Memulihkan Mangrove, Menumbuhkan Rezeki: Kisah Pak Ansyar dari Delta Mahakam
Di ruang tamu rumah panggungnya yang sederhana di Desa Muara Pantuan, Kalimantan Timur, Pak Ansyar memperlihatkan deretan foto keluarga yang menempel di dinding. Foto wisuda anak sulungnya yang kini sudah bekerja, sang adik yang tengah menempuh kuliah, dan si bungsu yang masih duduk di bangku SD. “Semua ini rezeki Allah dari tambak,” ujarnya sambil tersenyum. “Tapi ya, tetap harus diusahakan.”

Pak Ansyar bukan petambak biasa. Ia hanya memiliki tambak seluas 3,2 hektar – kecil dibandingkan para petambak besar lain yang mempunyai lahan hingga ratusan hektar. Namun dari lahan itulah, ia terus bereksperimen mencari cara agar usahanya tetap berkelanjutan. Berbekal pendampingan dan pelatihan dalam program NASCLIM (Nature-based Solutions for Climate-Smart Livelihood in Mangrove Landscapes) yang dijalankan Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia dan Yayasan Lahan Basah (YLBA), ia belajar membuat molase alami – pupuk cair hasil fermentasi bahan organik untuk pakan udang.
Dengan modifikasi racikan sendiri, hasilnya mengejutkan. Produktivitas tambaknya meningkat hingga dua kali lipat. Ia bahkan menyimpan nota penjualan sebagai bukti nyata. “Biar kalau ada petambak lain mau belajar, bisa lihat sendiri,” katanya. “Di sini orang percaya kalau sudah lihat hasilnya dulu,” lanjutnya.
Tak semua peserta pelatihan mau mencoba hal baru. Tapi Pak Ansyar berbeda. Baginya, gagal itu biasa. “Kalau gagal, dicoba lagi. Itulah ikhtiar,” ujarnya ringan. Sejak 2014, ia menanam mangrove di bantaran sungai atas inisiatif dan dengan tenaga sendiri. Ia sadar betul bahwa pohon-pohon itu melindungi tanggul tambaknya dari abrasi dan menjaga pintu air tetap stabil. Belakangan, dengan dukungan program rehabilitasi mangrove dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) pada 2022, ia mulai menanam mangrove juga di dalam area tambaknya. (Program BRGM saat ini tidak diperpanjang, sesuai Perpres No. 120 Tahun 2020 tentang BRGM yang menetapkan masa tugas hingga 31 Desember 2024).

Dari pengalamannya, akar mangrove membantu menyaring air, menjadi habitat alami bagi kepiting, dan menjaga kualitas ekosistem tambak. Namun, ia juga menemukan tantangan baru. Setelah pohon-pohon mangrove berusia lebih dari lima tahun, daun-daun yang gugur membusuk di air dan mengganggu kualitas tambak. Ia pun punya ide: menebang mangrove setelah lima tahun dan menanam ulang, atau memasang jaring di bawah pohon agar daun-daun tidak mengotori air. “Pasang jaring ini masih ide sih,” katanya, “karena butuh biaya dan waktu, tapi tidak perlu menebang pohonnya.”
Delta Mahakam, tempat Pak Ansyar tinggal, dulunya didominasi hutan mangrove yang luas. Dari total 108.707,29 hektar kawasan delta, kini sekitar 70 persen telah berubah menjadi tambak. Luas hutan mangrove tersisa hanya sekitar 30.000 hektar. Alih fungsi lahan besar-besaran dimulai sejak awal 1980-an, ketika kebijakan nasional mendorong peningkatan produksi perikanan di era revolusi biru. Permintaan udang windu (Penaeus monodon) untuk ekspor ke Jepang dan Eropa melonjak tajam, memicu masuknya investor dari luar daerah yang membuka ribuan hektar tambak di kawasan mangrove.
Sebagai Ketua RT 10 di Desa Muara Pantuan, Pak Ansyar yang berasal dari Gowa Sulawesi Selatan berharap menjadi contoh yang baik, setidaknya bagi 35 kepala keluarga di lingkungannya. Di atas tanggul atau pematang tambak, ia menanam berbagai tanaman pangan: pisang, singkong, jeruk, nanas, kelapa, pepaya, hingga kelor. Dulu, wilayah RT-nya dihuni sekitar 150 kepala keluarga. Kini, sebagian besar telah pindah akibat abrasi yang menghilangkan rumah mereka. “Soal karbon itu jauh,” katanya saat ditanya soal fungsi mangrove dalam menyerap karbon. “Saya lihat yang sederhana saja. Yang penting, mangrove ini ada manfaatnya buat tambak dan juga menahan abrasi sungai dan pantai.” Dengan adanya mangrove, kepiting juga menjadi penghasilan sampingan yang nilainya juga besar. Size special saja bisa dihargai 200 hingga 500 ribu rupiah perkilogram.
Nur Hayati, atau biasa dipanggil Nura, alumnus Universitas Mulawarman yang kini menjadi fasilitator desa program NASCLIM, membenarkan pengamatan itu. “Banyak masyarakat mengira tambak hanya bisa berhasil kalau dengan lahan yang luas dan semua mangrove ditebang,” jelasnya. “Padahal tidak selalu begitu, karena lambat laun kualitas air menurun seiring hilangnya mangrove, yang mengakibatkan produksi udang dan bandeng juga turun, dan yang terparah, rumah dan tambak tergerus abrasi.
Melalui program NASCLIM, Pak Ansyar mencoba dua pendekatan baru: Associated Mangrove Aquaculture (AMA) dan Ecological Mangrove Restoration (EMR). Sekitar 30 persen dari lahannya ia biarkan ditumbuhi mangrove secara alami. Ia ingin membuktikan dengan menyisihkan lahannya untuk hutan mangrove kembali bisa tetap menghasilkan panen udang dan bandeng yang baik. “Kalau hasilnya bagus,” ujarnya optimistis, “petambak lain pasti ikut.”

Kisah Pak Ansyar mengingatkan kita bahwa solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) hanya akan berhasil jika berakar pada kearifan dan kemauan masyarakat lokal. Masyarakat pesisir mau berinovasi, tapi umumnya mau bergerak jika sudah ada bukti keberhasilan. Untungnya di setiap desa, selalu ada sosok seperti dirinya, orang yang berani mencoba hal baru meskipun beum ada jaminan keberhasilan.
Program NASCLIM menegaskan bahwa solusi berbasis alam tidak hanya datang dari atas. Ia tumbuh dari pengalaman masyarakat lokal yang memahami alamnya sendiri. Program mungkin akan berakhir, tetapi semangat seperti yang ditunjukkan Pak Ansyar akan terus hidup, seperti mangrove yang berakar kuat di lumpur: dulu sering diabaikan, kini menumbuhkan harapan.
Muhammad Erdi Lazuardi
PhD Student
Vibrant Forest Landscapes Lab
Faculty of Forestry
The University of British Columbia
Catatan:
The Ecosystem-Based Approaches/Nature-based Solutions for Climate-Smart Livelihoods in Mangrove Landscape (NASCLIM) merupakan program kerja sama oleh Global Green Growth Institute (GGGI) dan Wetlands International Indonesia, yang dirancang untuk mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dalam mengatasi deforestasi mangrove. Program ini berfokus pada pemulihan mangrove yang terdegradasi dan perlindungan mangrove sehat di Delta Kayan–Sembakung, Kalimantan Utara, serta Delta Mahakam, Kalimantan Timur, melalui pendekatan berbasis ekosistem yang bertujuan meningkatkan penghidupan masyarakat. NASCLIM didanai oleh Pemerintah Kanada dan dikoordinasikan dengan Kementerian Kehutanan. Program ini juga bertujuan menguatkan pembuatan kebijakan di level nasional dan subnasional yang mendukung perlindungan mangrove jangka panjang, serta menjadi model yang dapat direplikasi, di tingkat nasional maupun global. The University of British Columbia (UBC), Canada turut berkontribusi dalam mendokumentasikan proses dan hasil pelaksanaan program, serta memberikan perspektif akademik mengenai pendekatan landscape–seascape dalam sistem sosial–ekologi yang dinamis.