Straight to content

Biopolitik dan Lahan Basah, Ketika Politik Menyentuh Nadi Kehidupan

Published on:

Suatu pagi di sebuah desa pesisir, seorang nelayan mengayuh perahunya perlahan di sungai tepian mangrove. Air masih tenang, burung-burung air melintas rendah, dan cahaya matahari memantul di permukaan air payau. Bagi orang luar, pemandangan ini mungkin hanya terlihat sebagai lanskap alam yang indah. Namun bagi masyarakat yang hidup di sana, lahan basah adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, dimana lahan basah adalah sumber ikan, pelindung dari badai, penyaring air, penopang kehidupan sehari-hari dan jasa ekosistem lainnya.

Biopolitik memperbincangkan hubungan manusia dengan spesies lainnya (Foto: Yus Rusila Noor)

Jarang kita sadari bahwa nasib ekosistem seperti ini tidak hanya ditentukan oleh proses alam, tetapi juga ditentukan oleh keputusan manusia, berupa kebijakan, aturan, dan pilihan pembangunan. Di sinilah kita memasuki sebuah konsep yang mungkin terdengar akademis, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu biopolitik.

Istilah biopolitik dipopulerkan oleh filsuf Prancis Michel Foucault pada dekade 1970-an. Ia menggunakan istilah ini untuk menjelaskan bagaimana negara modern mengatur kehidupan manusia, bukan hanya melalui hukum atau kekuasaan, tetapi melalui pengelolaan berbagai aspek yang menopang kehidupan itu sendiri. Kesehatan masyarakat, demografi, sanitasi, pangan, hingga kebijakan lingkungan menjadi bagian dari cara negara mengelola kehidupan.

Jika geopolitik berbicara tentang perebutan ruang dan wilayah, biopolitik berbicara tentang pengelolaan kehidupan. Ketika kita mulai melihat hubungan antara manusia dan alam, konsep ini menemukan maknanya yang sangat nyata.

Lahan basah merupakan salah satu contoh paling jelas bagaimana kehidupan manusia dan ekosistem saling terkait. Dalam kerangka kerja global seperti Ramsar Convention on Wetlands, lahan basah dipahami sebagai ekosistem yang memainkan peran vital bagi keberlangsungan kehidupan di bumi. Rawa, gambut, delta, dan mangrove bukan sekadar bentang alam yang tergenang air. Mereka adalah sistem ekologis yang menyediakan air bersih, pangan, perlindungan dari bencana, dan habitat bagi keanekaragaman hayati. Namun karena fungsi-fungsi tersebut sangat penting bagi kehidupan manusia, pengelolaan lahan basah selalu melibatkan pilihan politik.

Ambil contoh kawasan gambut di Indonesia. Kerap lahan gambut dianggap sebagai “lahan kosong” yang bisa dikeringkan untuk perkebunan atau pertanian skala besar. Kebijakan pembangunan mendorong pembukaan kanal, pengeringan tanah, dan konversi lahan secara luas. Dalam jangka pendek, kebijakan ini menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan ekspansi produksi. Namun dalam jangka panjang, kita mulai melihat dampaknya berupa kebakaran gambut yang masif, asap lintas batas, emisi karbon yang tinggi, serta kerugian kesehatan dan ekonomi yang sangat besar, seringkali lebih besar dari pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Ketika pemerintah kemudian memutuskan untuk melakukan restorasi gambut, menutup kanal, membasahi kembali tanah, dan melindungi kawasan tertentu; keputusan ini sebenarnya merupakan contoh nyata dari biopolitik. Negara menggunakan kebijakan lingkungan untuk melindungi kehidupan manusia dalam bentuk mengurangi kebakaran, menjaga kesehatan masyarakat, dan menstabilkan iklim.

Hal yang sama dapat dilihat pada ekosistem mangrove. Di banyak wilayah pesisir tropis, mangrove dahulu ditebang untuk membuka tambak atau kawasan industri. Pada saat itu, pilihan tersebut tampak rasional dari sudut pandang ekonomi. Namun beberapa dekade kemudian, kita menyadari bahwa hilangnya mangrove membuat garis pantai lebih rentan terhadap abrasi, badai dan penurunan kualitas lingkungan secara umum.

Kini, banyak negara justru berinvestasi besar dalam restorasi mangrove. Mereka menanam kembali pohon, memperbaiki tata kelola pesisir, dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaannya. Restorasi ini bukan hanya upaya konservasi alam. Ia adalah upaya melindungi desa-desa pesisir, menjaga sumber penghidupan nelayan, dan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim. Dengan kata lain, ia adalah bentuk politik untuk melindungi kehidupan.

Melihat lahan basah melalui lensa biopolitik membantu kita memahami satu hal penting, yaitu keputusan tentang alam tidak pernah sepenuhnya netral. Setiap kebijakan tentang lahan, air, atau ekosistem selalu membawa konsekuensi bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ketika sebuah rawa dikeringkan untuk pembangunan kota, misalnya, kita mungkin memperoleh lahan baru untuk perumahan atau industri. Namun kita juga kehilangan fungsi alami yang sebelumnya menyerap banjir. Akibatnya, kota menjadi lebih rentan terhadap genangan air. Ketika mangrove ditebang, mungkin ada keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi perlindungan alami terhadap badai dan abrasi juga ikut hilang.

