{"id":1929,"date":"2013-07-01T02:10:24","date_gmt":"2013-06-30T19:10:24","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/"},"modified":"2023-09-27T19:58:33","modified_gmt":"2023-09-27T12:58:33","slug":"kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/","title":{"rendered":"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit"},"content":{"rendered":"<p>Sumatra, Indonesia. Dampak kesehatan dan iklim dari kebakaran lahan dan hutan gambut di Sumatra mengingatkan kita kembali akan tidak berkelanjutannya usaha perkebunan sawit dan bubur kertas diatas lahan gambut.<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Kejadian kebakaran di Sumatra telah menyebabkan dikeluarkannya peringatan dari otoritas kesehatan di Singapura, Malaysia dan Indonesia, dan menimbulkan silang pendapat diantara ketiga negara tersebut mengenai siapa sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap kejadian kebakaran tersebut.\u00a0<\/span><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Meskipun demikian, nampaknya sangat kurang perhatian terhadap akar permasalahan dari penyebab kebakaran tersebut. \u201cUntuk mencegah kebakaran, Indonesia dan Malaysia perlu untuk melindungi hutan rawa gambut yang masih tersisa, dan memindahkan atau memperbaiki pengelolaan dari perkebunan yang saat ini telah beroperasi dilahan gambut. Selain itu, diperlukan adanya dukungan birokrasi untuk memperluas dan mempercepat investasi langsung dari luar untuk membantu upaya rehabilitasi lahan gambut yang telah mengalami kerusakan, diantaranya melalui mekanisme konsesi Restorasi Ekosistem\u201d, demikian disampaikan oleh Marcel Silvius, Head of Programme and Strategy for Wetlands and Climate dari Wetlands International.<\/span><\/p>\n<h3><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Sebagian besar asap berasal dari kebakaran di lahan gambut<\/span><\/strong><\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Pada tahun-tahun belakangan ini, sejumlah besar luasan hutan rawa gambut di Asia Tenggara telah mengalami kerusakan cukup parah, sebagai akibat dari deforestasi, pengeringan gambut dan pembangunan perkebunan dan pertanian yang kurang terencana dengan baik. Lahan gambut yang telah mengalami kekeringan sangat rentan terhadap kerbakaran. Karena sebagian besar kebakaran gambut terjadi dibawah permukaan, maka material gambut terbakar tidak sempurna, dan kemudian menghasilkan lebih banyak asap dibandingkan dengan kebakaran lainnya. Kebakaran di lahan gambut juga sangat sulit untuk dipadamkan. Dengan demikian, kebakaran di lahan gambut memang merupakan sumber utama terjadinya asap<sup style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">1<\/sup>. Peta yang dikembangkan oleh SarVision dengan jelas menunjukan bahwa banyak kebakaran baru-baru ini terjadi di lahan gambut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Penelitian<sup style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">2<\/sup>\u00a0yang dilaksanakan baru-baru ini menunjukan bahwa kebakaran yang terjadi di Sumatra terkonsentrasi di wilayah yang sudah mengalami kerusakan berat (140 kejadian kebakaran per 100 km2), sementara hanya sedikit yang terjadi di wilayah yang masih berupa hutan rawa gambut alami (7 kebakaran per 100 km2). Dengan demikian, strategi pencegahan kebakaran yang paling efektif adalah dengan mempertahankan wilayah hutan rawa gambut yang masih alami dan merehabilitasi serta membasahi kembali wilayah lahan gambut yang sudah mengalami kerusakan, sehingga bisa kembali ke kondisi yang tergenang air.<\/span><\/p>\n<h3><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Perkebunan yang tidak berkelanjutan di lahan gambut<\/span><\/strong><\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Liputan media terhadap kejadian kebakaran menekankan adanya peran dari perkebunan kelapa sawit dalam menyulut kebakaran. Meskipun demikian, peta yang dikembangkan oleh SarVision serta penelitian yang dilakukan oleh kelompok advokasi <i><em style=\"font-weight: inherit;\">Eyes on the Forest<sup style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">3<\/sup><\/em><\/i>\u00a0menunjukan bahwa HTI yang memproduksi bahan bubur kertas di lahan gambut juga seharusnya bertanggung jawab terhadap kejadian kebakaran di propinsi Riau. Baik perkebunan kelapa sawit maupun HTI seharusnya bertanggung jawab untuk membangun dan melaksanakan berbagai solusi terhadap keajidan kebakaran yang disebabkan oleh kegiatan mereka di lahan gambut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u201cUntuk menangani isu kebakaran secara efektif, Indonesia seharusnya mendorong pemindahan konsesi perkebunan kelapa sawit dan HTI dari lahan gambut, misalnya melalui kesepakatan <i><em style=\"font-weight: inherit;\">land swap<\/em><\/i>, memindahkan mereka ke lahan mineral. Kita juga harus membangun suatu <i><em style=\"font-weight: inherit;\">roadmap<\/em><\/i> terkait dengan rehabilitasi di lahan gambut, termasuk budidaya jenis-jenis asli lahan gambut, yang sepenuhnya mengikutsertakan masyarakat, yang tidak memerlukan drainase dan menyediakan pasokan yang berkelanjutan bagi berbagai jenis produk bernilai