Story from The Field: Kelompok Tunas Harapan Asah Keterampilan Olah Bandeng
Sebanyak 14 peserta mengikuti pelatihan pengolahan bandeng cabut duri di RT 1, Desa Muara Pantuan, Kecamatan Anggana, Kalimantan Timur. Sebanyak 13 peserta merupakan perempuan anggota Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Tunas Harapan, sedangkan satu peserta lainnya adalah tenaga ahli tambak. Melalui pelatihan ini, peserta dibekali keterampilan mengolah bandeng menjadi produk bernilai tambah

Selama dua jam, peserta tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mempraktikkan langsung teknik pencabutan duri ikan bandeng. Suasana pelatihan berlangsung akrab dengan diskusi dan saling berbagi pengalaman selama proses pengolahan.
Perhatian tertuju ketika fasilitator Climate Smart Livelihood (CSL) Proyek NASCLIM, Andy Hidayat, memperagakan teknik pencabutan duri menggunakan metode kupu-kupu. Metode ini dilakukan dengan membelah ikan tanpa memutus bagian perut sehingga tulang punggung terlihat jelas dan lebih mudah dilepaskan sebelum duri-duri halus lainnya dicabut.
“Metode kupu-kupu mempermudah proses pencabutan tulang punggung sebagai tahap awal sebelum duri-duri halus lainnya dilepaskan,” jelas Andy.

Bagi peserta, praktik tersebut menjadi pengalaman baru yang menunjukan bahwa menghasilkan produk berkualitas membutuhkan keterampilan, kesabaran, dan ketelitian.. Hal ini juga dirasakan oleh salah seorang peserta, Ristawati (65).
“Alhamdulillah, sebelumnya kami belum tahu cara mencabut duri ikan bandeng. Sekarang kami jadi mendapat pengetahuan baru dan merasa senang bisa belajar bersama.”

Setelah demonstrasi, peserta bergantian mempraktikkan teknik pada 5 kilogram ikan bandeng yang telah disiapkan. Sesekali terdengar pertanyaan, diselingi canda ringan dan diskusi ketika para peserta berusaha mencabut duri-duri halus yang sulit dijangkau. Di bawah pendampingan fasilitator, setiap peserta terus mencoba menyempurnakan tekniknya agar daging ikan tetap utuh dan siap diolah menjadi produk bernilai tambah.
Proses belajar melalui praktik secara langsung ini tidak hanya memperkuat keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa hasil perikanan lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Keterampilan yang diperoleh mendorong para peserta untuk terus mengasah kemampuan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Insyaallah, ilmu yang kami dapat hari ini akan kami coba terapkan di rumah. Harapannya, kami semakin terampil mengolah ikan bandeng menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” ujar Ristawati, anggota Kelompok Poklahsar Tunas Harapan yang berasal dari Suku Banjar.
Pelatihan ini juga memperkenalkan potensi ekonomi bandeng cabut duri. Harga jual ikan bandeng yang semula sekitar Rp20.000 per kilogram dapat meningkat menjadi Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram setelah melalui proses pencabutan duri. Nilai tambah tersebut diharapkan membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat di Desa Muara Pantuan.
Pelatihan bandeng cabut duri merupakan bagian dari upaya NASCLIM memperkuat kapasitas masyarakat pesisir melalui pengembangan usaha pengolahan hasil perikanan berbasis kelompok. Dengan keterampilan tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan produk lokal yang lebih bernilai sekaligus memperkuat penghidupan yang tangguh dan berkelanjutan.
Kredit
Artikel ini berdasarkan dokumentasi lapangan NASCLIM dari Desa Sekatak Bengara, Kalimantan Utara, disusun oleh Andy Hidayat.