{"id":3602,"date":"2026-08-13T13:58:22","date_gmt":"2026-08-13T06:58:22","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?post_type=wl_blog&#038;p=3602"},"modified":"2026-08-13T14:52:08","modified_gmt":"2026-08-13T07:52:08","slug":"dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan","status":"publish","type":"wl_blog","link":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/","title":{"rendered":"Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan"},"content":{"rendered":"\n<p>Di Desa Muara Pantuan, sebuah perubahan dalam usaha ekonomi lahir dari langkah seorang perempuan perantau. Suriani, perempuan suku Bugis yang meninggalkan kampung halamannya di usia 38 tahun, datang membawa harapan sederhana: membangun kehidupan yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Suriani, salah satu anggota komunitas Coastal Smart Livelihood (CSL) Muara Pantuan memiliki usaha untuk membuat kerupuk udang. Udang yang didapat berasal dari pasar yang dikelola secara sederhana dengan metode produksi yang seadanya, yaitu adonan yang telah diolah akan direbus kurang lebih selama satu jam, kemudian diangin-anginkan sampai dingin dan didiamkan semalaman di kulkas agar adonan mengeras sehingga memudahkan proses pemotongan. Kemudian dijemur satu persatu di bawah sinar matahari selama dua hari- jika cuaca cerah dan dimasukkan kemasan sesuai ukuran (250 gram, 500 gram, dan 1000 gram), serta pemasaran yang dilakukan melalui verbal dan sosial media (facebook dan WhatsApp) untuk menginfokan ketersediaan produk.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"656\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-13-134355-1024x656.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3606\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-13-134355-1024x656.png 1024w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-13-134355-300x192.png 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-13-134355-768x492.png 768w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-13-134355.png 1108w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Suriani, salah satu anggota komunitas Coastal Smart Livelihood (CSL) Muara Pantuan yang memiliki usaha kerupuk udang.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Pelatihan pengembangan usaha diikuti Suriani pada 15 Juni 2025 melalui program <em>Nature-Based for Climate Solutions in Mangrove Landscapes<\/em>&nbsp;(NASCLIM), diselenggarakan oleh Global Green Growth Institute (GGGI) dan Wetlands International, membuka wawasan sekaligus meningkatkan keterampilannya dalam mengembangkan usaha kerupuk udang yang lebih sehat dan berkelanjutan. Melalui pelatihan tersebut, ia mempelajari pentingnya membangun kolaborasi di sepanjang rantai usaha, mulai dari penggunaan bahan baku lokal yang berasal dari tambak ramah lingkungan hingga strategi pemasaran produk.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"622\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-1024x622.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3603\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-1024x622.png 1024w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-300x182.png 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-768x467.png 768w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang.png 1256w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Satu setengah bulan setelah mengikuti pelatihan, kelompok tersebut mulai mampu memproduksi 10 kilogram kerupuk udang setiap dua minggu tanpa menggunakan MSG maupun pewarna buatan. Perubahan ini menjadi langkah penting dibandingkan dengan praktik produksi sebelumnya yang masih mengandalkan kedua bahan tersebut. Bagi kelompok usaha kecil di desa, inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga menjadi titik balik dalam mewujudkan usaha yang mendukung kesejahteraan ekonomi sekaligus kesehatan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka juga tengah mengembangkan strategi rantai usaha yang terintegrasi dengan kelompok masyarakat lainnya yang ada di desa. Rencananya, kelompok Coastal Field School (CFS) akan berperan sebagai pemasok udang dari tambak yang ramah lingkungan, kelompok usaha produksi Climate-Smart Livelihood (CSL)&nbsp;sebagai pengolah produk kerupuk siap jual, dan kelompok Women Field School (WFS) sebagai tim pemasaran lokal dan digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagian paling menyentuh ialah mengenai bagaimana masyarakat kini mulai memahami nilai ekosistem mangrove. &nbsp;Dahulu dianggap mengganggu pengelolaan tambak, kini mangrove dipandang sebagai sahabat produktivitas tambak yang menjaga kualitas air dan menyediakan habitat udang alami dalam mendukung keberlanjutan usaha budidaya tambak. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan hubungan timbal balik antara kelestarian mangrove dan kesejahteraan masyarakat, beberapa anggota kelompok bahkan menjadi lebih aktif&nbsp; dalam upaya perlindungan hutan mangrove di desanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"909\" height=\"686\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3605\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-3.png 909w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-3-300x226.png 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-3-768x580.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 909px) 100vw, 909px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Di bawah kepemimpinannya, dengan dukungan pemerintah desa dan&nbsp; pemerintah daerah terkait, Suriani dan kelompoknya mulai mengembangkan usaha kerupuk udangnya secara lebih profesional. Mereka sudah merancang rumah produksi yang memenuhi standar produksi yang sehat, mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan tepat sasaran, serta mulai melakukan pencatatan administrasi usaha yang lebih rapi. Terobosan tersebut menjadi tonggak sejarah perubahan dalam kepemimpinan Suriani, dari seorang perantau menjadi penggerak usaha kelompok perempuan desa, dari produksi usaha tradisional menuju usaha yang berkelanjutan, yang memberdayakan&nbsp; masyarakat desa secara luas dan melestarikan ekosistem mangrove desa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"646\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2-1024x646.