ekonomi tinggi, seperti minyak, lateks, obat-obatan, buah-buahan maupun sumber daya kayu\u201d tutur Nyoman Suryadiputra, Direktur Wetlands International \u2013 Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u201cRehabilitasi lahan gambut lebih lanjut dapat difasilitasi oleh, misalnya, investasi langsung sektor swasta dalam kegiatan dibawah payung strategi REDD+ Indonesia, serta menciptakan iklim dorongan birokrasi untuk terlaksananya konsesi Restorasi Ekosistem\u201d, lebih lanjut dikatakan oleh Nyoman Suryadiputra. \u201cKerjasama internasional sangat dibutuhkan (termasuk ketiga negara yang terdampak), difokuskan pada langkah-langkah preventif untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Setiap tahun (kecuali pada tahun-tahun sangat basah) kebakaran besar merusak lahan pertanian, kehutanan dan lahan alami, menyebabkan masalah polusi udara, dan kerugian ekonomi yang sangat besar serta menyumbang ratusan juta ton emisi gas rumah kaca, dan akhirnya mempengaruhi iklim dunia. Berbagai penelitian telah menunjukan bahwa kebakaran terjadi akibat perbuatan manusia, dan sebenarnya dapat dilacak asalnya dari kegiatan pembukaan lahan, baik oleh perusahaan skala besar maupun skala kecil.<\/span><\/p>\n<p><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Pustaka<br \/>\n<\/span><\/strong><\/b><\/p>\n<p><sup style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">1<\/span><\/sup><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u00a0Betha R, Pradani M, Lestari P, Joshi UM, Reid JS, Balasubramanian R. Chemical speciation of trace metals emitted from Indonesian peat fires for health risk assessment. Atmospheric Research. 2013;122:571-8.<\/span><\/p>\n<p><sup style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">2<\/span><\/sup><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u00a0 Miettinen, J., Shi, C., Liew, S.C, 2012. Two decades of destruction in Southeast Asia\u2019s peat swamp forests. Frontiers in Ecology and Environment.Vol 10 (3), pp 124-128<\/span><\/p>\n<p><sup style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">3<\/span><\/sup><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u00a0<\/span><a style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\" href=\"http:\/\/news.mongabay.com\/2013\/0626-haze-eoy-analysis-google-earth.html#RxV6Wgt4Erjklq5g.99\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Cause of haze? Up to 87% of recent deforestation in fire zone due to palm oil, timber<\/span><\/a><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">, published in Mongabay.com<\/span><\/p>\n<p><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\"><br \/>\nUntuk informasi lebih lanjut silakan hubungi :<\/span><\/strong><\/b><br \/>\n<span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Marcel Silvius, Head of Programme and Strategy, Wetlands and Climate:\u00a0<\/span><a style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\" href=\"mailto:marcel.silvius@wetlands.org\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">marcel.silvius@wetlands.org<\/span><\/a><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">,\u00a0<\/span><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">+31 (0) 318 660 924<\/span><\/span><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\"><br \/>\nNyoman Suryadiputra, Director, Wetlands International \u2013 Indonesia:\u00a0<\/span><a style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\" href=\"mailto:nyoman@wetlands.or.id\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">nyoman@wetlands.or.id<\/span><\/a><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">,\u00a0<\/span><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">+62 251 8312189<\/span><\/span><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\"><br \/>\n<\/span><a style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\" href=\"https:\/\/www.wetlands.org\/\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">www.wetlands.org<\/span><\/a><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumatra, Indonesia. Dampak kesehatan dan iklim dari kebakaran lahan dan hutan gambut di Sumatra mengingatkan kita kembali akan tidak berkelanjutannya usaha perkebunan sawit dan bubur kertas diatas lahan gambut. Kejadian kebakaran di Sumatra telah menyebabkan dikeluarkannya peringatan dari otoritas kesehatan di Singapura, Malaysia dan Indonesia, dan menimbulkan silang pendapat diantara ketiga negara tersebut mengenai siapa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":277,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"ep_exclude_from_search":false,"editor_notices":[],"footnotes":""},"wl_issue":[],"wl_topic":[25],"wl_type":[],"class_list":["post-1929","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","wl_topic-climate-mitigation-and-adaptation"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit - Wetlands International Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit - Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sumatra, Indonesia. Dampak kesehatan dan iklim dari kebakaran lahan dan hutan gambut di Sumatra mengingatkan kita kembali