Straight to content

Simpanan Karbon Ribuan Tahun, Lepas dalam Hitungan Minggu

Published on:

Ketika kebakaran menembus lapisan gambut yang kaya karbon dan melepaskan simpanan karbon yang terbentuk selama ribuan tahun ke atmosfer hanya dalam hitungan hari atau minggu dalam bentuk lonjakan emisi masif, maka fenomena ini disebut pulse emission. Peristiwa ini menggambarkan perubahan drastis fungsi ekosistem gambut dari penyimpan karbon jangka panjang (carbon sink) menjadi sumber emisi (carbon source) dalam waktu yang sangat singkat. Fenomena tersebut tidak akan pernah ditemukan pada ekosistem gambut yang basah secara alami (pristine peat ecosystem), melainkan muncul saat terjadi kebakaran pada lahan gambut – kondisi yang jauh lebih mudah terjadi jika lahan gambut dalam keadaan kering.

Proses terjadinya pulse emission bermula dari pengeringan berlebihan (over-drainage). Pembuatan kanal drainase untuk mengeringkan dan mengalihfungsikan lahan gambut menyebabkan penurunan muka air tanah (groundwater table). Lapisan gambut yang semula jenuh air menjadi kering, kehilangan kelembapan alaminya, dan menjadi sangat mudah terbakar jika ada api sebagai pemicunya. Apabila terjadi kebakaran lahan gambut, maka api merambat di bawah permukaan (smoldering combustion), membakar simpanan karbon secara masif dan melepaskannya ke atmosfer.

Ketika terjadi kebakaran di lahan gambut, maka yang terbakar adalah vegetasi di atas permukaan dan juga gambut di bawah permukaan. Kebakaran vegetasi umumnya berlangsung cepat dengan nyala api (flaming combustion), sedangkan api di dalam gambut merambat perlahan di bawah tanah melalui proses pembakaran membara (smoldering combustion). Panas dapat bergerak jauh ke bawah permukaan menembus lapisan gambut, bahan organik yang kaya karbon. Karena berlangsung tanpa nyala api, kebakaran ini sering sulit dideteksi dan dipadamkan, bahkan dapat bertahan selama berhari-hari hingga berminggu-minggu.

Risiko tersebut meningkat ketika terjadi anomali iklim seperti El Niño. Musim kemarau yang panjang dan kering menurunkan muka air tanah serta kadar air gambut secara drastis. Gambut pun menjadi semakin rentan terbakar.

Mengapa Kita Harus Khawatir dengan Pulse Emission?

Ada setidaknya tiga alasan. Pertama, skala emisinya dapat sangat besar dan terkonsentrasi dalam waktu singkat. Kebakaran lahan gambut dalam skala luas, seperti yang terjadi di Indonesia pada 1997–1998 dan 2015, melepaskan karbon dalam jumlah sangat besar ke atmosfer hanya dalam hitungan minggu. Pada periode kebakaran hebat, emisi tersebut dapat mencapai proporsi yang signifikan dibandingkan emisi tahunan dari pembakaran bahan bakar fosil secara global.

Kedua, pulse emission dapat memperkuat umpan balik iklim (climate feedback loop). Ketika karbon dalam jumlah besar dilepaskan ke atmosfer, konsentrasi gas rumah kaca meningkat dan turut memicu percepatan pemanasan global. Suhu yang lebih tinggi dapat memperparah kekeringan dan menurunkan kadar air gambut, membuatnya semakin rentan terbakar. Ketika kebakaran kembali terjadi, lebih banyak karbon dilepaskan ke atmosfer. Siklus ini berpotensi memperkuat dampak perubahan iklim.

Ketiga, dampaknya dapat melampaui batas wilayah dan negara. Selain melepaskan gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄), kebakaran gambut menghasilkan asap dan partikulat dalam jumlah besar. Polutan tersebut dapat terbawa angin melintasi wilayah dan negara, menciptakan transboundary haze yang menurunkan kualitas udara dan mengancam kesehatan masyarakat di kawasan terdampak.

Besarnya simpanan karbon di dalam ekosistem gambut membuat setiap lapisan yang terbakar berdampak sangat signifikan terhadap pelepasan emisi. Sebagai contoh, Pada saat terjadi kebakaran lahan gambut, pembakaran setiap 10 sentimeter lapisan gambut per hektare dapat melepaskan rata-rata sekitar 183,5–200 ton CO₂ ke atmosfer.

Lalu, apa artinya angka itu? Pelepasan CO₂ dalam jumlah besar memperkuat efek rumah kaca di atmosfer dan berkontribusi terhadap pemanasan bumi. Pemanasan yang semakin tinggi dapat memperparah kekeringan dan meningkatkan kerentanan ekosistem gambut terhadap kebakaran. Perubahan pola curah hujan juga dapat berdampak pada pertanian, ketahanan pangan, dan ketersediaan air.

Dampaknya tidak berhenti di atmosfer. Sebagian kelebihan CO₂ diserap oleh lautan, yang menyebabkan air laut menjadi lebih asam. Proses ini, yang dikenal sebagai pengasaman laut (ocean acidification), dapat mengganggu organisme laut, dan ekosistem yang sensitif terhadap perubahan kimia air, termasuk terumbu karang.