Lahan Gambut yang Perlahan Kehilangan Masa Depannya
El Niño yang semakin intens membuat lahan gambut kehilangan kelembapan, meningkatkan risiko kebakaran, dan mempercepat kerusakan ekosistem. Jika degradasi terus berlanjut, gambut perlahan kehilangan fungsinya sebagai penyimpan air dan karbon. Menjaga serta memulihkan gambut menjadi kunci untuk mempertahankan masa depannya di tengah krisis iklim.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari dampak iklim global. El Niño berdampak pada curah hujan di Indonesia (Nurutami & Hidayat 2016). Beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan besar di Indonesia akibat El Niño yang sama pada 2026 pernah terjadi pada 2002, 2004, 2006, 2009, 2015, dan 2019 (Dafri et al. 2021).
Para klimatolog dari BMKG memprediksi potensi munculnya El Nino dengan intensitas kuat di tahun 2026. Fenomena ini berpotensi memicu periode kekeringan panjang, penurunan curah hujan secara signifikan, dan kenaikan suhu udara di berbagai wilayah Indonesia.
Lalu bagaimana nasib lahan gambut saat El Niño terjadi?
Jika dikaitkan dengan teori segitiga api yang terdiri atas sumber panas, bahan bakar, dan oksigen, praktik drainase atau proses pengaliran kelebihan air pada lahan gambut dapat meningkatkan risiko kebakaran. Drainase menyebabkan tinggi muka air tanah gambut menurun sehingga ruang berisi udara di dalam lapisan gambut bertambah. Kondisi ini meningkatkan proses aerasi, yaitu masuknya oksigen ke dalam lapisan gambut di bawah permukaan tanah. Semakin banyak oksigen yang tersedia, semakin mudah bahan organik gambut mengering dan terbakar apabila terdapat sumber panas.
Material gambut terus kehilangan kelembapan akibat pengeringan, sementara kondisi iklim datang seperti “sumbu yang sudah menunggu api” untuk memicunya. Akibatnya, kawasan gambut terdrainase berubah menjadi lokasi yang sangat rentan, di mana peluang terjadinya kebakaran meningkat signifikan dan sulit untuk dicegah.
Kondisi ini juga ditanggapi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan pada siaran pers April lalu yang juga menyoroti tinggi muka air lahan gambut dalam menghadapi kondisi iklim global di tahun 2026. Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat dan memperbarui program lingkungan strategis guna menghadapi ancaman fenomena El Niño.
Berbagai dampak kebakaran lahan gambut di Indonesia mulai dari kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan, kerugian ekonomi, hingga persoalan sosial telah banyak diuraikan secara jelas dalam berbagai kajian dan pengalaman empiris.
Namun, terdapat satu aspek yang masih menarik untuk dikaji lebih mendalam, yaitu keterkaitan antara kebakaran lahan gambut dan potensi terjadinya banjir permanen. Fenomena ini tidak hanya memperlihatkan perubahan karakteristik ekosistem gambut pasca kebakaran, tetapi juga membuka perhatian terhadap ancaman baru yang dapat memengaruhi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya dalam jangka waktu mendatang.
Pengeringan lahan gambut oleh kanalisasi memiliki hubungan erat terkait penurunan permukaan tanah. Selain proses oksidasi, kompaksi, dan konsolidasi, kebakaran lahan gambut juga menyebabkan penurunan permukaan tanah yang cukup signifikan (Hooijer et al. 2012).
Rata-rata penurunan permukaan bekas terbakar pada kebakaran pertama di lahan gambut adalah 18 cm, kebakaran kedua adalah 11 cm, kebakaran ketiga adalah 4 cm, dan seterusnya (Page et al. (2014). Meskipun area tersebut direstorasi, ketebalan dan fungsi ekologis gambut asli tidak bisa kembali seperti sediakala. Hal ini dikarenakan lahan gambut terbentuk dari puluhan ribu tahun silam (Ruwaimana et al. 2020).
Permukaan lahan gambut yang mengalami subsidensi secara terus menerus dapat menghantarkan lahan gambut menjadi dua resiko dalam jangka waktu tertentu.
Resiko pertama, lahan gambut tidak akan bisa dikeringkan ketika permukaan lahan gambut sudah mencapai batas drainase alami, sehingga lokasi tersebut akan mengalami frekuensi genangan yang lebih panjang atau permanen (Wetlands International Indonesia 2018).
Resiko kedua, Jika batas drainase alami berada di bawah kontak basal gambut yang memiliki potensial tanah mineral sulfat masam, tanah sulfat masam akan tersingkap dan terjadi oksidasi pirit (menghasilkan asam sulfat dan jarosit dengan tingkat kemasaman tanah tinggi) sehingga wilayah sekitar akan mengalami penurunan pH tanah ekstrem, kerusakan tanaman, penuruan kualitas air, dan korosi infrastruktur.
Kedua resiko tersebut sama-sama menurunkan fungsi ekosistem lahan gambut, termasuk melemahkan daya dukung lingkungan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Di balik kebakaran lahan gambut yang terlihat di permukaan, tersimpan ancaman lanjutan yang diam-diam dapat meninggalkan kerusakan ekologis lebih dalam dan dapat berkembang menjadi krisis ekologis yang dampaknya jauh lebih panjang dan sulit dipulihkan.
Oleh: Dimas Alfred Prasetia