{"id":2023,"date":"2020-07-13T08:47:36","date_gmt":"2020-07-13T01:47:36","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/"},"modified":"2023-09-27T19:58:48","modified_gmt":"2023-09-27T12:58:48","slug":"paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/","title":{"rendered":"Paludikultur :  Praktik Lama yang Terlupakan"},"content":{"rendered":"<div>\n<p>Paludikultur \u00a0bukanlah konsep baru dalam hal pengelolaan gambut di Indonesia. Hal inilah yang disampaikan Dr. Haris Gunawan, Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut (BRG) dalam pidato kunci yang disampaikannya pada Webinar yang bertajuk Riset, inovasi dan strategi Pengembangan Paludikultur, yang diselenggarakan oleh PaludiFor dan Yayasan Lahan Basah \u00a0pada Kamis, 9 Juli 2020. Mengawali pidato, Haris menyatakan bahwa nenek moyang kita sebenarnya telah mempraktikkan prinsip paludikultur dalam menjalankan kegiatan budidaya di lahan gambut, terutama pada daerah bergambut di Sumatera dan Kalimantan. Haris menekankan bahwa budidaya pada lahan gambut harus benar-benar memahami karakteristik gambut, yakni berada dalam kondisi basah dengan tinggi muka air (TMA) harus lebih tinggi dari -0.4 m sepanjang tahun. Pembentukan dan akumulasi gambut hanya dapat terjadi pada kondisi air berlebih atau jenuh. Hingga saat ini, BRG telah mengidentifikasi spesies potensial, nilai keekonomian komoditas, serta melakukan berbagai penelitian atau uji coba di lapangan. Minimal terdapat tiga faktor penting paludikultur dapat lebih dikembangkan di Indonesia yaitu partisipasi masyarakat, keterlibatan sektor swasta\/dunia usaha, dan kebijakan penataan ulang lanskap ekosistem gambut yang bersinergi. Sebagai upaya untuk mendukung pengembangan paludikultur dalam skala Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), BRG telah memantau Tinggi Muka Air (TMA) secara real time, dengan 152 alat di seluruh Indonesia, dan tambahan 15 alat lainnya \u00a0di tahun 2020 ini.<\/p>\n<p>Sesi presentasi dibuka oleh Ir. Bastoni M.Si \u00a0sebagai peneliti di Balai Litbang LHK Palembang yang juga menjadi anggota Tim Ahli TRGD Sumatera Selatan. Bastoni membagi kondisi hidrologi gambut menjadi 3 bagian, yakni gambut yang tergenang sepanjang tahun, gambut yang tergenang selama musim hujan dan gambut yang sudah kering. Paludikultur bisa dilakukan secara langsung pada kondisi gambut tergenang. Kondisi genangan ini menjadi faktor pembatas bagi tanaman tertentu, namun juga menjadi peluang untuk kegiatan perikanan. Dalam kondisi demikian, agrosilvofishery merupakan \u00a0bentuk adaptasi dan integrasi sumber daya dan budidaya pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menerapkan prinsip-prinsip paludikultur. Bastoni juga menekankan bahwa agrosilvofishery \u00a0hanya dapat diimplementasikan pada areal dengan fungsi budidaya \u00a0dengan \u00a0kedalaman gambut &lt; 300 cm. Hasil produksi dari pilot model agrosilvofishery \u00a0di Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan hasil yang cukup baik dan prospektif. Setidaknya terdapat 6 jenis tanaman hortikultura adaptif genangan yang dibudidayakan, di mana cabai keriting merupakan tanaman dengan benefit cost ratio yang paling tinggi (3.3). Untuk \u00a0tanaman kehutanan terdapat Shorea balangeran yang mencapai penambahan diameter \u00a0hingga 3.15 cm\/tahun dan dari sisi perikanan terdapat 13 jenis ikan lokal yang dibudidayakan dan terselamatkan dari kepunahan.<\/p>\n<p>Berkaca dari munculnya aktivitas ekonomi kreatif saat ini, panelis kedua membahas tema strategi pengembangan ekonomi kreatif lahan rawa gambut berbasis paludikultur. Marinus Kristiadi Harun, S.Hut, M.Si, \u00a0Peneliti Balai Litbang LHK Banjarbaru menekankan bahwa untuk mendorong kegiatan ekonomi \u00a0masyarakat berbasis paludikultur, \u00a0peran BUMDES menjadi sangat penting di mana Green Circular Economy Concept harus diterapkan. \u00a0Membuat masyarakat memahami kondisi sekitarnya dan mendorong keberdayaan dan kemandirian secara lokal, menjadi kunci utama konsep ini. Marinus mencontohkan berbagai ide kreatif pengembangan paludikultur oleh masyarakat, \u00a0seperti peternakan bebek\/kambing\/sapi secara terpadu, pemanfaatan limbah organik untuk menjadi pupuk organik dan compost block, budidaya lebah, burung walet, ikan hias, pembuatan silase, \u00a0pemanfaatan serat nanas, pembuatan pelet ikan dan \u00a0albumin dari ikan rawa. \u00a0Konsep kreatif lainnya yaitu pemanfaatan purun sebagai bahan anyaman, sedotan, dan bahan makanan, pemanfaatan teratai untuk bahan tepung dan bahan piring ramah lingkungan, hingga ekowisata kunang-kunang, dan susur sungai.