{"id":3677,"date":"2026-08-28T18:11:30","date_gmt":"2026-08-28T11:11:30","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?post_type=wl_blog&#038;p=3677"},"modified":"2026-08-28T18:11:31","modified_gmt":"2026-08-28T11:11:31","slug":"mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak","status":"publish","type":"wl_blog","link":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/","title":{"rendered":"Mengenal Anco, Mata untuk Memantau Udang di Tambak"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Di tambak AMA milik Ansyar, 54 tahun, sebuah alat sederhana menjadi jendela untuk mengamati kehidupan di dalam air. Namanya anco, jaring berbentuk lingkaran atau persegi berukuran sekitar        1 \u00d7 1 meter yang digunakan untuk memantau pertumbuhan dan kondisi udang maupun nener bandeng. Di tambak ini, perangkat tersebut baru digunakan selama sekitar tiga bulan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"830\" height=\"458\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-28-175714.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3678\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-28-175714.png 830w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-28-175714-300x166.png 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-28-175714-768x424.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 830px) 100vw, 830px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Anco lebih lazim dijumpai pada tambak intensif. Kini, alat serupa mulai diterapkan di tambak tradisional Desa Muara Pantauan untuk membantu petambak memperoleh data pemantauan yang lebih konsisten.<\/p>\n\n\n\n<p>Cara menggunakannya sederhana. Pakan udang, baik berupa pasta maupun gumpalan, diletakkan di atas jaring sebagai umpan. Anco kemudian diturunkan perlahan menggunakan tali ke bagian tambak yang diperkirakan menjadi tempat udang aktif. Setelah didiamkan, mulai sekitar satu jam hingga semalaman, jaring diangkat untuk melihat udang yang masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-24-at-9.46.39-AM-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3679\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-24-at-9.46.39-AM-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-24-at-9.46.39-AM-300x225.jpeg 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-24-at-9.46.39-AM-768x576.jpeg 768w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-24-at-9.46.39-AM-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-24-at-9.46.39-AM-2048x1536.jpeg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sampel tersebut memberikan gambaran langsung mengenai ukuran, pertumbuhan, dan kondisi udang. Petambak juga dapat mengenali perubahan yang tidak lazim, seperti pertumbuhan yang tidak sesuai atau tanda-tanda penyakit, sehingga tindakan dapat dilakukan lebih cepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum mengenal cara ini, Ansyar mengandalkan pengamatan pada malam hari dari tepi tambak dengan bantuan senter. Cara tersebut tidak selalu efektif. \u201cSaya harus menunggu lama dan belum tentu udang saya dapatkan, sehingga saya tidak bisa mengecek kondisi udang di dalam air,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2-1024x576.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3680\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2-300x169.jpeg 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2-768x432.jpeg 768w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Melalui program NASCLIM dan pelatihan yang diterimanya, Ansyar mulai mencoba anco di tambak AMA. Meski bukan teknologi baru, baginya alat ini memberikan cara yang lebih praktis untuk memantau kondisi budidaya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMenurut saya, proses pemantauan menjadi lebih efisien dan efektif,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengamatan rutin juga dapat membantu menekan risiko kerugian. Dengan mengetahui kondisi udang sejak dini, petambak memiliki kesempatan untuk merespons sebelum masalah berkembang dan memengaruhi hasil panen.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.35.33-AM-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3681\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.35.33-AM-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.35.33-AM-300x225.jpeg 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.35.33-AM-768x576.jpeg 768w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.35.33-AM.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Namun, penggunaan anco di tambak Ansyar belum memberikan hasil optimal. Salah satu kendalanya adalah udang yang jarang muncul saat pemantauan, baik menggunakan jaring maupun ketika pengamatan dilakukan pada malam hari. Jika udang tidak masuk ke anco, jumlah alat dapat ditambah dan ditempatkan di beberapa titik untuk memperbesar peluang mendapatkan sampel.<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi tambak turut memengaruhi efektivitas pemantauan. Sungai di sekitar tambak saat ini relatif dangkal sehingga ketika panen, aliran air tidak cukup deras untuk membantu mengeluarkan udang. Tambak juga baru selesai diperbaiki sehingga kondisi budidayanya masih dalam tahap pemulihan.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, keberadaan udang masih dapat dikenali dari kondisi air. Pada pagi hari, air yang tampak keruh menjadi salah satu petunjuk adanya aktivitas udang. Sebaliknya, air yang tetap jernih dapat mengindikasikan minimnya pergerakan di dalam tambak.