Story from The Field: Sambal Ikan Asap, Peluang Baru Perempuan Pesisir
Aroma asap kayu memenuhi dapur rumah produksi di Desa Sekatak Bengara siang itu. Di balik kepulan asap, sekelompok perempuan anggota Climate Smart Livelihood (CSL) tampak sibuk mengasapi ikan bandeng. Suasana dapur dipenuhi tawa dan obrolan hangat yang mengiringi setiap tahap pengolahan.

Sehari sebelumnya, mereka bersama tim fasilitator proyek Nature-Based Solutions for Climate Smart Livelihoods in Mangrove Landscapes (NASCLIM) telah membersihkan duri ikan bandeng hasil budidaya tambak. Langkah sederhana ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk perikanan agar tidak lagi dijual sebagai ikan segar, melainkan diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Proses tersebut tidak berhentipada pencabutan duri dan pengasapan. Melalui pendampingan NASCLIM, para anggota kelompok juga belajar mengolah ikan asap menjadi sambal siap konsumsi. Produk ini dipilih karena memiliki cita rasa yang akrab dengan lidah masyarakat Indonesia sekaligus membuka peluang usaha baru bagi kelompok perempuan di Desa Sekatak Bengara, tak terkecuali oleh Aguswanti (51).
“Kegiatan ini membuat kami paham bahwa ikan hasil tangkapan memiliki nilai jual yang lebih tinggi jika diolah. Sambal ikan asap memiliki cita rasa yang khas dan berpotensi menjadi peluang usaha bagi ibu-ibu.”

Bagi Aguswanti ketelitian dibutuhkan dalam suatu proses produksi demi memperoleh hasil yang berkualitas. Karena itu, ia mengajak seluruh anggota kelompok untuk terus memperkuat kerja sama selama proses produksi.
“Semoga ke depannya kami dapat memproduksi sambal ikan asap secara berkelanjutan dan memasarkannya lebih luas, sehingga mampu menambah pendapatan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok.” Tambahnya.
Pendampingan juga mencakup aspek pengemasan. Nur Afdalia, Fasilitator NASCLIM, memperkenalkan penggunaan heat gun untuk menyegel kemasam botol agar lebih rapat dan membantu menjaga mutu produk selama penyimpanan maupun distribusi. NASCLIM juga memfasilitasi label kemasan sehingga produk memiliki tampilan yang lebih menarik dan siap dipasarkan.

“Pendampingan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan dalam mengolah produk, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengemasan yang baik dan standar produk yang siap dipasarkan,” tutur Afdalia.
Melalui rangkaian pendampingan tersebut, NASCLIM berupaya memperkuat keterampilan sekaligus kepercayaan diri masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis sumebr daya lokal. Sambal ikan asap menajdi salah satu contoh bagaimana hasil perikanan dpat diolah menjadi produk bernilai tambah yang berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Kredit
Artikel ini berdasarkan dokumentasi lapangan NASCLIM dari Desa Sekatak Bengara, Kalimantan Utara, disusun oleh Nur Afdalia.