Dari Abrasi, Tumbuh Harapan di Sungai Banjar
Angin pesisir Kampung Sungai Banjar sore itu berhembus cukup kencang, membawa aroma asin yang telah mendarah daging bagi warganya. Di balik semburat jingga senja yang memantul indah di permukaan air, ada kekhawatiran yang diam-diam menggerogoti hati Indra. Sebagai Ketua RT di Kampung Sungai Banjar, Desa Sepatin, ia menjadi saksi bisu bagaimana laut perlahan menelan tanah tempat dia dan keluarganya tinggal. Garis pantai semakin mundur, dan air pasang kini tak ragu menyapa ruang tamu rumah warga.

“Dulu, pemukiman kami berjarak cukup jauh dari bibir pantai,” kenang Indra dengan nada yang datar. “Tapi karena abrasi, setiap tahun daratan kampung kami tergerus mundur hingga 25 meter. Banyak rumah warga hancur, dan akhirnya tidak sedikit tetangga kami yang terpaksa pindah ke kampung lain.”
Indra merupakan penduduk asli Desa Sepatin. Hari-harinya digunakan untuk mencari ikan, udang, dan kepiting di laut dan di area sekitar tempat tinggalnya.
Keresahan yang selama ini dirasakan perlahan menemukan jalan keluar ketika Indra mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan dari Program NASCLIM. Ia tidak sekadar hadir, melainkan menyerap setiap edukasi yang diberikan. Dari situlah, kesadaran demi kesadaran mulai mekar.
Cara pandangnya tentang lingkungan mulai berubah. Ia menyadari bahwa mangrove bukan sekadar pohon peneduh biasa. Mangrove adalah “benteng hidup” paling tangguh yang mampu melindungi kampung dari terjangan ombak. Lebih dari itu, jalinan akar mangrove merupakan rumah alami bagi ikan, udang, dan kepiting yang menjadi urat nadi perekonomian yang menghidupi warga pesisir.
Berbekal kesadaran tersebut, Indra membawa sebuah gagasan ke forum musyawarah perencanaan penggunaan dana Rukun Tetangga (RT). Ia mengajak warga bersama-sama menghadapi abrasi dengan mengalokasikan dana RT untuk mendukung upaya pemulihan pesisir di garis terdepan kampung mereka. Gagasan ini terbilang inovatif. Di Desa Sepatin, belum banyak RT yang mengalokasikan anggarannya untuk kegiatan yang berkaitan dengan pemulihan lingkungan.

Indra menawarkan strategi kolaborasi. Anggaran RT digunakan untuk memenuhi kebutuhan logistik dan peralatan pendukung, sementara pelaksanaannya dilakukan secara gotong royong oleh warga. Dengan cara ini, keterbatasan anggaran dapat diimbangi dengan kekuatan dan keterlibatan masyarakat.
Di luar dugaan, usulan tersebut mendapat sambutan hangat. Warga yang selama ini hidup dalam bayang-bayang abrasi kini memiliki visi yang sama, yaitu menjaga kampung tempat mereka tinggal dan mencari penghidupan.
Bersama-sama, mereka turun ke pesisir, merawat kembali benteng alami kampung, dan menumbuhkan harapan agar Kampung Sungai Banjar tetap menjadi rumah bagi generasi yang akan datang.
Oleh : Ali Musta’in (Field Facilitator Sepatin)