<\/p>\n<p>Pada Sesi terakhir, Varih Sovy, dari Winrock International membagikan pengalaman dalam mendorong paludikultur untuk ketahanan dan kedaulatan pangan. Hasil kegiatan dan asesmen di lapangan menunjukkan bahwa pada level rumah tangga, tanaman paludikultur sagu hingga pengolahan menjadi tepung basah secara ekonomi mampu berkompetisi dengan sawit. \u00a0Hal ini menjadi peluang untuk menjadikan tanaman paludikultur sebagai alternatif sumber pangan nasional. Namun demikian, persoalan regulasi dan kesiapan teknis di lapangan perlu menjadi perhatian. Transformasi digital, baik monitoring budidaya paludikultur maupun akses pasar, perlu dilakukan dan dikembangkan bersama.<\/p>\n<p>Webinar ini diikuti oleh 216 peserta yang berasal dari berbagai institusi baik pemerintah, peneliti, pelaku usaha, LSM dan mahasiswa\/pelajar. Menutup acara, Harris menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat, sektor swasta, dan \u00a0intervensi kebijakan penataan ulang lahan gambut yang sinergi diperlukan dalam mendorong paludikultur di Indonesia. \u00a0\u201cMari kita mengurangi pengurasan volume air gambut ini, kalau kita tidak lakukan, (maka kita) akan berhadapan dengan situasi yang lebih buruk, (dan tentunya) tidak memberikan ruang untuk budidaya di lahan gambut basah\u201d, pungkasnya.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-4093\" src=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur-960x666.jpg\" alt=\"\" \/><\/p>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<div><\/div>\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390405\">\n<div class=\"Viewweb__StyledView-sc-61094a-0 HgQhp track_paragraph\" data-key=\"7390405\">\n<div>\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390424\">\n<div class=\"Viewweb__StyledView-sc-61094a-0 HgQhp track_paragraph\" data-key=\"7390424\">\n<div>\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390438\">\n<div class=\"Viewweb__StyledView-sc-61094a-0 HgQhp track_paragraph\" data-key=\"7390438\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fFrTQp\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fdkymA\"><span class=\"Textweb__StyledText-sc-2upo8d-0 bHnXqU components__InlineTableText-zjjpg2-0 dWDCSS\"><strong data-key=\"7390477\">Narahubung : <\/strong><\/span><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390444\">\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390445\">\n<ul>\n<li class=\"components__LI-r6enua-2 UcNTD\" data-key=\"7390445\">\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390446\">\n<div class=\"Viewweb__StyledView-sc-61094a-0 HgQhp track_paragraph\" data-key=\"7390446\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fFrTQp\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fdkymA\"><span class=\"Textweb__StyledText-sc-2upo8d-0 bHnXqU components__InlineTableText-zjjpg2-0 dWDCSS\"><em data-key=\"7390478\">Dr. Agus Tampubolon (Ketua PaludiFor, Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Pengembangan dan Inovasi, KLHK). Email: <a href=\"mailto:agustampu10@gmail.com\">agustampu10@gmail.com <\/a><\/em><\/span><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390450\">\n<ul>\n<li class=\"components__LI-r6enua-2 UcNTD\" data-key=\"7390450\">\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390451\">\n<div class=\"Viewweb__StyledView-sc-61094a-0 HgQhp track_paragraph\" data-key=\"7390451\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fFrTQp\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fdkymA\"><span class=\"Textweb__StyledText-sc-2upo8d-0 bHnXqU components__InlineTableText-zjjpg2-0 dWDCSS\"><em data-key=\"7390479\">Iwan Tri Cahyo Wibisono (Sekretaris PaludiFor, Yayasan Lahan Basah\/Wetlands International Indonesia). Email: <a href=\"mailto:wibisono_yoyok@wetlands.or.id\">wibisono_yoyok@wetlands.or.id <\/a><\/em><\/span><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390455\">\n<ul>\n<li class=\"components__LI-r6enua-2 UcNTD\" data-key=\"7390455\">\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"7390456\">\n<div class=\"Viewweb__StyledView-sc-61094a-0 HgQhp track_paragraph\" data-key=\"7390456\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fFrTQp\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fdkymA\"><span class=\"Textweb__StyledText-sc-2upo8d-0 bHnXqU components__InlineTableText-zjjpg2-0 dWDCSS\"><em data-key=\"7390480\">Susan Lusiana (Anggota PaludiFor, Yayasan Lahan Basah\/Wetlands International Indonesia). Email: <a