{"id":3693,"date":"2026-09-07T09:42:21","date_gmt":"2026-09-07T02:42:21","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?post_type=wl_blog&#038;p=3693"},"modified":"2026-09-07T09:42:22","modified_gmt":"2026-09-07T02:42:22","slug":"membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir","status":"publish","type":"wl_blog","link":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/","title":{"rendered":"Membangun Ketahanan Pangan Berbasis Adaptasi Iklim di Wilayah Perdesaan Pesisir"},"content":{"rendered":"\n<p>Ketahanan pangan di wilayah pesisir tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan bantuan, tetapi juga melalui hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Dari hubungan inilah tumbuh kekuatan yang memungkinkan masyarakat tetap tangguh menghadapi perubahan iklim yang terus berlangsung.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3694\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1-300x200.jpg 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1-768x512.jpg 768w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1.jpg 1393w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pengelolaan hasil perikanan oleh kaum perempuan di Desa Sepatin, Kalimantan Timur. (Foto: Ahmad Zamroni \/ Dok. NASCLIM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Ada masa ketika masyarakat pesisir dapat membaca musim seperti membaca tanda-tanda yang telah akrab bagi mereka. Angin, arus, dan hujan memberi isyarat yang cukup untuk menentukan kapan melaut, menebar benur dan nener, atau menunggu waktu yang tepat. Namun kini, keteraturan itu perlahan bergeser. Musim tidak lagi datang sebagaimana dulu dikenali. Kadang terlambat, kadang terlalu panjang , kadang hadir dengan intensitas yang sulit diperkirakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam situasi seperti ini, fenomena El Ni\u00f1o bukan lagi sekadar istilah ilmiah yang terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Fenomena ini telah menjadi kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir. Kemarau yang memanjang, berkurangnya curah hujan, perubahan suhu dan kondisi laut yang semakin ekstrem, kini menjadi bagian dari pengalaman hidup masyarakat pesisir. Ketika kondisi tersebut diperkuat oleh pemanasan global, ketidakpastian tidak lagi bersifat sementara, melainkan mulai membentuk pola baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, pertanyaannya bukan lagi semata bagaimana meningkatkan produksi pangan, tetapi bagaimana membangun sistem pangan yang mampu bertahan di tengah perubahan. Dalam konteks wilayah perdesaan pesisir, ketahanan pangan tidak lagi cukup dipahami hanya sebagai ketersediaan bahan pangan di rumah tangga , melainkan juga kemampuan masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim yang terus berlangsung.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mangrove dalam Lanskap Ketahanan<\/h2>\n\n\n\n<p>Di tengah perubahan tersebut, ekosistem mangrove sering kali hadir sebagai elemen yang luput diperhitungkan secara memadai. Keberadaannya bahkan masih terus diusik oleh arus besar pembangunan pesisir. Padahal, mangrove merupakan penopang penting yang bekerja secara mendasar, baik bagi sistem ekologi pesisir maupun dalam konteks perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara global, luas mangrove di dunia diperkirakan masih tersisa sekitar 14,8 juta hektare (FAO, 2023). Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare atau lebih dari 20 persen total dunia (KLH, P2025). Angka ini menunjukkan bahwa wilayah pesisir Indonesia tidak hanya penting secara geografis, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam menghadapi perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p>Mangrove berfungsi sebagai pelindung alami pesisir dari abrasi dan intrusi air laut. Ekosistem ini juga menjadi habitat bagi berbagai biota yang menopang sistem pangan lokal, seperti ikan, udang, dan kepiting. Di saat yang sama, mangrove menyimpan karbon dalam jumlah besar, menjadikannya bagian penting dari upaya mitigasi perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun bagi masyarakat desa pesisir, fungsi tersebut tidak berhenti pada tataran ekologis. Mangrove adalah ruang kehidupan yang menyediakan kemungkinan. Ketika hasil tangkapan menurun atau kondisi tambak tidak stabil, kawasan mangrove sering kali masih menyimpan sumber penghidupan. Ia menyediakan alternatif, sekaligus menjaga kesinambungan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kerentanan yang Menguat<\/h2>\n\n\n\n<p>Perubahan iklim memperlihatkan bahwa ketergantungan pada satu sumber penghidupan menjadi semakin berisiko. Pola ekonomi yang homogen atau tidak beragam membuat masyarakat pesisir rentan terhadap guncangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemarau panjang dapat mengganggu produksi tambak, perubahan suhu laut memengaruhi pola migrasi ikan, dan kualitas air yang tidak stabil berdampak pada budidaya dan produktivitas perikanan. Dalam kondisi seperti ini, ketahanan pangan tidak dapat dibangun melalui pendekatan tunggal. Diversifikasi sumber kehidupan menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, tekanan terhadap mangrove masih terus berlangsung. Secara global, sekitar 25 persen mangrove telah hilang sejak 1980 (FAO, 2023). Di Indonesia, ekspansi tambak, pembangunan kawasan industri, infrastruktur pesisir dan pemukiman masih menjadi faktor utama yang memengaruhi keberadaan ekosistem ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Kehilangan mangrove sering kali tidak dirasakan secara langsung. Dampaknya muncul perlahan: abrasi meningkat, intrusi air laut meluas, produktivitas perikanan menurun, dan kualitas pesisir semakin melemah. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan memengaruhi sistem pangan sekaligus ekonomi masyarakat pesisir.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks perubahan iklim, kehilangan mangrove menjadi semakin signifikan. Mangrove bukan hanya pelindung alami pesisir, tetapi juga bagian dari kapasitas adaptasi masyarakat. Ketika mangrove berkurang, kemampuan masyarakat untuk menghadapi perubahan ikut melemah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum kemarau panjang, sungai-sungai yang bermuara ke pesisir Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur masih memasok air tawar dalam jumlah cukup sehingga keseimbangan salinitas terjaga, suhu perairan cenderung normal, dan produktivitas tambak relatif stabil. Namun ketika kemarau berkepanjangan datang, debit sungai menurun, intrusi air laut bergerak lebih jauh ke daratan, kadar garam di tambak meningkat, suhu perairan naik, dan kualitas habitat pesisir memburuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mangrove, tetapi juga oleh nelayan dan petambak yang menghadapi penurunan hasil tangkapan, memburuknya kualitas perairan pesisir -utamanya di ruang budidaya perikanan, serta meningkatnya risiko penyakit budidaya. Dalam kondisi seperti ini, keberadaan mangrove menjadi semakin penting karena berfungsi sebagai penyangga alami yang membantu menjaga stabilitas pesisir dan memperkuat kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p>Di berbagai wilayah pesisir, mulai berkembang praktik-praktik adaptif seperti sistem tambak terpadu dengan mangrove, budidaya kepiting bakau, hingga pengolahan hasil mangrove menjadi produk pangan dan ekonomi lokal. Berbagai inisiatif ini menunjukkan bagaimana masyarakat berupaya menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, keberlanjutan praktik-praktik tersebut sangat bergantung pada keberadaan ekosistem mangrove dan strategi fasilitasi yang tepat yang diberikan oleh para pihak. Tanpa mangrove yang sehat dan tanpa pendampingan yang memadai, ruang adaptasi menjadi semakin sempit.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Komunitas sebagai Fondasi Adaptasi<\/h2>\n\n\n\n<p>Menghadapi situasi ini, peran komunitas menjadi sangat penting. Ketahanan tidak dibangun secara individual, tetapi melalui kerja bersama dan kelembagaan lokal yang kuat. Kelompok nelayan, kelompok pembudidaya ikan, Kelompok Tani Hutan (KTH), kelompok perempuan, hingga BUMDes memiliki peran strategis dalam mengelola sumber daya dan mengembangkan strategi adaptasi berbasis lokal. Melalui kelompok-kelompok ini pengalaman dibagikan, aturan pemanfaatan disusun, dan usaha ekonomi lokal dikembangkan secara kolektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, pengelolaan mangrove berbasis komunitas perlu terus diperkuat. Keberlanjutan sering kali tumbuh dari kesepakatan dan rasa memiliki yang dibangun bersama. Ketika masyarakat terlibat langsung, pengelolaan sumber daya cenderung lebih terjaga dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Implementasi demplot tambak AMA (Assosiated Mangrove Aquaculuture) dan Sekolah Lapang Pesisir (Coastal Field School) yang diberikan melalui pendekatan komunitas di 6 Desa dampingan NASCLIM di Kalimatan Utara dan Kalimantan Timur, juga diharapkan dapat menjadi fondasi bagi warga pesisir di kedua wilayan ini lebih adaptif dalam menghadapi perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Menempatkan Adaptasi sebagai Arah<\/h2>\n\n\n\n<p>Perubahan iklim menuntut adanya penyesuaian dalam cara pandang pembangunan. Pendekatan yang hanya berfokus pada hasil jangka pendek semakin sulit dipertahankan dalam situasi yang penuh ketidakpastian.<\/p>\n\n\n\n<p>Di wilayah perdesaan pesisir, adaptasi perlu ditempatkan sebagai bagian mendasar dari perencanaan. Hal ini mencakup pengelolaan ekosistem, diversifikasi mata pencaharian, penguatan kelembagaan lokal hingga perlindungan dan rehabilitasi mangrove. Termasuk di dalamnya adalah redesain sistem ruang budidaya tambak menuju pola tambak yang terhubung dengan mangrove sebagai bagian dari lanskap pesisir yang lebih berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah perubahan yang berlangsung, desa yang berada di pesisir sering kali dipandang sebagai wilayah yang rentan. Namun, di balik kerentanan tersebut, terdapat potensi yang tidak kecil \u2013terutama jika sumber daya yang ada dikelola dengan cara yang tepat. Mangrove adalah salah satu di antaranya. Ia tidak selalu terlihat sebagai solusi utama, tetapi memiliki peran mendasar dalam menjaga keseimbangan ekologis, ekonomi, dan sosial masyarakat pesisir.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, membangun ketahanan pangan berbasis adaptasi iklim bukan hanya soal kebijakan semata atau besarnya bantuan yang diberikan dari luar. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun kembali hubungan antara manusia dan lingkungannya. Dari hubungan itulah ketahanan menemukan bentuknya \u2013tidak selalu cepat, tetapi memungkinkan masyarakat untuk bisa bertahan lebih lama di tengah perubahan yang terus berlangsung.