehat dan berkelanjutan. Melalui pelatihan tersebut, ia mempelajari pentingnya membangun kolaborasi di sepanjang rantai usaha, mulai dari penggunaan bahan baku lokal yang berasal dari tambak ramah lingkungan hingga strategi pemasaran produk.

Satu setengah bulan setelah mengikuti pelatihan, kelompok tersebut mulai mampu memproduksi 10 kilogram kerupuk udang setiap dua minggu tanpa menggunakan MSG maupun pewarna buatan. Perubahan ini menjadi langkah penting dibandingkan dengan praktik produksi sebelumnya yang masih mengandalkan kedua bahan tersebut. Bagi kelompok usaha kecil di desa, inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga menjadi titik balik dalam mewujudkan usaha yang mendukung kesejahteraan ekonomi sekaligus kesehatan masyarakat.
Mereka juga tengah mengembangkan strategi rantai usaha yang terintegrasi dengan kelompok masyarakat lainnya yang ada di desa. Rencananya, kelompok Coastal Field School (CFS) akan berperan sebagai pemasok udang dari tambak yang ramah lingkungan, kelompok usaha produksi Climate-Smart Livelihood (CSL) sebagai pengolah produk kerupuk siap jual, dan kelompok Women Field School (WFS) sebagai tim pemasaran lokal dan digital.
Bagian paling menyentuh ialah mengenai bagaimana masyarakat kini mulai memahami nilai ekosistem mangrove. Dahulu dianggap mengganggu pengelolaan tambak, kini mangrove dipandang sebagai sahabat produktivitas tambak yang menjaga kualitas air dan menyediakan habitat udang alami dalam mendukung keberlanjutan usaha budidaya tambak. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan hubungan timbal balik antara kelestarian mangrove dan kesejahteraan masyarakat, beberapa anggota kelompok bahkan menjadi lebih aktif dalam upaya perlindungan hutan mangrove di desanya.

Di bawah kepemimpinannya, dengan dukungan pemerintah desa dan pemerintah daerah terkait, Suriani dan kelompoknya mulai mengembangkan usaha kerupuk udangnya secara lebih profesional. Mereka sudah merancang rumah produksi yang memenuhi standar produksi yang sehat, mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan tepat sasaran, serta mulai melakukan pencatatan administrasi usaha yang lebih rapi. Terobosan tersebut menjadi tonggak sejarah perubahan dalam kepemimpinan Suriani, dari seorang perantau menjadi penggerak usaha kelompok perempuan desa, dari produksi usaha tradisional menuju usaha yang berkelanjutan, yang memberdayakan masyarakat desa secara luas dan melestarikan ekosistem mangrove desa.

Selain peningkatan pemberdayaan kelompok perempuan dan pembangunan ekonomi lokal, Desa Muara Pantuan kini menerima perhatian yang tulus dari masyarakatnya dalam hal pelestarian ekosistem mangrove. Kisah Ibu Suriani membuktikan bahwa langkah kecil, jika diiringi tekad dan komitmen untuk maju bersama, mampu memantik perubahan besar yang menyentuh banyak aspek kehidupan masyarakat.
Kredit
Kisah ini berdasarkan dokumentasi lapangan NASCLIM dari Desa Muara Pantuan, Kalimantan Timur, disusun oleh Nor Hayati.