Straight to content

Wetland Atlas Resmi Diluncurkan. Kompas Digital untuk Percepat Konservasi Lahan Basah bagi Manusia, Alam dan Iklim

Published on:

Belanda, 9 April 2026 — Di tengah laju kehilangan lahan basah global yang berada pada tingkat mengkhawatirkan, Wetlands International hari ini resmi meluncurkan Wetland Atlas. Ini adalah sebuah platform daring global yang dirancang untuk menembus “kabut data” yang selama ini menghambat investasi dan aksi nyata. Kehadiran atlas ini diharapkan dapat membuka keran pendanaan baru dari pemerintah, sektor bisnis, dan investor guna mempercepat konservasi lahan basah di seluruh dunia.

Tampilan muka website Wetlands Atlas

Ekosistem lahan basah yang sehat adalah kunci untuk menjawab tantangan terbesar zaman ini, yaitu ketahanan pangan dan air, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pembangunan berkelanjutan. Namun, data menunjukkan fakta pahit bahwa 22% ekosistem air tawar dan pesisir dunia telah hilang sejak tahun 1970, dan seperempat dari sisanya dalam kondisi terdegradasi. Meskipun solusi efektif telah tersedia, aksi nyata dan pendanaan untuk restorasi masih tertinggal jauh.

Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya data dan analisis yang jelas, mutakhir, serta mudah diakses. Inilah celah yang ingin ditutup oleh Wetland Atlas.

Dalam sambutan pembukaannya, Dr. Musonda Mumba, Sekretaris Jenderal Konvensi Ramsar menegaskan bahwa dalam pengelolaan lahan basah yang berkelanjutan, yang terpenting bukan lagi pengetahuan apa yang kita miliki, tetapi pengetahuan apa yang sudah kita bagi untuk bersama-sama bersinergi, bekerja sama.

Wetland Atlas akan membuka cakrawala baru tentang dunia lahan basah. Platform ini memetakan berbagai jenis ekosistem pesisir dan air tawar beserta nilainya yang beragam, guna memandu penyandang dana publik maupun swasta untuk berinvestasi pada proyek yang memberikan dampak maksimal bagi masyarakat, alam, dan iklim,” tegas Coenraad Krijger, CEO Wetlands International.

Menyatukan Data yang Terfragmentasi

Selama ini, data lahan basah cenderung tersebar, tidak konsisten, dan tidak lengkap. Wetland Atlas menjembatani kesenjangan ini dengan menggabungkan informasi biofisik, sosial-ekonomi, hingga kebijakan ke dalam satu alat yang aksesibel. Platform ini memungkinkan pengambil kebijakan untuk menentukan prioritas lokasi mana yang akan memberikan dampak terbesar.

Francesca Antonelli, Freshwater Lead di Wetlands International, menambahkan bahwa alih-alih mencari data mentah di berbagai sumber yang membingungkan, para pengambil keputusan kini memiliki satu platform terintegrasi yang menyajikan wawasan terstruktur untuk memandu investasi mereka.

Fokus Awal di Sahel dan Tanduk Afrika

Saat ini, Wetland Atlas memfokuskan pemetaannya di wilayah Sahel dan Tanduk Afrika, kawasan yang sangat rentan di mana investasi pada kesehatan sungai dan danau merupakan kunci utama tidak hanya bagi ketahanan pangan, tetapi juga perdamaian dan keamanan kawasan.

Karounga Keita, Direktur Regional untuk Sahel, menyatakan bahwa alat ini adalah yang pertama menyajikan peta mendetail dan mutakhir bagi wilayah luas tersebut, membantu membangun ketahanan dan stabilitas bagi komunitas yang rentan.

Bagaimana Wetland Atlas Membantu Anda?

Dibuat berdasarkan prinsip akses terbuka (open-access), platform ini dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan dalam hal:

  • Identifikasi. Mengetahui jenis dan lokasi lahan basah secara akurat.
  • Mitigasi Iklim. Memahami potensi penyerapan karbon di lokasi tersebut.
  • Dampak Sosial. Menilai berapa banyak orang yang hidupnya bergantung pada lahan basah tersebut.
  • Status Perlindungan. Menentukan sejauh mana status hukum perlindungan lahan basah tersebut.
  • Analisis Investasi. Mengestimasi biaya dan imbal hasil dari intervensi konservasi tertentu.

Wetland Atlas dikembangkan dengan dukungan teknis dari Aberystwyth University, desain oleh Vizzuality, dan dukungan donor melalui Effektiv-Spenden.

Peluncuran ini hanyalah awal. Wetlands International mengundang seluruh mitra dan donor potensial untuk bergabung dalam fase pengembangan selanjutnya guna menjaga sisa lahan basah dunia yang berharga. Yus Rusila Noor, Direktur Wetlands International Indonesia, berharap bagi Indonesia, sebagai negara penting dalam sebaran lahan basah global, peluncuran ini menumbuhkan harapan pengembangan konsep atlas sejenis yang melingkupi lahan basah di Indonesia.

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Wetland Atlas Resmi Diluncurkan. Kompas Digital untuk Percepat Konservasi Lahan Basah bagi Manusia, Alam dan Iklim”

Kreator:

Yus Rusila Noor

Head of Office