{"id":2944,"date":"2025-02-12T10:30:19","date_gmt":"2025-02-12T03:30:19","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?post_type=wl_blog&#038;p=2944"},"modified":"2025-02-12T10:30:20","modified_gmt":"2025-02-12T03:30:20","slug":"memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi","status":"publish","type":"wl_blog","link":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/","title":{"rendered":"Memakmurkan Desa\u00a0 Pesisir Melalui Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Ditulis oleh: Tim Komunikasi, Yayasan Lahan Basah\/Wetlands International Indonesia<\/p>\n\n\n\n<p>Wilayah pantai utara Jawa, termasuk Kabupaten Demak,&nbsp;terdampak erosi dan banjir pasang&nbsp;<em>(<\/em><em>rob<\/em><em>)<\/em>&nbsp;yang dipicu&nbsp;oleh konversi jalur hijau mangrove menjadi tambak&nbsp;dan pembangunan infrastruktur pesisir yang tidak ramah lingkungan. &nbsp;Kondisi tersebut diperparah oleh penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah yang tidak terkontrol. Akibatnya, masyarakat pesisir menjadi rentan dan tinggal di kawasan yang beresiko bencana. Sektor budidaya perikanan dan pertanian, dua mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat menderita kerugian yang cukup besar. Solusi infrastruktur keras&nbsp;<em>(h<\/em><em>ard structure)<\/em>&nbsp;konvensional yang digunakan dalam upaya penanganan masalah ini terbukti tidak efektif, mahal dan tidak mampu memitigasi dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Terlebih, pendekatan tersebut tidak&nbsp;memberikan jasa dan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dapat disediakan oleh ekosistem hutan mangrove yang sehat.<\/p>\n\n\n\n<p>Upaya-upaya pemulihan ekosistem mangrove&nbsp;di wilayah Kabupaten Demak telah banyak dilakukan oleh para pihak. Umumnya rehabilitasi yang dilakukan menggunakan metode&nbsp;penanaman bibit atau propagul secara langsung di lokasi-lokasi terdampak, dengan melibatkan masyarakat setempat. Sayangnya, upaya penanaman tersebut belum cukup&nbsp;efektif&nbsp;dalam memulihkan ekosistem pesisir yang terabrasi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bisakah mangrove tumbuh TANPA ditanam?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Pertanyaan tersebut muncul dalam&nbsp;benak anggota kelompok&nbsp;Sido Makmur dan dilontarkan oleh beberapa perwakilannya saat mengetahui untuk pertama kalinya dari tim fasilitator proyek &nbsp;Building with Nature (BwN) Indonesia &nbsp;bahwa proyek tersebut&nbsp;tidak akan mendorong teknik&nbsp;penanaman bibit atau propagul dalam upaya pemulihan kawasan pesisir di Kabupaten Demak, melainkan menggunakan metode rehabilitasi mangrove berbasis ekologi&nbsp;<em>(Ecological Mangrove Rehabiltation\/EMR<\/em>), yang melibatkan partisipasi masyarakat. Pendekatan EMR berfokus pada pembentukan kembali kondisi lingkungan yang memungkinkan regenerasi mangrove secara alami di lokasi yang telah mengalami gangguan. Intervensi utama yang dilakukan pada EMR adalah mengembalikan struktur topografi dan hidrologi yang dibutuhkan oleh mangrove untuk tumbuh.&nbsp;Jika kondisi biofisik yang sesuai telah terbentuk, maka alam akan melanjutkan pekerjaan selanjutnya untuk menumbuhkan bibit atau propagule mangrove yang singgah secara alami.<\/p>\n\n\n\n<p>Kelompok Sido Makmur Desa Betahwalang merupakan salah satu dari 10 kelompok dampingan yang dibentuk dan diberdayakan oleh Proyek BwN Indonesia.&nbsp;Pada tahun 2017, Kelompok Sido Makmur Desa Betahwalang&nbsp;yang beranggotakan 30 orang (24 laki-laki dan 6 perempuan)&nbsp;mulai melakukan kegiatan rehabilitasi mangrove dan revitalisasi budidaya tambak ramah lingkungan&nbsp;di bawah dampingan proyek BwN Indonesia. Tiga kegiatan&nbsp;rehabilitasi&nbsp;yang dilakukan meliputi&nbsp;mempertahankan dan menambah jalur hijau mangrove di sepanjang garis pantai&nbsp;Desa Betahwalang melalui pembangunan struktur tembus air&nbsp;<em>(<\/em><em>permeab<\/em><em>le structure)<\/em>, menerapkan desain tambak terhubung mangrove (<em>Associated Mangrove Aquaculture<\/em>\/AMA), dan pengelolaan&nbsp;&nbsp;tambak&nbsp;ramah lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan pembangunan struktur tembus air&nbsp;dilakukan dengan memasang pagar&nbsp;bambu&nbsp;yang diberi jaring&nbsp;di sepanjang garis&nbsp;pantai Desa Betahwalang pada pertengahan tahun 2017. Pada akhir tahun 2017 terpantau&nbsp;penambahan ketinggian sedimen telah mencapai&nbsp;50 cm&nbsp;beserta&nbsp;kolonisasi benih mangrove alami&nbsp;di atas sedimen tersebut. Hingga tahun 2019, luasan sedimen dan jalur hijau mangrove bertambah sekitar 12 hektar&nbsp;ke arah laut, dengan tinggi mangrove mencapai 80-100 cm.