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3604\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2-1024x646.png 1024w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2-300x189.png 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2-768x485.png 768w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2.png 1255w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Selain peningkatan pemberdayaan kelompok perempuan dan pembangunan ekonomi lokal, Desa Muara Pantuan kini menerima perhatian yang tulus dari masyarakatnya dalam hal pelestarian ekosistem mangrove. Kisah Ibu Suriani membuktikan bahwa langkah kecil, jika diiringi tekad dan komitmen untuk maju bersama, mampu memantik perubahan besar yang menyentuh banyak aspek kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><strong>Kredit<\/strong><\/strong><br>Kisah ini berdasarkan dokumentasi lapangan NASCLIM dari Desa Muara Pantuan, Kalimantan Timur, disusun oleh <strong><strong>Nor Hayati<\/strong><\/strong>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Desa Muara Pantuan, sebuah perubahan dalam usaha ekonomi lahir dari langkah seorang perempuan perantau. Suriani, perempuan suku Bugis yang meninggalkan kampung halamannya di usia 38 tahun, datang membawa harapan sederhana: membangun kehidupan yang lebih baik. Suriani, salah satu anggota komunitas Coastal Smart Livelihood (CSL) Muara Pantuan memiliki usaha untuk membuat kerupuk udang. Udang yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"featured_media":3604,"template":"","meta":{"_acf_changed":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"ep_exclude_from_search":false,"editor_notices":[]},"wl_issue":[],"wl_topic":[],"wl_type":[],"class_list":["post-3602","wl_blog","type-wl_blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan - Wetlands International Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan - Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di Desa Muara Pantuan, sebuah perubahan dalam usaha ekonomi lahir dari langkah seorang perempuan perantau. Suriani, perempuan suku Bugis yang meninggalkan kampung halamannya di usia 38 tahun, datang membawa harapan sederhana: membangun kehidupan yang lebih baik. Suriani, salah satu anggota komunitas Coastal Smart Livelihood (CSL) Muara Pantuan memiliki usaha untuk membuat kerupuk udang. Udang yang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-13T07:52:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1255\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"792\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\\\/\",\"name\":\"Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan - Wetlands International Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/08\\\/pelatihan-kerupuk-udang-2.png\",\"datePublished\":\"2026-08-13T06:58:22+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-13T07:52:08+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/08\\\/pelatihan-kerupuk-udang-2.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/08\\\/pelatihan-kerupuk-udang-2.png\",\"width\":1255,\"height\":792},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"description\":\"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"width\":1920,\"height\":949,\"caption\":\"Wetlands International Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/facebook.com\\\/wetlandsinternationalindonesia\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/yayasanlahanbasah\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@yayasanlahanbasah\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan - Wetlands International Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan - Wetlands International Indonesia","og_description":"Di Desa Muara Pantuan, sebuah perubahan dalam usaha ekonomi lahir dari langkah seorang perempuan perantau. Suriani, perempuan suku Bugis yang meninggalkan kampung halamannya di usia 38 tahun, datang membawa harapan sederhana: membangun kehidupan yang lebih baik. Suriani, salah satu anggota komunitas Coastal Smart Livelihood (CSL) Muara Pantuan memiliki usaha untuk membuat kerupuk udang. Udang yang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/","og_site_name":"Wetlands International Indonesia","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","article_modified_time":"2026-08-13T07:52:08+00:00","og_image":[{"width":1255,"height":792,"url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2.png","type":"image\/png"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/","name":"Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan - Wetlands International Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2.png","datePublished":"2026-08-13T06:58:22+00:00","dateModified":"2026-08-13T07:52:08+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/#primaryimage","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/pelatihan-kerupuk-udang-2.png","width":1255,"height":792},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/dari-harapan-menjadi-penggerak-perubahan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Dari Harapan, Menjadi Penggerak Perubahan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","name":"Wetlands International Indonesia","description":"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.","publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization","name":"Wetlands International Indonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","width":1920,"height":949,"caption":"Wetlands International Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/","https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog\/3602","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/wl_blog"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3604"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3602"}],"wp:term":[{"taxonomy":"wl_issue","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_issue?post=3602"},{"taxonomy":"wl_topic","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_topic?post=3602"},{"taxonomy":"wl_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_type?post=3602"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}