Biopolitik mengajak kita untuk melihat hubungan sebab-akibat ini dengan lebih jernih. Ia mengingatkan bahwa ekosistem bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia, melainkan fondasi yang menopang kehidupan itu sendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemikiran ini berkembang lebih jauh. Para ilmuwan dan filsuf mulai berbicara tentang politik yang tidak hanya mempertimbangkan manusia, tetapi juga kehidupan non-manusia. Filsuf seperti Bruno Latour mengusulkan bahwa dunia modern perlu mengakui bahwa manusia hidup dalam jaringan kehidupan yang lebih luas, bersama hutan, sungai, tanah, dan spesies lainnya.

Dalam perspektif ini, lahan basah menjadi salah satu ruang di mana kita dapat melihat keterhubungan tersebut secara nyata. Di sebuah delta sungai, misalnya, kehidupan manusia bergantung pada siklus air, kesuburan tanah, migrasi ikan, dan kesehatan vegetasi. Ketika salah satu elemen terganggu, seluruh sistem kehidupan dapat berubah.

Namun memahami hubungan ini tidak berarti kita harus melihat masa depan dengan pesimisme. Justru sebaliknya. Kesadaran biopolitik dapat menjadi dasar untuk membangun kebijakan yang lebih bijaksana dan berkelanjutan.

Di berbagai belahan dunia, kita mulai melihat contoh-contoh yang memberi harapan. Banyak kota kini memulihkan rawa dan danau alami sebagai bagian dari strategi pengendalian banjir. Program restorasi mangrove semakin luas melibatkan masyarakat lokal sebagai penjaga ekosistem. Pendekatan berbasis alam, yang sering disebut nature-based solutions, menjadi bagian penting dari kebijakan iklim dan pembangunan.

Perubahan ini menunjukkan bahwa cara kita memandang lahan basah juga sedang berubah. Jika dahulu wetlands sering dianggap sebagai lahan tak produktif, kini semakin banyak orang memahami bahwa mereka adalah infrastruktur kehidupan yang sangat berharga.

Di sinilah peran masyarakat menjadi penting. Biopolitik tidak hanya terjadi di ruang rapat pemerintah atau forum internasional. Ia juga terjadi dalam pilihan sehari-hari masyarakat, tentang bagaimana kita menggunakan air, memperlakukan pesisir dan sungai, serta bagaimana kita mendukung kebijakan yang melindungi ekosistem.

Masyarakat yang memahami nilai lahan basah cenderung lebih kritis terhadap pembangunan yang merusak lingkungan. Namun kritik tidak harus selalu berwajah konfrontatif. Ia bisa hadir dalam bentuk partisipasi, dialog, dan keterlibatan dalam solusi.

Ketika masyarakat lokal dilibatkan dalam pengelolaan mangrove, misalnya, mereka tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga penjaga ekosistem. Ketika kota merancang ruang terbuka yang memulihkan fungsi rawa alami, warga tidak hanya mendapatkan perlindungan dari banjir, tetapi juga ruang hidup yang lebih sehat.

Pada akhirnya, biopolitik mengingatkan kita bahwa masa depan kehidupan di bumi tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau pertumbuhan ekonomi. Ia juga ditentukan oleh bagaimana kita membuat keputusan tentang alam yang menopang kehidupan tersebut.

Lahan basah mungkin tampak tenang dan sederhana dari kejauhan, hamparan air, rumput, dan pepohonan. Namun di balik ketenangannya, mereka menyimpan dinamika kehidupan yang luar biasa. Air yang mengalir, tanah yang menyimpan karbon, ikan yang bermigrasi, burung yang singgah dalam perjalanan panjangnya, semuanya membentuk jaringan kehidupan yang kompleks.

Ketika kita melindungi lahan basah, kita sebenarnya sedang melindungi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar ekosistem. Kita sedang melindungi kemungkinan masa depan, masa depan desa pesisir, masa depan ketahanan pangan, masa depan stabilitas iklim, dan pada akhirnya masa depan kehidupan manusia itu sendiri.

Di titik inilah biopolitik menemukan makna yang paling dalam. Ia bukan sekadar teori tentang kekuasaan, melainkan pengingat bahwa setiap keputusan tentang alam adalah keputusan tentang kehidupan. Di tengah krisis lingkungan global yang kita hadapi hari ini, pilihan untuk merawat lahan basah bisa menjadi salah satu cara paling bijaksana untuk memastikan bahwa kehidupan itu terus berlanjut.

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Biopolitik dan Lahan Basah, Ketika Politik Menyentuh Nadi Kehidupan”,


https://www.kompasiana.com/ecodien/69aa9e1cc925c474e45ce1f2/biopolitik-dan-lahan-basah-ketika-politik-menyentuh-nadi-kehidupan?page=3&page_images=1

Kreator :

Yus Rusila Noor

Head of Office