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Seiring&nbsp;pertumbuhan kembali&nbsp;jalur hijau mangrove di wilayah yang direhabilitasi, Kelompok&nbsp;berinisitif membangun&nbsp;<em>mangrove track<\/em>&nbsp;di kawasan tersebut&nbsp;sebagai sarana pendukung dalam pengawasan kawasan&nbsp;dan sarana jalan bagi para pihak yang ingin&nbsp;belajar metode rehabilitasi mangrove tanpa menanam. Hingga kini, Kelompok Sido Makmur masih terus melanjutkan upaya konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove di Desa Betahwalang menggunakan pendekatan praktik cerdas&nbsp;Building with Nature. Sampai tahun 2023, mereka telah merehabilitasi kawasan mangrove terdegradasi hingga 20 hektar dan berencana akan merestorasi 10 hektar lainnya&nbsp;lagi di masa mendatang melalui sumberdaya internal kelompok maupun melalui dukungan&nbsp;dari&nbsp;para pihak lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu penggerak Kelompok Sido Makmur, Abu Dawud,&nbsp;mengungkapkan,&nbsp;\u201cJika bukan kita sendiri yang merawat dan melestarikan lingkungan kita, lalu siapa lagi?\u201d. \u201cMasyarakat setempat hakikatnya adalah pemilik sekaligus&nbsp;pengelola yang bertanggung jawab atas lingkungannya\u201d, imbuhnya. \u201cTerima kasih dan penghargaan kami ucapkan kepada semua pihak&nbsp;yang telah mendukung kami dalam memulihkan&nbsp;kawasan pesisir kami, terutama kepada&nbsp;<a href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/\"><u>Wetlands International Indonesia<\/u><\/a>&nbsp;dan Blue Forests&nbsp;yang telah&nbsp;mendampingi serta memfasilitasi&nbsp;kami di lapangan&nbsp;selama program Building with Nature Indonesia, dan semoga Desa&nbsp;Betahwalang semakin hijau dan mangrovenya semakin lestari\u201d, tambah Abu&nbsp;Dawud menutup pembicaraan.<\/p>\n\n\n\n<p>Upaya pelestarian dan rehabilitasi jalur hijau mangrove di Desa Betahwalang dapat menyediakan &nbsp;berbagai jasa lingkungan bagi masyarakat setempat, seperti perlindungan pesisir dan peningkatan produktifitas perikanan tangkap. Selain itu, dengan kemampuannya yang&nbsp;cukup besar dalam menyerap dan menyimpan karbon, kembalinya ekosistem mangrove Desa Betahwalang dapat&nbsp;berkontribusi bagi&nbsp;upaya mitigasi perubahan iklim global. Mari kita beralih ke pendekatan rehabilitasi mangrove yang lebih efektif.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Informasi lebih lengkap tentang proyek Building with Nature Indonesia dapat dibaca pada link&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.wetlands.org\/case-study\/building-with-nature-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">https:\/\/www.wetlands.org\/case-study\/building-with-nature-indonesia\/<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em><strong><em>Lini masa perubahan tata guna lahan&nbsp;dari tambak terabrasi kembali menjadi hutan mangrove di Desa Betahwalang, Kabupaten Demak. Foto: Kuswantoro\/Wetlands International Indonesia<\/em><\/strong><\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"668\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/02\/maung-668x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2941\" srcset=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/02\/maung-668x1024.jpg 668w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/02\/maung-196x300.jpg 196w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/02\/maung-768x1177.jpg 768w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/02\/maung-1002x1536.jpg 1002w, https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/02\/maung.jpg 1295w\" sizes=\"(max-width: 668px) 100vw, 668px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Artikel ini juga dimuat pada Buletin Karbon Biru Indonesia: Edisi Januari 2025<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis oleh: Tim Komunikasi, Yayasan Lahan Basah\/Wetlands International Indonesia Wilayah pantai utara Jawa, termasuk Kabupaten Demak,&nbsp;terdampak erosi dan banjir pasang&nbsp;(rob)&nbsp;yang dipicu&nbsp;oleh konversi jalur hijau mangrove menjadi tambak&nbsp;dan pembangunan infrastruktur pesisir yang tidak ramah lingkungan. &nbsp;Kondisi tersebut diperparah oleh penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah yang tidak terkontrol. Akibatnya, masyarakat pesisir menjadi rentan dan tinggal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"featured_media":881,"template":"","meta":{"_acf_changed":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"ep_exclude_from_search":false,"editor_notices":[]},"wl_issue":[],"wl_topic":[],"wl_type":[],"class_list":["post-2944","wl_blog","type-wl_blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Memakmurkan Desa\u00a0 Pesisir Melalui Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi - Wetlands International Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memakmurkan Desa\u00a0 Pesisir Melalui Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi - Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ditulis oleh: Tim Komunikasi, Yayasan Lahan Basah\/Wetlands International Indonesia Wilayah pantai utara Jawa, termasuk Kabupaten Demak,&nbsp;terdampak erosi dan banjir pasang&nbsp;(rob)&nbsp;yang dipicu&nbsp;oleh konversi jalur hijau