{"id":3234,"date":"2025-11-26T11:02:12","date_gmt":"2025-11-26T04:02:12","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?post_type=wl_blog&#038;p=3234"},"modified":"2025-11-26T13:20:01","modified_gmt":"2025-11-26T06:20:01","slug":"cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan","status":"publish","type":"wl_blog","link":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/","title":{"rendered":"Cerita perubahan: Petambak di Kalimantan Utara Diberdayakan Melalui Inovasi Berbasis Lingkungan"},"content":{"rendered":"\n<p>Tambak udang windu pernah menjadi sumber kejayaan masyarakat pesisir di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara antara tahun 1990an-2010. Saat itu, produksi udang windu bisa mencapai satu ton per siklus. Namun, seiring waktu, hasil panen menurun drastis hingga hanya 15\u201320 kilogram saja per hektare per siklus budidaya tiga bulan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendapatan yang kian menurun membuat masyarakat kerap terpaksa berutang ke pengepul hanya untuk menutupi biaya produksi. \u201cKalau dulu hasil panen bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga sampai musim berikutnya, sekarang bahkan tidak cukup untuk menutup biaya obat (pestisida) dan pupuk,\u201d ujar Ramsyah, petambak di Desa Sekatak Bengara.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tahun 2024 program Pendekatan Alami untuk Penghidupan Berkelanjutan di Kawasan Mangrove (NASCLIM) hadir di empat desa pesisir Kabupaten Bulungan dan mengajak petambak untuk mengkaji bersama pola pengelolaan tambak mereka melalui kegiatan Sekolah Lapang Pesisir (<em>Coastal Field School<\/em>\/CFS) pengelolaan tambak yang berkelanjutan.&nbsp; Dalam kegiatan tersebut, petambak mempelajari praktik-praktik yang mendukung peningkatan pengelolaan tambak, salah satunya pembuatan dan penggunaan larutan mikroorganisme lokal (MoL).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/11\/cerita-1-1024x528.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2943\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Proses FGD di Sekatak Buji untuk anggota CFS Nelayan Seberuang Mandiri<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Saat pertama kali mendengar tentang MoL, banyak petambak sempat ragu akan manfaatnya karena mereka&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; umumnya hanya mengenal penggunaan pupuk dan pestisida sintetis. MoL sendiri merupakan larutan kaya mikroba bermanfaat yang membantu mempercepat dekomposisi bahan organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi, dan menumbuhkan pakan alami seperti plankton di dalam tambak. Larutan MoL dibuat dengan mencampurkan beberapa bahan organik yang tersedia di desa, yang kemudian difermentasi. Penerapannya terbukti mampu memperbaiki kualitas air dan kesuburan tanah tambak sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk serta pestisida sintetis.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun keraguan itu perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu, apalagi ketika melihat salah satu dari anggota kelompok petambak yang berani mencoba dan mulai merasakan hasil positif.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/11\/cerita2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2945\" style=\"width:769px;height:auto\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Proses pembuatan MoL dari sisa ikan, kotoran burung walet, dedak, beras basi, ragi, dan cairan fermentasi di Desa Liagu<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Di Desa Liagu, Jony Lee melihat sendiri air tambaknya kembali keruh kehijauan dan udang tumbuh lebih sehat. \u201cWaktu udang di tambak tetangga banyak yang sakit dan mati masal, udang di tambak saya tetap bertahan dan saya bisa simpulkan hal itu karena MoL yang saya gunakan,\u201d ucapnya. Jony kini rutin menggunakan MoL sambil terus berkonsultasi dengan ahli perikanan dan akademisi untuk memastikan praktiknya sudah sesuai.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/11\/cerita-3.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2944\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Jony Lee menunjukkan panen udang yang melimpah dan tahan penyakit setelah menerapkan MoL.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Di Dusun Antal, Desa Salimbatu, inisiatif lahir dari Bohari, seorang petambak berpengalaman. Seusai mengikuti Training of Trainer (ToT) kepemanduan CFS di Tanjung Selor, ia memberanikan diri bereksperimen membuat MoL dari limbah kepala udang dan molase. Hasilnya sungguh mengejutkan, di mana jenis udang bintik tiba-tiba muncul hingga hampir 100 kilogram dalam satu siklus.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya sendiri tidak percaya. Waktu angkat jaring dan lihat udang bintiknya banyak sekali dan belum pernah ada sejak saya buka tambak, rasanya senang sekali,\u201d ujar Bohari. Tambahan ini menjadi rezeki tak terduga di luar panen udang windu dan ikan bandeng yang selama ini Bohari usahakan di dalam tambaknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Studi menunjukkan bahwa penurunan produktivitas kolam umumnya disebabkan oleh kerusakan ekosistem mangrove di daerah pesisir. Ketika mangrove mengalami degradasi, kesuburan tanah dan kualitas air di daerah kolam semakin memburuk. Program NASCLIM bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat mangrove bagi mata pencaharian komunitas pesisir di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan pendanaan dari Pemerintah Kanada, NASCLIM juga bekerja sama dengan perwakilan pemerintah kabupaten di dua provinsi tersebut untuk memperkuat kebijakan yang mendorong perlindungan dan rehabilitasi mangrove melalui pendekatan yang responsif terhadap gender. Program ini bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan Indonesia untuk melindungi 1.800 hektar dan merehabilitasi 2.000 hektar ekosistem mangrove di enam desa di dua provinsi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari pengalaman di atas, lahir pelajaran penting: perubahan membutuhkan inisiatif, kesadaran, inovasi dan kolaborasi para pihak. Kini saatnya para pemangku kepentingan mengambil peran dalam mendukung pemanfaatan potensi lokal, memperkuat solusi berbasis alam, dan membuka ruang pembelajaran bersama untuk keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.