Straight to content

Jejak Karbon Dibalik Secangkir Minuman Penyemangat

Published on:

Seperti syair yang dilantunkan Sting dalam tembang Englishman in New York, “I don’t drink coffee, my dear, I drink tea”, begitu pula saya. Sejak dulu saya tidak minum kopi, hanya teh, tanpa alasan yang benar-benar jelas mengapa.

Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam kegiatan lingkungan dan sering berkunjung serta berbincang dengan masyarakat di pedesaan, kebiasaan tidak minum kopi ternyata menjadi persoalan kecil tersendiri. Hampir di setiap rumah yang saya kunjungi ketika bertugas komunikasi masyarakat, suguhan yang tersedia adalah kopi hitam manis, meskipun kadang ada juga pilihan antara kopi dan teh. Jika yang tersedia hanya kopi, biasanya ada teman seperjalanan yang bertindak sebagai stunt man, diam-diam menukar gelas kopi yang sudah ia habiskan dengan gelas saya. Hal ini penting, karena jika sama sekali tidak diminum, merasa tidak enak kepada tuan rumah yang telah bersusah payah menyiapkannya. Berbeda halnya jika masyarakat yang dikunjungi sudah cukup akrab dan mengetahui bahwa saya tidak minum kopi. Biasanya tersedia pilihan teh atau sekadar air bening (bukan air putih). Urusan yang tampak sepele ini ternyata dapat berpengaruh terhadap kenyamanan interaksi, bahkan keberhasilan kegiatan di lapangan.

Teman-teman saya yang peminum kopi sering bercerita bahwa kopi membantu menjaga semangat saat kantuk menyerang pada jam-jam rawan. Kopi menjadi semacam bahan bakar yang meningkatkan fokus, kreativitas, sekaligus menjadi media interaksi sosial. Konon, efeknya bisa terasa hanya beberapa menit setelah tegukan pertama. Bagi sebagian orang, kopi bahkan menjadi ritual produktivitas. Saya sendiri tentu tidak mengalami langsung, meski rasanya minum teh memberi sensasi yang kurang lebih serupa, tanpa harus mengikuti ritual minum teh ala bangsawan Jepang atau Inggris.

Karena “provokasi” pergaulan, meskipun bisa dihitung dengan jari, saya pernah juga minum kopi di warung pinggir jalan. Jika ada pilihan, biasanya saya memilih kopi liberika. Bukan karena kepekaan rasa, saya belum pandai membaca profil rasa kopi, melainkan karena cerita di baliknya. Secara historis, kopi liberika (Coffea liberica) berasal dari Afrika Barat, seperti Liberia, dan masuk ke Indonesia pada abad ke-19 sebagai pengganti arabika yang terserang hama. Di beberapa wilayah, liberika ditanam di lahan gambut dan relatif toleran terhadap muka air tanah yang tinggi, sehingga tidak menuntut drainase dalam yang merusak tata hidrologi gambut. Liberika sering menjadi pilihan masyarakat untuk meningkatkan penghidupan tanpa terlalu menekan ekosistem gambut.

Dari sini saya mulai menyadari bahwa secangkir kopi pun tidak lepas dari isu perubahan iklim. Beberapa informasi menyebutkan bahwa satu cangkir kopi hitam dapat meninggalkan jejak karbon sekitar 210–270 gram CO-ekivalen. Jejak ini bisa meningkat hingga tiga sampai empat kali lipat bila ditambahkan susu. Produksi satu cangkir kopi juga memerlukan jejak air yang besar, dapat mencapai sekitar 140 liter. Jejak karbon akan semakin bertambah apabila kopinya ditanam dengan merusak lahan gambut atau berasal dari lahan hasil deforestasi, tetapi akan lebih terkendali jika jenis kopi yang dikonsumsi dapat mentoleransi muka air tanah yang relatif tinggi sehingga berpotensi menjadi tanaman paludikultur yang meminimalkan oksidasi gambut jika dikelola tanpa drainase dalam. Angka pastinya tentu bervariasi antar studi, tetapi pesannya jelas: kopi memiliki jejak lingkungan yang nyata.