mangrove menjadi tambak&nbsp;dan pembangunan infrastruktur pesisir yang tidak ramah lingkungan. &nbsp;Kondisi tersebut diperparah oleh penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah yang tidak terkontrol. Akibatnya, masyarakat pesisir menjadi rentan dan tinggal [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-02-12T03:30:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2016\/11\/demak_17.gif\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1256\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/gif\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\\\/\",\"name\":\"Memakmurkan Desa\u00a0 Pesisir Melalui Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi - Wetlands International Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2016\\\/11\\\/demak_17.gif\",\"datePublished\":\"2025-02-12T03:30:19+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-12T03:30:20+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2016\\\/11\\\/demak_17.gif\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2016\\\/11\\\/demak_17.gif\",\"width\":1920,\"height\":1256},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog\",\"item\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Memakmurkan Desa\u00a0 Pesisir Melalui Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"description\":\"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/11\\\/2024\\\/08\\\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"width\":1920,\"height\":949,\"caption\":\"Wetlands International Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/indonesia.wetlands.org\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/facebook.com\\\/wetlandsinternationalindonesia\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/yayasanlahanbasah\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@yayasanlahanbasah\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memakmurkan Desa\u00a0 Pesisir Melalui Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi - Wetlands International Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memakmurkan Desa\u00a0 Pesisir Melalui Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi - Wetlands International Indonesia","og_description":"Ditulis oleh: Tim Komunikasi, Yayasan Lahan Basah\/Wetlands International Indonesia Wilayah pantai utara Jawa, termasuk Kabupaten Demak,&nbsp;terdampak erosi dan banjir pasang&nbsp;(rob)&nbsp;yang dipicu&nbsp;oleh konversi jalur hijau mangrove menjadi tambak&nbsp;dan pembangunan infrastruktur pesisir yang tidak ramah lingkungan. &nbsp;Kondisi tersebut diperparah oleh penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah yang tidak terkontrol. Akibatnya, masyarakat pesisir menjadi rentan dan tinggal [&hellip;]","og_url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/","og_site_name":"Wetlands International Indonesia","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","article_modified_time":"2025-02-12T03:30:20+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1256,"url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2016\/11\/demak_17.gif","type":"image\/gif"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/","name":"Memakmurkan Desa\u00a0 Pesisir Melalui Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi - Wetlands International Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2016\/11\/demak_17.gif","datePublished":"2025-02-12T03:30:19+00:00","dateModified":"2025-02-12T03:30:20+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/#primaryimage","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2016\/11\/demak_17.gif","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2016\/11\/demak_17.gif","width":1920,"height":1256},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/memakmurkan-desa-pesisir-melalui-rehabilitasi-mangrove-berbasis-ekologi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Memakmurkan Desa\u00a0 Pesisir Melalui Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","name":"Wetlands International Indonesia","description":"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.","publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization","name":"Wetlands International Indonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","width":1920,"height":949,"caption":"Wetlands International Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/","https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog\/2944"}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/wl_blog"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/881"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"wl_issue","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_issue?post=2944"},{"taxonomy":"wl_topic","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_topic?post=2944"},{"taxonomy":"wl_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_type?post=2944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}