Bukan Hanya Tambak yang Pulih, Semangat Petambak Ikut Bangkita
Saya tidak akan menggunakan racun lagi karena saya ingin mengembalikan tambak ke kondisi alaminya,” kata Arifin.

Arifin (52 tahun) adalah seorang petani tambak dari Sekatak Buji yang tetap bertahan mengelola tambaknya, meski budi daya perikanan setempat menghadapi banyak tantangan. Dahulu, hampir 40 persen warga Sekatak Buji menggantungkan hidup dari usaha tambak. Namun, seiring menurunnya hasil panen, banyak petani tambak akhirnya menjual tambaknya kepada orang luar terutama dari Tarakan.
Tahun 2024 menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah mengikuti Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainers/ToT) dalam program NASCLIM yang diselenggarakan oleh Global Green Growth Institute dan Wetlands International Indonesia, ia mulai memahami pentingnya mangrove bagi lingkungan dan budidaya perikanan. Dalam pelatihan itu, ia juga belajar tentang Mikroorganisme Lokal (MoL) dan dampak penggunaan bahan kimia berlebihan di tambak.
Selama ini, racun dianggap sebagai solusi cepat untuk mengatasi hama di tambak. Namun, ia menyadari cara tersebut justru merusak tanah tambak, membunuh mikroorganisme bermanfaat, serta menurunkan kualitas air dan tanah tambak. Ia juga memhami bahwa residu kimia dari tambak dapat merusak ekosistem mangrove di sekitarnya, padahal mangrove memiliki peran penting dalam menjaga kualitas air dan melindungi pesisir.
Ia pun mengambil keputusan besar untuk mengembalikan kondisi tambak ke kondisi alaminya.
Keputusan ini bukan sekadar perubahan teknis, tapi juga perubahan cara pandang. Ia mulai melihat tambak dan mangrove sebagai satu sistem yang saling terhubung. Setelah pelatihan, ia mulai merenungkan kondisi lingkungan tambak dari waktu ke waktu. Dulu, saat mangrove masih lebat, hasil budidaya melimpah tanpa racun. Namun, seiring meningkatnya penggunaan bahan kimia dan pembukaan tambak, tutupan mangrove berkurang dan hasil panen menurun drastis. Dari pengalaman itulah, ia menyadari bahwa tambak yang sehat tidak bisa dipisahkan dari mangrove yang terjaga.
Seusai pelatihan, ia kembali bekerja di tambak. Saat beristirahat di pinggir tambak, ia sering berdiskusi bersama keluarga dan petambak lain tentang pemulihan tambak tanpa racun. Dalam pertemuan bulanan, ia tetap mengingatkan akibat buruk penggunaan racun dan mulai memperkenalkan pembuatan limbah cair hasil fermentasi ramah lingkungan untuk meningkatkan kesuburan tambak.
Kini, Pak Arifin dipercaya sebagai Ketua kelompok Sekolah Lapang Pesisir Buji Cebaloi Mandiri, yang dibentuk pada 29 Mei 2025. Bersama anggota kelompok lainnya, ia mendukung upaya pemulihan mangrove di sekitar area tambak. Ia percaya bahwa ketika mangrove kembali tumbuh, kualitas lingkungan tambak pun akan membaik—kualitas air menjadi lebih stabil, biota laut akan kembali, dan risiko abrasi pantai dapat berkurang.
Beberapa bulan lalu, ketika program NASCLIM, yang dilaksanakan oleh GGGI dan Wetlands International Indonesia, mengadakan Sekolah Lapang Pesisir untuk kelompoknya, Arifin melihat peluang baru bukan hanya untuk tambaknya, tetapi juga untuk keluarganya. Dalam kegiatan tersebut, dua anaknya menjadi peserta belajar tentang pengelolaan tambak berkelanjutan dan peran mangrove sebagai pelindung pantai alami.
Salah satu anaknya, Mardiansyah (21 tahun), yang akrab dipanggil Mahdi ikut serta. Mahdi adalah anak ke ketiga dari lima bersaudara dan memiliki kebutuhan khusus. Ia merupakan penyandang tuna wicara dan putus sekolah, namun gemar belajar melalui ponsel pintarnya.
Selama dua bulan terakhir, Mahdi mulai membantu orang tuanya di tambak—mencari kepiting dan memasang perangkap kepiting. Tangannya kini sudah terbiasa dengan lumpur dan langkahnya sudah akrab dengan rutinitas harian pekerjaan tambak. Dalam kehidupan sehari-hari, ia berkomunikasi melalui WhatsApp. Ia membaca dengan cermat, menulis dengan hati-hati, dan memahami instruksi tanpa perlu banyak pengulangan.
Meskipun belum terdaftar sebagai anggota resmi kelompok, Mahdi sangat antusias mengikuti kegiatan kelompok. Ia rutin hadir, bahkan terkadang sampai datang ke rumah fasilitator desa hanya untuk bertanya kapan kegiatan berikutnya akan diadakan. Pertanyaan sederhana itu menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh ingin menjadi bagian dari proses ini.
Di Sekolah Lapang Pesisir, Mahdi mengikuti setiap sesi dengan serius. Hasil pre-test dan post-test-nya berada di atas rata-rata anggota lainnya. Banyak yang terkejut, namun bagi ayahnya, ini adalah momen yang diam-diam menghangatkan hati.
Kemampuannya juga tampak dalam pelatihan literasi keuangan. Ia mengisi buku kas harian dengan teliti dan meraih nilai tertinggi kedua. Ia mungkin tidak banyak bicara, tetapi pekerjaannya rapi dan tepat.
Bagi Arifin, melihat Mahdi belajar dan berkembang memberi makna baru pada perubahan yang ia mulai. Pemulihan mangrove dan perbaikan tambak adalah tentang memulihkan alam. Namun, memberi ruang bagi Mahdi untuk terlibat adalah tentang memulihkan kepercayaan diri.
Kini, yang akan ia wariskan bukan lagi tambak yang terkuras akibat penggunaan racun, melainkan tanah yang sedang dipulihkan. Dan bukan hanya tambak yang ia persiapkan untuk masa depan, tetapi juga ruang bagi putranya untuk tumbuh dan percaya pada diri sendiri.
Arifin berharap, perubahan ini tidak saja terjadi hanya pada keluarganya, namun juga menginspirasi petambak lain untuk mengelola tambak secara lestari.
Oleh: Urip Triyanto