Ancaman “Godzilla El Niño” 2026:Menguji Solidaritas Global dan Ketangguhan Tata Kelola Gambut Indonesia
Ekosistem gambut memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga stabilitas iklim global. Beberapa telah mengalami kerusakan dan memerlukan pemulihan ekologis nyata, tata kelola terintegrasi, serta dukungan internasional untuk menghadapi ancaman El Niño dan krisis iklim yang semakin ekstrem.

(Foto: Yus Rusila Noor / Wetlands International Indonesia)
Dunia tengah menahan napas menghadapi prediksi iklim tahun 2026 yang menempatkan stabilitas ekologis—dan pada akhirnya stabilitas ekonomi global—dalam posisi yang sangat rentan. Pemanasan ekstrem suhu permukaan laut di Samudra Pasifik diperkirakan akan memicu fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat, yang secara populer dijuluki sebagai “Godzilla El Niño”. Meski bukan istilah resmi dalam ilmu iklim, sebutan ini digunakan untuk menggambarkan skenario El Niño ekstrem yang berpotensi menghadirkan musim kemarau lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal, termasuk di Indonesia.
Bagi ekosistem gambut Indonesia, ancaman ini bukan sekadar isu cuaca musiman. Ia adalah alarm ekologis yang serius. Lahan gambut tropis sangat bergantung pada keseimbangan hidrologi yang rapuh, dengan pasokan air yang sebagian besar berasal dari hujan. Ketika kemarau ekstrem berlangsung lebih lama, muka air gambut turun drastis, lapisan gambut mengering, dan lanskap menjadi sangat mudah terbakar, terutama ketika dipicu oleh aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan api.
Dalam situasi seperti ini, El Niño dapat menjadi katalisator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada skala besar, sekaligus mempercepat pelepasan emisi karbon dalam jumlah masif ke atmosfer. Gambut yang terbakar bukan hanya menghasilkan asap lintas batas yang mengganggu kesehatan dan ekonomi regional, tetapi juga melepaskan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun hanya dalam hitungan hari. Karena itu, ancaman terhadap gambut Indonesia sesungguhnya bukan hanya persoalan nasional, melainkan bagian dari risiko iklim global.
Ironisnya, respons internasional terhadap ancaman ini masih cenderung bersifat makro dan umum. Diskursus global tentang El Niño lebih banyak berfokus pada kekeringan, gelombang panas, dan ancaman pangan, tanpa memberi perhatian yang memadai pada kerentanan spesifik lahan gambut tropis, khususnya di Indonesia. Padahal, komunitas ilmiah internasional telah lama mengakui bahwa gambut tropis Indonesia merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia dan menjadi salah satu titik paling kritis dalam upaya pengendalian perubahan iklim.
Sayangnya, banyak model iklim global masih belum sepenuhnya mengintegrasikan dinamika gambut secara akurat. Akibatnya, risiko krisis gambut dalam skenario El Niño ekstrem sering kali kurang terwakili dalam desain kebijakan iklim global maupun dalam skema pembiayaan internasional. Gambut masih kerap diposisikan sebagai isu tambahan di bawah narasi besar deforestasi, padahal kerusakan gambut dapat menghasilkan konsekuensi emisi yang jauh lebih cepat dan destruktif.
Berbagai inisiatif internasional sebenarnya telah berjalan, mulai dari skema The United Nations Programme on Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (UN-REDD Programme), Green Climate Fund, hingga berbagai program restorasi gambut bilateral dan multilateral. Namun jika dibandingkan dengan skala kerentanan kawasan gambut Sumatra, Kalimantan, dan Papua, dukungan tersebut masih jauh dari memadai—baik dari sisi besaran pendanaan maupun kecepatan implementasi. Di sisi lain, sektor swasta global mulai membaca risiko ini secara lebih serius. Industri asuransi dan investasi internasional, misalnya, mulai memasukkan risiko El Niño dan kebakaran gambut ke dalam kalkulasi risiko bisnis dan rantai pasok global. Perkembangan ini sesungguhnya dapat menjadi pintu masuk penting untuk memperkuat argumentasi kebijakan dan investasi mitigasi di tingkat nasional.
Dari perspektif tata kelola lingkungan, respons global terhadap ancaman gambut saat ini dapat diringkas dalam satu kalimat: aware, but not yet urgent. Dunia mengetahui bahayanya, tetapi belum bertindak dengan tingkat urgensi yang sebanding dengan risikonya. Padahal, dengan semakin menguatnya prediksi El Niño, dunia membutuhkan narasi baru yang lebih tegas: bahwa gambut bukan sekadar ekosistem basah, melainkan salah satu penentu stabilitas iklim planet ini.
Momentum ini seharusnya mendorong lahirnya kebijakan yang lebih progresif dan terintegrasi, termasuk penguatan pendekatan hydrology-based land use di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), pengembangan sistem pemantauan lintas batas, serta skema pembiayaan iklim yang benar-benar berpihak pada upaya perlindungan dan restorasi gambut jangka panjang.
Dunia internasional kini memantau apakah strategi Indonesia dalam menghadapi ancaman El Niño mampu menjaga komitmen iklim global tetap berada di jalurnya. Namun keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari jumlah titik api yang berhasil dipadamkan atau operasi darurat yang dijalankan selama musim kemarau. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah pulihnya fungsi ekologis gambut secara nyata: meningkatnya tutupan vegetasi alami, terjaganya kelembapan gambut, membaiknya tata air lanskap, serta menurunnya hotspot secara konsisten dari tahun ke tahun.
Tanpa perubahan paradigma—dari restorasi administratif menuju pemulihan ekologis yang substantif—ekosistem gambut Indonesia akan tetap menjadi “bom waktu karbon” di tengah krisis iklim global yang semakin ekstrem.
Namun demikian, restorasi dan perbaikan tata kelola gambut tidak selayaknya menjadi beban Indonesia semata. Dalam semangat common but differentiated responsibilities, masyarakat internasional memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk ikut memastikan keberlanjutan salah satu benteng iklim terpenting dunia ini. Jika gambut Indonesia diakui sebagai penyelamat iklim global, maka dukungan dunia tidak boleh berhenti pada retorika komitmen dan janji pendanaan.
Sudah saatnya berbagai komitmen pembiayaan iklim global diterjemahkan menjadi dukungan nyata yang lebih cepat, lebih adil, dan lebih proporsional untuk perlindungan serta restorasi gambut Indonesia. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin penggalangan solidaritas internasional, termasuk melalui berbagai inisiatif seperti Peatlands Breakthrough, sambil terus memperkuat tata kelola gambut nasional yang transparan, berbasis sains, dan berkeadilan.Karena pada akhirnya, menyelamatkan gambut Indonesia bukan hanya tentang melindungi bentang alam tropis di Asia Tenggara. Ini adalah tentang menjaga masa depan iklim dunia—dan tentang seberapa serius solidaritas global diuji ketika ancaman benar-benar datang di depan mata.
oleh: