Straight to content

SIARAN PERS: Memperkuat Produktivitas Perikanan dan Kelestarian Mangrove Melalui Budidaya Tambak Berkelanjutan di Desa Liagu

Published on:

Liagu, 13 Oktober 2026 – Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bulungan, Syam Hendarsyah, didampingi oleh perwakilan dari instansi pemerintah daerah, universitas, kelompok masyarakat, sektor swasta, dan tim proyek NASCLIM meninjau hasil budidaya siklus pertama di tambak budidaya terhubung mangrove Desa Liagu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, pada Selasa (13/10). Kegiatan peninjauan meliputi panen hasil tambak, monitoring dan evaluasi, serta penyusunan rekomendasi untuk pengembangan ke depan.

Budidaya tambak terhubung mangrove, atau yang dikenal secara internasional sebagai Associated Mangrove Aquaculture (AMA), adalah sistem budidaya perikanan pesisir tradisional yang mengintegrasikan usaha tambak air payau (seperti ikan, udang, atau kepiting) dengan ekosistem mangrove di satu lokasi yang sama.

Kalimantan Utara memiliki salah satu bentang ekosistem mangrove terluas di Indonesia, membentang dari Delta Kayan di Kabupaten Bulungan hingga Sembakung di Kabupaten Nunukan.

Alih fungsi kawasan mangrove menjadi tambak dan penggunaan lahan non-mangrove lainnya telah terjadi secara cukup signifikan di Kalimantan Utara sejak dekade 1990-an. Perubahan bentang pesisir ini menimbulkan kekhawatiran karena pengelolaan tambak yang tidak berkelanjutan dapat mengurangi fungsi ekologis mangrove, mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir, menurunkan produktivitas perikanan, serta meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas hutan mangrove di Indonesia pada 2026 mencapai 3,45 juta hektare, atau 23% dari total luas mangrove dunia. Namun, selama 30 tahun terakhir, degradasi luasan area mangrove semakin meningkat akibat berbagai perubahan fungsi lahan.

Koordinator Program Pesisir dan Delta Wetlands International Indonesia, Aji Nuralam Dwisutono, mengatakan pentingnya melindungi dan merehabilitasi ekosistem mangrove demi produktivitas tambak.

“Ekosistem lahan basah seperti mangrove berperan penting dalam menjaga ketersediaan air, melestarikan keanekaragaman hayati, mengatur iklim, mendukung pembangunan berkelanjutan, serta meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia,” jelas Aji.

Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan program Nature-Based Solutions for Climate Smart Livelihoods in Mangrove Landscapes (NASCLIM), yang mengintegrasikan solusi berbasis alam dengan penguatan mata pencaharian masyarakat. Program lima tahun yang bekerja sama dengan Pemerintah Kanada ini dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bulungan, Syam Hendarsyah, mengatakan bahwa visi dari peran Dinas Perikanan salah satunya adalah pelestarian sumber daya perikanan dengan memperbaiki ekosistem pesisir, serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan mendorong ketahanan pangan, pemberdayaan nelayan dan pembudidaya ikan, pengembangan teknologi perikanan, pengawasan dan pengendalian sumber daya ikan, serta peningkatan kapasitas sarana dan prasarana perikanan.

Menurut Syam, pendekatan dalam rehabilitasi mangrove melalui budidaya tambak terhubung mangrove yang melibatkan masyarakat sekitar sangat vital bagi masyarakat karena tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, tetapi juga berkelanjutan ke depan dalam rangka pemulihan ekosistem di sekitar kawasan pesisir.

“Program ini bisa menjadi model pendekatan yang tidak hanya dilaksanakan oleh teman-teman NASCLIM, tetapi juga dapat diimplementasikan di tempat lain. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat di sekitar kawasan pesisir, khususnya kawasan mangrove, dapat dilibatkan secara aktif,” ujar Syam.

Salah satu bentuk pelibatan masyarakat dilakukan melalui Sekolah Lapang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan lingkungan serta pengembangan mata pencaharian sesuai dengan potensi lokal.

Pengurus Kelompok Liagu Lestari Barokah yang mengikuti Sekolah Lapang di Desa Liagu, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Jhony Lee, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mencakup 12 materi, salah satunya penggunaan mikroorganisme lokal (MOL) di tambak.

Menurut Jhony, perbaikan kualitas air tambak dan penggunaan MOL mulai menunjukkan hasil dengan adanya perubahan dari panen udang windu dari sebelumnya 130 Kg menjadi 370 Kg pada jumlah tebar yang sama.

“Kami melihat pertumbuhan udang windu yang semakin baik dan bandeng yang dibudidayakan lebih tahan terhadap penyakit. Ketika mangrove mulai tumbuh, vegetasi ini diharapkan dapat berfungsi sebagai penyaring alami yang turut menjaga kualitas air dan kesehatan tambak,” katanya.

Kadis Perikanan Bulungan menegaskan bahwa ke depan, penerapan sistem budidaya tambak terhubung mangrove di desa-desa dampingan NASCLIM diharapkan dapat menjadi model pengelolaan tambak berkelanjutan yang mengintegrasikan pemulihan ekosistem mangrove dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan penerapannya perlu didukung oleh penguatan kelembagaan kelompok, kemampuan teknis budidaya, serta komitmen dan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan mitra pelaksana.