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Ansyar, anco bukan sekadar jaring untuk menangkap sampel. Alat sederhana ini membuka cara baru untuk membaca kondisi tambak dan mengubah pengamatan yang sebelumnya mengandalkan perkiraan menjadi informasi yang dapat dilihat dan dicatat secara langsung.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penulis<\/strong>: Nur Hayati dan Devi Susilo<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tambak AMA milik Ansyar, 54 tahun, sebuah alat sederhana menjadi jendela untuk mengamati kehidupan di dalam air. Namanya anco, jaring berbentuk lingkaran atau persegi berukuran sekitar 1 \u00d7 1 meter yang digunakan untuk memantau pertumbuhan dan kondisi udang maupun nener bandeng. Di tambak ini, perangkat tersebut baru digunakan selama sekitar tiga bulan. Anco lebih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"featured_media":3680,"template":"","meta":{"_acf_changed":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"ep_exclude_from_search":false,"editor_notices":[]},"wl_issue":[],"wl_topic":[],"wl_type":[],"class_list":["post-3677","wl_blog","type-wl_blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Mengenal Anco, Mata untuk Memantau Udang di Tambak - Wetlands International Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengenal Anco, Mata untuk Memantau Udang di Tambak - Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di tambak AMA milik Ansyar, 54 tahun, sebuah alat sederhana menjadi jendela untuk mengamati kehidupan di dalam air. Namanya anco, jaring berbentuk lingkaran atau persegi berukuran sekitar 1 \u00d7 1 meter yang digunakan untuk memantau pertumbuhan dan kondisi udang maupun nener bandeng. Di tambak ini, perangkat tersebut baru digunakan selama sekitar tiga bulan. Anco lebih [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-28T11:11:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\\\/\",\"name\":\"Mengenal Anco, Mata untuk Memantau Udang di Tambak - Wetlands International Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/08\\\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-08-28T11:11:30+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-28T11:11:31+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/08\\\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/08\\\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2.jpeg\",\"width\":1280,\"height\":720},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Mengenal Anco, Mata untuk Memantau Udang di Tambak\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"description\":\"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"width\":1920,\"height\":949,\"caption\":\"Wetlands International Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/facebook.com\\\/wetlandsinternationalindonesia\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/yayasanlahanbasah\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@yayasanlahanbasah\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengenal Anco, Mata untuk Memantau Udang di Tambak - Wetlands International Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mengenal Anco, Mata untuk Memantau Udang di Tambak - Wetlands International Indonesia","og_description":"Di tambak AMA milik Ansyar, 54 tahun, sebuah alat sederhana menjadi jendela untuk mengamati kehidupan di dalam air. Namanya anco, jaring berbentuk lingkaran atau persegi berukuran sekitar 1 \u00d7 1 meter yang digunakan untuk memantau pertumbuhan dan kondisi udang maupun nener bandeng. Di tambak ini, perangkat tersebut baru digunakan selama sekitar tiga bulan. Anco lebih [&hellip;]","og_url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/","og_site_name":"Wetlands International Indonesia","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","article_modified_time":"2026-08-28T11:11:31+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":720,"url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/","name":"Mengenal Anco, Mata untuk Memantau Udang di Tambak - Wetlands International Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2.jpeg","datePublished":"2026-08-28T11:11:30+00:00","dateModified":"2026-08-28T11:11:31+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/#primaryimage","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2.jpeg","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-8.33.39_2.jpeg","width":1280,"height":720},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/mengenal-anco-mata-untuk-memantau-udang-di-tambak\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Mengenal Anco, Mata untuk Memantau Udang di Tambak"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","name":"Wetlands International Indonesia","description":"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.","publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization","name":"Wetlands International Indonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","width":1920,"height":949,"caption":"Wetlands International Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/","https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog\/3677","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/wl_blog"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3680"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"wl_issue","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_issue?post=3677"},{"taxonomy":"wl_topic","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_topic?post=3677"},{"taxonomy":"wl_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_type?post=3677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}