Ancaman Nyata El Niño bagi Petambak di Indonesia
El Niño, menjadi ancaman nyata bagi petambak Indonesia. Meningkatnya suhu dan salinitas air tambak, mengganggu pertumbuhan udang, serta memperbesar risiko penyakit dan kematian. Akibatnya, produktivitas menurun, biaya produksi meningkat, dan risiko gagal panen semakin besar sehingga diperlukan pengelolaan tambak yang adaptif.

Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Bagi petambak di Indonesia, dampaknya sudah terasa langsung di lapangan—terutama melalui fenomena El Niño. Namun, kondisi yang terjadi belakangan ini bukan El Niño biasa. Para peneliti menyebutnya sebagai Godzilla El Niño, sebuah istilah untuk menggambarkan El Niño dengan kekuatan jauh lebih besar dan dampak yang lebih ekstrem.
Di Indonesia, dampaknya cukup jelas: hujan akan berkurang, bila terjadi hujan akan sangat ekstrim. Kemarau lebih panjang dan kering.
Bagi petambak, perubahan cuaca bukan hanya soal panas atau hujan. Ini langsung berkaitan dengan kualitas air tambak yang menjadi faktor utama dalam keberhasilan budidaya.
Salah satu dampak paling terasa adalah kenaikan suhu air tambak udang windu. Suhu ideal yang dibutuhkan berkisar 26–32°C. Saat suhu meningkat, udang menjadi lebih sensitif terhadap racun alami di air, seperti yang dihasilkan oleh alga biru-hijau (blue-green algae/BGA), dan kondisi ini dapat meningkatkan risiko kematian. Selain itu, metabolisme udang juga meningkat seiring kenaikan suhu. Pada awalnya, nafsu makan udang memang dapat meningkat, sehingga petambak cenderung memberikan pakan lebih banyak.
Namun, peningkatan konsumsi pakan tidak selalu diikuti oleh peningkatan pertumbuhan yang sebanding. Pada suhu yang terlalu tinggi, udang membutuhkan lebih banyak energi untuk mempertahankan fungsi tubuh dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang kurang optimal. Akibatnya, sebagian energi dari pakan digunakan untuk bertahan hidup (maintenance energy), bukan untuk pertumbuhan. Selain itu, suhu tinggi dapat menurunkan kadar oksigen terlarut di air sehingga proses pencernaan dan pemanfaatan nutrisi menjadi kurang efisien. Kondisi ini menyebabkan sebagian pakan tidak termanfaatkan secara optimal dan akhirnya menjadi limbah di dasar tambak.
Kenaikan suhu tidak hanya membuat udang makan lebih banyak, tetapi juga menurunkan efisiensi pemanfaatan pakan. Pada tambak intensif, kondisi ini menyebabkan nilai Feed Conversion Ratio (FCR) meningkat karena lebih banyak pakan dibutuhkan untuk menghasilkan pertumbuhan yang sama. Sementara itu, pada tambak tradisional, suhu yang lebih tinggi dapat mengganggu keseimbangan ekosistem tambak sehingga ketersediaan dan kualitas pakan alami seperti plankton menurun. Akibatnya, pertumbuhan udang menjadi lebih lambat dan hasil produksi tidak optimal, sehingga pada akhirnya produktivitas dan keuntungan petambak dapat menurun.
Air tambak yang terus menguap karena kemarau panjang mengakibatkan suhu panas dan menyebabkan kadar garam meningkat (hipersalin). Kondisi tambak di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur yang berada di daerah muara sungai, memiliki salinitas berada sekitar 10 – 15 ppt yang berarti payau atau cenderung tawar. Ketika kemarau terus menerus, salinitas tambak dapat berubah menjadi hingga dua kali lipat.
Hal ini membuat udang kesulitan beradaptasi atau mengalami gangguan osmoregulasi, energi habis untuk bertahan bukan untuk tumbuh, dan pertumbuhan melambat. Pada saat cuaca ekstrem, udang mengalami kesulitan saat berganti kulit menyebabkan kulit menjadi lebih keras dan sulit dilepaskan. Efek jangka panjang dapat meningkatkan risiko kematian atau serangan penyakit seperti white spot.
Masalah lain yang sering muncul saat kemarau adalah meningkatnya kadar amonia di tambak. Pada saat udang stres dan nafsu makan naik, petambak akan memberi makan berlebih. Sisa pakan dan kotorannya menghasilkan amonia. Bila berlebih akan bersifat racun, dan menyebabkan udang stres dan mati.
Kemarau yang panjang dan kering membuat kondisi tambak menjadi lebih sulit diprediksi. Perubahan parameter air bisa terjadi lebih cepat dan lebih ekstrem dibandingkan saat suhu normal. Pada akhirnya, petambak akan merasakan produksi menurun, biaya mengelola tambak meningkat, hingga risiko gagal panen. Untuk itu, petambak harus melakukan pemantauan kualitas air untuk mengurangi risiko.
Langkah adaptasi yang dapat dilakukan petambak adalah rutin memantau kualitas air tambak, terutama parameter suhu, salinitas, oksigen terlarut (DO), dan amonia. Pada kondisi normal, pengecekan sederhana sebaiknya dilakukan setiap hari, terutama pada pagi dan sore hari karena pada waktu tersebut perubahan kualitas air biasanya paling terlihat. Sementara itu, pengukuran parameter yang memerlukan alat khusus, seperti amonia, dapat dilakukan secara berkala, misalnya setiap 1–2 minggu sekali atau lebih sering jika terjadi perubahan cuaca ekstrem, hujan lebat, atau muncul gejala stres pada udang.
Jika ditemukan penurunan kualitas air, petambak dapat melakukan pergantian air secara bertahap untuk mencegah kondisi air yang stagnan. Selain itu, penggunaan probiotik atau Mikroorganisme Lokal (MoL) secara berkala juga dapat membantu meningkatkan populasi bakteri menguntungkan, mempercepat penguraian bahan organik dan zat beracun, serta menjaga keseimbangan ekosistem tambak sehingga kondisi budidaya tetap stabil.
Fenomena El Niño menjadi pengingat bahwa sektor perikanan, khususnya budidaya tambak, sangat rentan terhadap perubahan iklim. Kondisi yang semakin panas dan kering bukan hanya tantangan, tetapi juga ujian bagi kemampuan adaptasi petambak. Dengan pemahaman yang lebih baik dan pengelolaan yang tepat, dampak negatif bisa ditekan. Kuncinya adalah waspada, adaptif, dan rutin memantau kondisi tambak.
Oleh: Andi Darmawansyah