<\/p>\n\n\n\n\t<div class=\"alignwide\" data-name=\"acf\/block-contact\">\n\t\t<div class=\"contact-block\">\n\t\t\t<div class=\"grid-narrow\">\n\t\t\t\t<div class=\"order-2 md:order-none col-span-full md:col-span-5 md:col-start-1 lg:col-span-8 lg:col-start-2 md:row-span-full\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"contact-block__inner\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"flex flex-col gap-4\">\n\t\t\t\t\t\t\t<h2 class=\"block-title\">Penulis : <\/h2>\n\n\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"flex flex-col gap-2\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"contact-block__contact-title\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\tAndi Darmawansyah\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/p>\n\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"badge\">\n\t\tFisheries and Aquaculture Expert\n\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<a href=\"mailto:andarwansyah@gmail.com\" class=\"contact-block__email\" aria-label=\"E-mail Andi Darmawansyah\">andarwansyah@gmail.com<\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"col-span-full md:col-span-2 md:col-start-5 lg:col-start-8 lg:col-span-4 md:row-span-full\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"contact-block__image\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"371\" height=\"288\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/09\/wawan.jpg\" class=\"attachment-square size-square\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/09\/wawan.jpg 371w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/09\/wawan-300x233.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 371px) 100vw, 371px\" \/>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tambak udang windu pernah menjadi sumber kejayaan masyarakat pesisir di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara antara tahun 1990an-2010. Saat itu, produksi udang windu bisa mencapai satu ton per siklus. Namun, seiring waktu, hasil panen menurun drastis hingga hanya 15\u201320 kilogram saja per hektare per siklus budidaya tiga bulan. Pendapatan yang kian menurun membuat masyarakat kerap terpaksa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"featured_media":3235,"template":"","meta":{"_acf_changed":true,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"ep_exclude_from_search":false,"editor_notices":[]},"wl_issue":[],"wl_topic":[],"wl_type":[],"class_list":["post-3234","wl_blog","type-wl_blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Cerita perubahan: Petambak di Kalimantan Utara Diberdayakan Melalui Inovasi Berbasis Lingkungan - Wetlands International Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cerita perubahan: Petambak di Kalimantan Utara Diberdayakan Melalui Inovasi Berbasis Lingkungan - Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tambak udang windu pernah menjadi sumber kejayaan masyarakat pesisir di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara antara tahun 1990an-2010. Saat itu, produksi udang windu bisa mencapai satu ton per siklus. Namun, seiring waktu, hasil panen menurun drastis hingga hanya 15\u201320 kilogram saja per hektare per siklus budidaya tiga bulan. Pendapatan yang kian menurun membuat masyarakat kerap terpaksa [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-26T06:20:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/11\/cerita-0.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1152\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\\\/\",\"name\":\"Cerita perubahan: Petambak di Kalimantan Utara Diberdayakan Melalui Inovasi Berbasis Lingkungan - Wetlands International Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2025\\\/11\\\/cerita-0.jpg\",\"datePublished\":\"2025-11-26T04:02:12+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-26T06:20:01+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2025\\\/11\\\/cerita-0.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2025\\\/11\\\/cerita-0.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1152,\"caption\":\"filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 43;\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Cerita perubahan: Petambak di Kalimantan Utara Diberdayakan Melalui Inovasi Berbasis Lingkungan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"description\":\"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"width\":1920,\"height\":949,\"caption\":\"Wetlands International Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/facebook.com\\\/wetlandsinternationalindonesia\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/yayasanlahanbasah\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@yayasanlahanbasah\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cerita perubahan: Petambak di Kalimantan Utara Diberdayakan Melalui Inovasi Berbasis Lingkungan - Wetlands International Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cerita perubahan: Petambak di Kalimantan Utara Diberdayakan Melalui Inovasi Berbasis Lingkungan - Wetlands International Indonesia","og_description":"Tambak udang windu pernah menjadi sumber kejayaan masyarakat pesisir di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara antara tahun 1990an-2010. Saat itu, produksi udang windu bisa mencapai satu ton per siklus. Namun, seiring waktu, hasil panen menurun drastis hingga hanya 15\u201320 kilogram saja per hektare per siklus budidaya tiga bulan. Pendapatan yang kian menurun membuat masyarakat kerap terpaksa [&hellip;]","og_url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/","og_site_name":"Wetlands International Indonesia","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","article_modified_time":"2025-11-26T06:20:01+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1152,"url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/11\/cerita-0.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/","name":"Cerita perubahan: Petambak di Kalimantan Utara Diberdayakan Melalui Inovasi Berbasis Lingkungan - Wetlands International Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/11\/cerita-0.jpg","datePublished":"2025-11-26T04:02:12+00:00","dateModified":"2025-11-26T06:20:01+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/#primaryimage","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/11\/cerita-0.jpg","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/11\/cerita-0.jpg","width":2560,"height":1152,"caption":"filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 43;"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/cerita-perubahan-petambak-di-kalimantan-utara-diberdayakan-melalui-inovasi-berbasis-lingkungan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Cerita perubahan: Petambak di Kalimantan Utara Diberdayakan Melalui Inovasi Berbasis Lingkungan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","name":"Wetlands International Indonesia","description":"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.","publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization","name":"Wetlands International Indonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","width":1920,"height":949,"caption":"Wetlands International Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/","https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog\/3234"}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/wl_blog"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3235"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"wl_issue","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_issue?post=3234"},{"taxonomy":"wl_topic","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_topic?post=3234"},{"taxonomy":"wl_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_type?post=3234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}