{"id":3600,"date":"2026-08-11T09:33:35","date_gmt":"2026-08-11T02:33:35","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?post_type=wl_blog&#038;p=3600"},"modified":"2026-08-11T09:34:17","modified_gmt":"2026-08-11T02:34:17","slug":"saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah","status":"publish","type":"wl_blog","link":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/","title":{"rendered":"Saat El Ni\u00f1o Mengancam Kelestarian Lahan Basah"},"content":{"rendered":"\n<p>Krisis iklim yang diakibatkan El Ni\u00f1o berkembang perlahan namun berdampak luas terhadap ketersediaan air, pangan, dan kesehatan. Di Indonesia, kekeringan akibat El Ni\u00f1o meningkatkan risiko kerusakan lahan basah, terutama gambut dan mangrove yang berperan penting menyimpan karbon dan air. Perlindungan serta rehabilitasi lahan basah menjadi strategi kunci untuk memperkuat ketahanan iklim dan mengurangi risiko bencana di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"723\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1-1024x723.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3601\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1-1024x723.png 1024w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1-300x212.png 300w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1-768x542.png 768w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1.png 1430w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>El Ni\u00f1o kembali mengingatkan bahwa krisis iklim tidak selalu hadir dalam bentuk bencana yang datang tiba-tiba. Ia bergerak perlahan, merayap melalui musim kemarau yang semakin panjang, sumur-sumur mulai terasa asin, udara yang kian panas, serta bentang lahan perlahan kehilangan cadangan air.<\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena yang berawal dari pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik berkembang menjadi gangguan iklim global yang memengaruhi sistem pangan, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, hingga ketahanan ekosistem di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, El Ni\u00f1o identik dengan udara yang lebih panas, hujan yang semakin jarang, tanah retak, sungai menyusut, hingga meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika curah hujan turun drastis, tanah kehilangan kelembapan, sumber air mengering, dan ekosistem menjadi semakin rentan.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia memiliki 30% mangrove dunia (&gt;3 juta ha) dan sekitar 22 juta ha lahan gambut (World Bank, 2024). Ekosistem gambut dan mangrove (PME\/peatland and mangrove ecosystem) di Indonesia juga memiliki kepadatan karbon ekosistem tertinggi di dunia (mangrove = 1.023 MgC ha-1 dan lahan gambut = 2.658 MgC ha-1), sebuah kapasitas yang besar untuk peluang mitigasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena El Ni\u00f1o kembali menjadi sorotan global. Di Indonesia, siklus ini tidak hanya dipahami sebagai perubahan suhu laut, tetapi juga sebagai pemicu krisis berlapis, mulai dari kebakaran hutan dan lahan hingga terganggunya sistem pangan dan ketersediaan air. Dalam konteks tersebut, pendekatan lanskap lahan basah menjadi semakin penting sekaligus semakin rentan.<\/p>\n\n\n\n<p>El Ni\u00f1o menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasokan air di beberapa daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia dengan periode kekeringan paling intens (Rohmat, 2023).<\/p>\n\n\n\n<p>Pada saat El Ni\u00f1o terjadi, memicu penurunan curah hujan yang signifikan. Dampaknya terlihat jelas, permukaan laut yang hangat, vegetasi kehilangan kelembapan alami, dan cadangan air semakin menurun. Pada wilayah dengan dominasi ekosistem lahan basah seperti rawa, gambut, dan mangrove, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan ekosistem yang serius.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian oleh Sandi <em>et al.<\/em>, 2019, menunjukkan bahwa ekosistem lahan basah dapat mengalami periode kekeringan ekstrem yang dipengaruhi oleh siklus El Ni\u00f1o, namun vegetasi lahan basah tetap menunjukkan resiliensi dan mampu pulih ketika kondisi hidrologis kembali membaik.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, lanskap gambut saat mengalami kekeringan berkepanjangan tidak selalu diikuti restrukturisasi ekosistem &nbsp;yang cepat. Gambut mengering mudah terbakar, dan api dapat menjalar di bawah permukaan tanah selama berminggu-minggu tanpa terlihat.<\/p>\n\n\n\n<p>El Ni\u00f1o yang terjadi pada 2015 silam menjadi pengingat. &nbsp;Jutaan hektar lahan gambut terbakar, menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar, dan menimbulkan dampak kesehatan lintas negara di Asia Tenggara. Biaya besar pun harus dikeluarkan untuk penanganan kebakaran, sementara manfaat ekologis yang hilang jauh lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Lahan basah sering dianggap sebagai lahan yang \u201ctidak produktif\u201d (Page, 2022), padahal justru memiliki fungsi ekologis penting dalam menghadapi krisis iklim. Ekosistem ini berfungsi sebagai penyimpan air alami, menjaga kelembapan tanah, serta menjadi penyangga pada musim kering. Gambut, misalnya, mampu menyimpan air hingga beberapa kali lipat dari beratnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayangnya, di tengah berbagai kesepakatan global tentang iklim, masyarakat di sekitar kawasan lahan basah masih menghadapi tekanan yang besar. &nbsp;Padahal lahan basah juga memberikan perlindungan bagi kelompok masyarakat sekitarnya, meliputi perlindungan pesisir, pengendalian banjir, kualitas air, dan ketahanan pangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Di banyak wilayah pesisir dan pedalaman, lahan basah menjadi sumber penghidupan melalui perikanan, pertanian, maupun hasil hutan non-kayu. Ketika lahan mengering, produksi pangan menurun, akses air bersih semakin terbatas, dan konflik perebutan sumber daya meningkat dan harus mencari alternatif penghidupan lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Menghadapi El Ni\u00f1o bukan hanya soal mitigasi bencana, tetapi juga bagaimana memperkuat ketahanan ekosistem. Lahan basah harus dipandang sebagai infrastruktur alami yang setara pentingnya dengan infrastruktur dasar.<\/p>\n\n\n\n<p>Kerugian dan kerusakan (<em>loss and damage<\/em>) ditekan melalui peningkatan kesadaran terhadap perubahan iklim. Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan melalui restorasi hidrologi gambut, perlindungan mangrove, penguatan tata kelola berbasis masyarakat, dan integrasi lahan basah dalam kebijakan iklim nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>El Ni\u00f1o sudah datang sebagai bagian dari dinamika iklim dunia. Namun dampaknya tidak harus menjadi bencana. Dengan tata kelola tepat, lahan basah bertransformasi menjadi benteng alami yang melindungi Indonesia dari krisis iklim.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, kesadaran terhadap perubahan iklim harus menjadi fokus utama yang dipahami hingga tingkat masyarakat. Penguatan pemahaman dan kemampuan adaptasi menjadi kunci untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu melindungi lahan basah, tetapi apakah kita cukup cepat bertindak sebelum siklus berikutnya kembali datang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Oleh : Ehdra Beta Masran<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Krisis iklim yang diakibatkan El Ni\u00f1o berkembang perlahan namun berdampak luas terhadap ketersediaan air, pangan, dan kesehatan. Di Indonesia, kekeringan akibat El Ni\u00f1o meningkatkan risiko kerusakan lahan basah, terutama gambut dan mangrove yang berperan penting menyimpan karbon dan air. Perlindungan serta rehabilitasi lahan basah menjadi strategi kunci untuk memperkuat ketahanan iklim dan mengurangi risiko bencana [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"featured_media":3601,"template":"","meta":{"_acf_changed":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"ep_exclude_from_search":false,"editor_notices":[]},"wl_issue":[],"wl_topic":[],"wl_type":[],"class_list":["post-3600","wl_blog","type-wl_blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Saat El Ni\u00f1o Mengancam Kelestarian Lahan Basah - Wetlands International Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Saat El Ni\u00f1o Mengancam Kelestarian Lahan Basah - Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Krisis iklim yang diakibatkan El Ni\u00f1o berkembang perlahan namun berdampak luas terhadap ketersediaan air, pangan, dan kesehatan. Di Indonesia, kekeringan akibat El Ni\u00f1o meningkatkan risiko kerusakan lahan basah, terutama gambut dan mangrove yang berperan penting menyimpan karbon dan air. Perlindungan serta rehabilitasi lahan basah menjadi strategi kunci untuk memperkuat ketahanan iklim dan mengurangi risiko bencana [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-11T02:34:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1-1024x723.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"723\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\\\/\",\"name\":\"Saat El Ni\u00f1o Mengancam Kelestarian Lahan Basah - Wetlands International Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/08\\\/Picture1-1.png\",\"datePublished\":\"2026-08-11T02:33:35+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-11T02:34:17+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/08\\\/Picture1-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2026\\\/08\\\/Picture1-1.png\",\"width\":1430,\"height\":1010},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Saat El Ni\u00f1o Mengancam Kelestarian Lahan Basah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"description\":\"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"width\":1920,\"height\":949,\"caption\":\"Wetlands International Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/facebook.com\\\/wetlandsinternationalindonesia\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/yayasanlahanbasah\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@yayasanlahanbasah\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Saat El Ni\u00f1o Mengancam Kelestarian Lahan Basah - Wetlands International Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Saat El Ni\u00f1o Mengancam Kelestarian Lahan Basah - Wetlands International Indonesia","og_description":"Krisis iklim yang diakibatkan El Ni\u00f1o berkembang perlahan namun berdampak luas terhadap ketersediaan air, pangan, dan kesehatan. Di Indonesia, kekeringan akibat El Ni\u00f1o meningkatkan risiko kerusakan lahan basah, terutama gambut dan mangrove yang berperan penting menyimpan karbon dan air. Perlindungan serta rehabilitasi lahan basah menjadi strategi kunci untuk memperkuat ketahanan iklim dan mengurangi risiko bencana [&hellip;]","og_url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/","og_site_name":"Wetlands International Indonesia","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","article_modified_time":"2026-08-11T02:34:17+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":723,"url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1-1024x723.png","type":"image\/png"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/","name":"Saat El Ni\u00f1o Mengancam Kelestarian Lahan Basah - Wetlands International Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1.png","datePublished":"2026-08-11T02:33:35+00:00","dateModified":"2026-08-11T02:34:17+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/#primaryimage","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/08\/Picture1-1.png","width":1430,"height":1010},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/saat-el-nino-mengancam-kelestarian-lahan-basah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Saat El Ni\u00f1o Mengancam Kelestarian Lahan Basah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","name":"Wetlands International Indonesia","description":"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.","publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization","name":"Wetlands International Indonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","width":1920,"height":949,"caption":"Wetlands International Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/","https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog\/3600","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/wl_blog"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3601"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3600"}],"wp:term":[{"taxonomy":"wl_issue","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_issue?post=3600"},{"taxonomy":"wl_topic","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_topic?post=3600"},{"taxonomy":"wl_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_type?post=3600"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}