Variabel yang lebih menentukan ternyata bukan seberapa jauh kopi dikirim, melainkan bagaimana kopi tersebut ditanam. Kopi impor yang ditanam dalam sistem agroforestri, di bawah naungan pohon, dapat memiliki jejak karbon lebih rendah dibanding kopi lokal yang berasal dari lahan hasil deforestasi atau dari perkebunan monokultur dengan input kimia intensif.

Diskusi ini menjadi jauh lebih krusial ketika bersinggungan dengan ekosistem lahan basah. Sebagai negara dengan luas gambut tropis terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan unik. Secara ilmiah, ancaman terbesar muncul ketika gambut didrainase untuk memberi ruang bagi perakaran tanaman. Saat air dikeluarkan melalui kanal, gambut yang kaya karbon terpapar oksigen dan mulai teroksidasi, melepaskan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun ke atmosfer. Berbagai studi menunjukkan bahwa emisi dari oksidasi gambut pada lahan yang didrainase dapat melampaui 20 ton CO per hektar per tahun. Artinya, secangkir kopi dari lahan gambut yang salah kelola membawa “utang karbon” yang sangat besar. Karena itu, pendekatan paludikultur, budidaya di lahan basah tanpa pengeringan, menjadi salah satu solusi berbasis sains yang menjanjikan bagi masa depan komoditas di lahan gambut, termasuk kopi yang toleran terhadap kondisi basah.

Teman setia yang kerap hadir dalam budaya minum kopi adalah rokok. Sayangnya, jejak lingkungan rokok juga tidak kecil. Selain emisi dari proses produksi, pengeringan tembakau (tobacco curing) di banyak tempat masih bergantung pada kayu bakar, yang berkontribusi pada deforestasi. Beberapa estimasi menunjukkan jejak karbon satu bungkus rokok sekitar 300 gram CO-ekivalen, dengan jejak air ribuan liter sepanjang rantai produksinya.

Lalu, apakah teh bebas jejak karbon? Ternyata tidak. Meskipun lebih kecil, secangkir teh tetap menghasilkan sekitar 30–50 gram CO-ekivalen, atau sekitar seperlima jejak kopi. Jejak airnya juga sekitar seperlima jejak kopi. Kebun teh yang dikelola dengan baik bahkan dapat berfungsi sebagai penyerap karbon tanah. Artinya, baik kopi maupun teh dapat menjadi instrumen konservasi, atau sebaliknya, tergantung cara pengelolaannya.

Jejak karbon bahkan dapat bertambah ketika kita menggunakan teknologi digital. Berbagai estimasi menyebutkan bahwa satu permintaan pada model bahasa besar Artificial Intelligence menghasilkan emisi 1,5 hingga 4 gram CO-e serta jejak air hingga 0,5 liter untuk proses pendinginan pusat data. Angkanya kecil per interaksi, tetapi menjadi signifikan dalam skala jutaan penggunaan.

Bayangkan situasi yang akrab: kita duduk di ruang ber-AC, menyusun kajian perubahan iklim, menggunakan AI, sambil menyeruput kopi, dengan atau tanpa susu, dan ditemani rokok. Di titik itu, menarik untuk sejenak menghitung jejak karbon kita sendiri, sambil membayangkan perubahan penggunaan lahan dan degradasi gambut yang mungkin menyertainya.

Tulisan ini tentu bukan untuk mengurangi selera menikmati kopi atau teh. Saya hanya ingin mengajak kita memahami latar belakang ekologis dari apa yang kita konsumsi sehari-hari. Dengan pengetahuan itu, mungkin kita bisa menekan pilihan yang memberatkan bumi dan beralih pada praktik yang lebih ramah iklim, seraya meningkatkan upaya yang menambah serapan karbon dan konservasi air.

Data yang disajikan di sini berasal dari berbagai publikasi dan juga bantuan kecerdasan buatan. Angka dapat berbeda antar sumber, tetapi pesannya tetap sama: kurangi jejak karbon dan jejak air, serta tingkatkan kontribusi kita pada praktik yang menjaga bumi. Tabik.

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Jejak Karbon Dibalik Secangkir Minuman Penyemangat”.

https://www.kompasiana.com/ecodien/698ac851c925c4744071c562/jejak-karbon-dibalik-secangkir-minuman-penyemangat?page=2&page_images=1

Kreator :

Yus Rusila Noor

Head of Office