href=\"mailto:susan.lusiana@gmail.com\">susan.lusiana@gmail.com<\/a>,HP\/WA: 081286604246<\/em><\/span><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<div><\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"152\">\n<div class=\"Viewweb__StyledView-sc-61094a-0 HgQhp track_paragraph\" data-key=\"152\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fFrTQp\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fdkymA\"><span class=\"Textweb__StyledText-sc-2upo8d-0 bHnXqU components__InlineTableText-zjjpg2-0 dWDCSS\"><strong data-key=\"173\">Tautan Referensi Pendukung:<\/strong><\/span><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"157\">\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"158\">\n<ul>\n<li class=\"components__LI-r6enua-2 fpqCGJ\" data-key=\"158\">\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"159\">\n<div class=\"Viewweb__StyledView-sc-61094a-0 HgQhp track_paragraph\" data-key=\"159\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fFrTQp\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fdkymA\"><span class=\"Textweb__StyledText-sc-2upo8d-0 bHnXqU components__InlineTableText-zjjpg2-0 dWDCSS\">Materi Presentasi : <a href=\"https:\/\/bit.ly\/MateriPaludiFor2\">https:\/\/bit.ly\/MateriPaludiFor2<\/a><\/span><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"162\">\n<ul>\n<li class=\"components__LI-r6enua-2 fpqCGJ\" data-key=\"162\">\n<div class=\"components__NormalWidth-sc-1ukv6c0-0 gIxCuB\" data-key=\"163\">\n<div class=\"Viewweb__StyledView-sc-61094a-0 HgQhp track_paragraph\" data-key=\"163\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fFrTQp\">\n<div class=\"TextBoxweb__StyledTextBox-n41hy7-0 fdkymA\"><span class=\"Textweb__StyledText-sc-2upo8d-0 bHnXqU components__InlineTableText-zjjpg2-0 dWDCSS\">Rekaman Webinar : <a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\">Facebook Page Wetlands International Indonesia<\/a><\/span><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"alignwide\">\n\t\t\n\t<div class=\"teaser-download\">\n\t<div class=\"grid-narrow\">\n\t\t<div class=\"col-span-full md:col-span-4 md:col-start-2 lg:col-start-3 md:row-span-full lg:mr-12\">\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"col-span-full md:col-span-4 md:col-start-3 lg:col-span-5 lg:col-start-6 md:row-span-full lg:-ml-8\">\n\t\t\t<div class=\"teaser-download__block\">\n\t\t\t\t<div class=\"flex flex-col gap-4\">\n\t\t\t\t\t<h3 class=\"block-title\">Paludikultur: Praktik Lama yang Terlupakan<\/h3>\n\n\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div>\n\t\t\t\t\t\t\t<a href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/download\/1452\/?tmstv=1775377032\" aria-label=\"Download Paludikultur: Praktik Lama yang Terlupakan, (pdf, 206.93 KB)\" class=\"btn btn--secondary btn--mobile-full\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t<span class=\"btn__icon\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<span class=\"icon-inline\" aria-hidden=\"true\"><\/span>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/span>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<span class=\"btn__text\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\tDownload (pdf, 206.93 KB)\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/span>\n\t\t\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Partisipasi masyarakat, sektor swasta, dan intervensi kebijakan penataan ulang lahan gambut yang sinergi diperlukan dalam mendorong paludikultur di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":664,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"ep_exclude_from_search":false,"editor_notices":[],"footnotes":""},"wl_issue":[],"wl_topic":[9],"wl_type":[],"class_list":["post-2023","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","wl_topic-penggunaan-lahan-berkelanjutan"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan - Wetlands International Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan - Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Partisipasi masyarakat, sektor swasta, dan intervensi kebijakan penataan ulang lahan gambut yang sinergi diperlukan dalam mendorong paludikultur di Indonesia.