Story from The Field: Belajar Probiotik dan MoL Bakteri Fotosintetik Bersama Petambak Sekatak Buji
Penggunaan probiotik serta Mikroorganisme Lokal (MoL) fotosintetik dalam budidaya udang tradisional dipelajari melalui perpaduan teori dan praktik dalam Sekolah Lapang Coastal Field School (CFS) yang diselenggarakan di Tambak H. Tara, Desa Sekatak Buji, Kalimantan Utara, pada 11 Juli 2026.
Peserta yang terdiri dari 25 laki-laki yang tergabung dalam Kelompok Buji Cebaloi Sejahtera dan 10 perempuan istri petambak menjadi peserta dalam kegiatan sekolah lapang, dipandu oleh Dr. Azis, M.Si., selaku dosen Fakultas Perikanan Universitas Borneo, Tarakan.
Dr. Aziz menjelaskan peran probiotik dalam menjaga kualitas air, menguraikan bahan organik, serta menekan terbentuknya senyawa beracun seperti amonia (NH₃) dan hidrogen sulfida (H₂S). Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan disesuaikan dengan kondisi tambak peserta sehingga mudah dipahami. Pembelajaran berlangsung selama tiga jam, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA.
Dr. Azis juga mengajak peserta berdiskusi mengenai berbagai permasalahan yang sering ditemui di tambak tradisional, seperti lumpur hitam, endapan bahan organik, dan kualitas air yang menurun. Melalui diskusi tersebut, peserta diajak memahami pengelolaan tambak yang baik tidak hanya bergantung pada input budidaya, tetapi juga pada keseimbangan ekosistem mikroba yang mendukung kesehatan lingkungan tambak. Pendekatan ini mendorong peserta untuk lebih memahami alasan ilmiah di balik setiap praktik budidaya yang dilakukan.
Setelah sesi materi, peserta mempraktikkan pembuatan Mikroorganisme Lokal (MoL) sebagai bioaktivator yang berfungsi sebagai probiotik., pengurai limbah organik, memperbaiki kualitas tanah dan air tambak, serta merangsang pertumbuhan plankton. Dengan pendampingan Dr. Azis dan tim, peserta mempelajari fungsi setiap bahan, tahapan pencampuran, proses fermentasi, hingga dosis aplikasinya di tambak.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, terutama mengenai pemanfaatan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh untuk mengurangi biaya operasional budidaya.

Di akhir kegiatan, peserta didorong untuk mempraktikkan pembuatan probiotik secara mandiri di tambak masing-masing, mendokumentasikan prosesnya, serta berbagi pengalaman pada pertemuan Sekolah Lapang berikutnya.
Pendekatan belajar sambil praktik seperti ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas petambak dalam menerapkan teknologi budidaya yang sederhana, terjangkau, dan ramah lingkungan sebagai bagian dari pengelolaan tambak yang lebih berkelanjutan.
“Selama ini kami hanya membeli probiotik tanpa benar-benar memahami cara kerjanya. Setelah praktik hari ini, kami jadi tahu bahwa kami juga bisa membuatnya sendiri dengan bahan yang mudah didapat. Ilmu seperti ini sangat bermanfaat karena bisa mengurangi biaya sekaligus membantu menjaga kualitas air tambak,” ujar Rosali (36), salah satu peserta Coastal Field School (CFS) dari Suku Bugis.
Kredit
Kisah ini berdasarkan dokumentasi lapangan NASCLIM dari Desa Sekatak Buji, Kalimantan Utara, disusun oleh Andi Darmawansyah.