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh: Sasmito &amp; Eko Budi Priyanto<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketahanan pangan di wilayah pesisir tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan bantuan, tetapi juga melalui hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Dari hubungan inilah tumbuh kekuatan yang memungkinkan masyarakat tetap tangguh menghadapi perubahan iklim yang terus berlangsung. Ada masa ketika masyarakat pesisir dapat membaca musim seperti membaca tanda-tanda yang telah akrab bagi mereka. Angin, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"featured_media":3694,"template":"","meta":{"_acf_changed":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"ep_exclude_from_search":false,"editor_notices":[]},"wl_issue":[],"wl_topic":[],"wl_type":[],"class_list":["post-3693","wl_blog","type-wl_blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Membangun Ketahanan Pangan Berbasis Adaptasi Iklim di Wilayah Perdesaan Pesisir - Wetlands International Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Membangun Ketahanan Pangan Berbasis Adaptasi Iklim di Wilayah Perdesaan Pesisir - Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ketahanan pangan di wilayah pesisir tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan bantuan, tetapi juga melalui hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Dari hubungan inilah tumbuh kekuatan yang memungkinkan masyarakat tetap tangguh menghadapi perubahan iklim yang terus berlangsung. Ada masa ketika masyarakat pesisir dapat membaca musim seperti membaca tanda-tanda yang telah akrab bagi mereka. Angin, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-07T02:42:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1393\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"928\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\\\/\",\"name\":\"Membangun Ketahanan Pangan Berbasis Adaptasi Iklim di Wilayah Perdesaan Pesisir - Wetlands International Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/09\\\/Picture1.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-07T02:42:21+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-07T02:42:22+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/09\\\/Picture1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/09\\\/Picture1.jpg\",\"width\":1393,\"height\":928},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Membangun Ketahanan Pangan Berbasis Adaptasi Iklim di Wilayah Perdesaan Pesisir\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"description\":\"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"width\":1920,\"height\":949,\"caption\":\"Wetlands International Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/facebook.com\\\/wetlandsinternationalindonesia\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/yayasanlahanbasah\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@yayasanlahanbasah\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Membangun Ketahanan Pangan Berbasis Adaptasi Iklim di Wilayah Perdesaan Pesisir - Wetlands International Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Membangun Ketahanan Pangan Berbasis Adaptasi Iklim di Wilayah Perdesaan Pesisir - Wetlands International Indonesia","og_description":"Ketahanan pangan di wilayah pesisir tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan bantuan, tetapi juga melalui hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Dari hubungan inilah tumbuh kekuatan yang memungkinkan masyarakat tetap tangguh menghadapi perubahan iklim yang terus berlangsung. Ada masa ketika masyarakat pesisir dapat membaca musim seperti membaca tanda-tanda yang telah akrab bagi mereka. Angin, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/","og_site_name":"Wetlands International Indonesia","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","article_modified_time":"2026-09-07T02:42:22+00:00","og_image":[{"width":1393,"height":928,"url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/","name":"Membangun Ketahanan Pangan Berbasis Adaptasi Iklim di Wilayah Perdesaan Pesisir - Wetlands International Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1.jpg","datePublished":"2026-09-07T02:42:21+00:00","dateModified":"2026-09-07T02:42:22+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/#primaryimage","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1.jpg","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/09\/Picture1.jpg","width":1393,"height":928},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/membangun-ketahanan-pangan-berbasis-adaptasi-iklim-di-wilayah-perdesaan-pesisir\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Membangun Ketahanan Pangan Berbasis Adaptasi Iklim di Wilayah Perdesaan Pesisir"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","name":"Wetlands International Indonesia","description":"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.","publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization","name":"Wetlands International Indonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","width":1920,"height":949,"caption":"Wetlands International Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/","https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog\/3693","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/wl_blog"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3694"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3693"}],"wp:term":[{"taxonomy":"wl_issue","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_issue?post=3693"},{"taxonomy":"wl_topic","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_topic?post=3693"},{"taxonomy":"wl_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_type?post=3693"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}