Straight to content

Boco-boco, Cara Baru Menebar Benur

Published on:

Bagi petambak, aklimatisasi merupakan salah satu tahap penting sebelum benur atau benih ditebar ke tambak. Proses ini membantu benur menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, terutama perubahan suhu dan salinitas. Perbedaan kondisi yang terlalu drastis antara tempat pembenihan dan tambak dapat menyebabkan stres dan meningkatkan risiko kematian.

Aklimatisasi terutama diperlukan ketika terdapat perbedaan salinitas atau kandungan garam hingga 3 ppt (parts per thousand ) atau suhu hingga 3°C. Tanpa proses penyesuaian, benur berisiko mengalami stres yang dapat berujung pada kematian dan menurunkan produktivitas tambak.

Untuk memastikan praktik tersebut dilakukan dengan tepat, NASCLIM menggelar pelatihan dan praktik aklimatisasi menggunakan boco-boco. Boco-boco, istilah lokal dari Kalimantan Timur, merupakan wadah penggelondongan yang membantu proses aklimatisasi sekaligus melindungi benih dari predator. Di dalamnya, benih dapat dipantau dan dipelihara hingga cukup kuat sebelum dilepaskan ke tambak.

Pelatihan dipandu Sumo Harjo, konsultan Associated Mangrove Aquaculture (AMA) sekaligus dosen Universitas Mulawarman, pada 25 dan 30 Agustus 2026 di lahan demplot AMA milik Cinta, anggota KTH Alam Lestari Sepatin.

Menurut Sumo, boco-boco berfungsi sebagai tempat penggelondongan sekaligus membantu proses aklimatisasi benur. Benur yang masih berusia 8–12 hari berukuran sangat kecil dan rentan terhadap serangan predator. Karena itu, benur perlu dipelihara hingga cukup kuat sebelum ditebar ke tambak.

“Benur layak untuk disebar di tambak saat usianya 20 hari ke atas. Boco-boco menjadi alat agar benur terkonsentrasi sehingga mudah dipantau dan terhindar dari serangan predator, sekaligus menjalani proses aklimatisasi,” jelas Sumo.

Dalam praktik tersebut, sebanyak 75.000 benur udang windu dan 5.000 benih bandeng menjalani proses aklimatisasi. Benur yang masih berada dalam kemasan terlebih dahulu diletakkan di dalam air tambak pada boco-boco selama sekitar 20–30 menit, hingga permukaan kemasan mulai mengembun. Tahap ini membantu menyamakan suhu air di dalam kemasan dengan kondisi tambak.

Setelah itu, kemasan dibuka dan air tambak dimasukkan secara perlahan hingga bercampur dengan air di dalam kemasan. Benur kemudian dibiarkan beradaptasi sebelum dilepaskan secara perlahan ke dalam boco-boco.

Bagi Ali Mustain, Fasilitator Desa Sepatin, praktik tersebut memperkenalkan cara baru bagi petambak dalam menangani benur. Sebelumnya, benur yang diperoleh dari pengepul langsung dituangkan ke tambak tanpa melalui proses aklimatisasi.

“Pelatihan ini membantu masyarakat, khususnya petambak, untuk menyadari bahwa budidaya udang tidak sekadar menebarkan benur kemudian menunggu waktu panen. Ada sejumlah tahapan yang perlu dilakukan untuk memastikan benur dapat bertahan hidup dan tumbuh dengan baik sehingga produktivitas tambak meningkat,” jelas Ali.

Boco-boco yang digunakan dalam praktik ini dibuat dari jaring berukuran rapat dengan rangka pipa plastik berukuran 2 × 3 × 1 meter. Material tersebut dipilih karena tahan terhadap karat dan mudah dibongkar-pasang, sehingga dapat digunakan kembali dalam kegiatan budidaya.

Bagi petambak yang mengikuti pelatihan, pengetahuan tersebut menjadi perubahan sederhana dalam praktik budidaya sehari-hari. Salah satu peserta, Didi Harwanto dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Lestari, mengaku sebelumnya tidak melakukan aklimatisasi saat menebar benur.

“Dengan pelatihan ini, kami menjadi sadar bahwa aklimatisasi merupakan bagian penting dalam budidaya udang. Sekarang, proses aklimatisasi menjadi salah satu tahapan yang selalu kami lakukan saat menebar benur di tambak,” jelas Didi.