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-07-13T01:47:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-09-27T12:58:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"710\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"wetlandsindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"wetlandsindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/\"},\"author\":{\"name\":\"wetlandsindonesia\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/person\/bbafd66457c53a52c9cdc2acf01c91fb\"},\"headline\":\"Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan\",\"datePublished\":\"2020-07-13T01:47:36+00:00\",\"dateModified\":\"2023-09-27T12:58:48+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/\"},\"wordCount\":767,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg\",\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/\",\"name\":\"Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan - Wetlands International Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg\",\"datePublished\":\"2020-07-13T01:47:36+00:00\",\"dateModified\":\"2023-09-27T12:58:48+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg\",\"width\":1024,\"height\":710},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"description\":\"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"width\":1920,\"height\":949,\"caption\":\"Wetlands International Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/\",\"https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/person\/bbafd66457c53a52c9cdc2acf01c91fb\",\"name\":\"wetlandsindonesia\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/author\/wetlandsindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan - Wetlands International Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan - Wetlands International Indonesia","og_description":"Partisipasi masyarakat, sektor swasta, dan intervensi kebijakan penataan ulang lahan gambut yang sinergi diperlukan dalam mendorong paludikultur di Indonesia.","og_url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/","og_site_name":"Wetlands International Indonesia","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","article_published_time":"2020-07-13T01:47:36+00:00","article_modified_time":"2023-09-27T12:58:48+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":710,"url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"wetlandsindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"wetlandsindonesia","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/"},"author":{"name":"wetlandsindonesia","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/person\/bbafd66457c53a52c9cdc2acf01c91fb"},"headline":"Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan","datePublished":"2020-07-13T01:47:36+00:00","dateModified":"2023-09-27T12:58:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/"},"wordCount":767,"publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg","articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/","name":"Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan - Wetlands International Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg","datePublished":"2020-07-13T01:47:36+00:00","dateModified":"2023-09-27T12:58:48+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#primaryimage","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2020\/07\/paludikultur.jpg","width":1024,"height":710},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/paludikultur-praktik-lama-yang-terlupakan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Paludikultur : Praktik Lama yang Terlupakan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","name":"Wetlands International Indonesia","description":"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.","publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization","name":"Wetlands International Indonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","width":1920,"height":949,"caption":"Wetlands International Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/","https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/person\/bbafd66457c53a52c9cdc2acf01c91fb","name":"wetlandsindonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/author\/wetlandsindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2023"}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2023"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2023\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2552,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2023\/revisions\/2552"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/664"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"wl_issue","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_issue?post=2023"},{"taxonomy":"wl_topic","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_topic?post=2023"},{"taxonomy":"wl_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_type?post=2023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}