akan tidak berkelanjutannya usaha perkebunan sawit dan bubur kertas diatas lahan gambut. Kejadian kebakaran di Sumatra telah menyebabkan dikeluarkannya peringatan dari otoritas kesehatan di Singapura, Malaysia dan Indonesia, dan menimbulkan silang pendapat diantara ketiga negara tersebut mengenai siapa [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Wetlands International Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-06-30T19:10:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-09-27T12:58:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1263\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"wetlandsindonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"wetlandsindonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/\"},\"author\":{\"name\":\"wetlandsindonesia\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/person\/bbafd66457c53a52c9cdc2acf01c91fb\"},\"headline\":\"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit\",\"datePublished\":\"2013-06-30T19:10:24+00:00\",\"dateModified\":\"2023-09-27T12:58:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/\"},\"wordCount\":760,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg\",\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/\",\"name\":\"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit - Wetlands International Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg\",\"datePublished\":\"2013-06-30T19:10:24+00:00\",\"dateModified\":\"2023-09-27T12:58:33+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1263},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"description\":\"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization\",\"name\":\"Wetlands International Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png\",\"width\":1920,\"height\":949,\"caption\":\"Wetlands International Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/\",\"https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/person\/bbafd66457c53a52c9cdc2acf01c91fb\",\"name\":\"wetlandsindonesia\",\"url\":\"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/author\/wetlandsindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit - Wetlands International Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit - Wetlands International Indonesia","og_description":"Sumatra, Indonesia. Dampak kesehatan dan iklim dari kebakaran lahan dan hutan gambut di Sumatra mengingatkan kita kembali akan tidak berkelanjutannya usaha perkebunan sawit dan bubur kertas diatas lahan gambut. Kejadian kebakaran di Sumatra telah menyebabkan dikeluarkannya peringatan dari otoritas kesehatan di Singapura, Malaysia dan Indonesia, dan menimbulkan silang pendapat diantara ketiga negara tersebut mengenai siapa [&hellip;]","og_url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/","og_site_name":"Wetlands International Indonesia","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","article_published_time":"2013-06-30T19:10:24+00:00","article_modified_time":"2023-09-27T12:58:33+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1263,"url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"wetlandsindonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"wetlandsindonesia","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/"},"author":{"name":"wetlandsindonesia","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/person\/bbafd66457c53a52c9cdc2acf01c91fb"},"headline":"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit","datePublished":"2013-06-30T19:10:24+00:00","dateModified":"2023-09-27T12:58:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/"},"wordCount":760,"publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg","articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/","name":"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit - Wetlands International Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg","datePublished":"2013-06-30T19:10:24+00:00","dateModified":"2023-09-27T12:58:33+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#primaryimage","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2013\/09\/FFR-022.jpg","width":1920,"height":1263},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/kebakaran-di-sumatra-mengurusi-gejala-tak-cukup-aksi-dalam-menangani-penyakit\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kebakaran di Sumatra: mengurusi gejala, tak cukup aksi dalam menangani penyakit"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#website","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","name":"Wetlands International Indonesia","description":"Menginspirasi dan memobilisasi masyarakat guna menjaga dan merestorasi lahan basah bagi manusia dan alam.","publisher":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#organization","name":"Wetlands International Indonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","contentUrl":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2024\/08\/Wetlands-International-logo-RGB-High-res-Transparente.png","width":1920,"height":949,"caption":"Wetlands International Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/wetlandsinternationalindonesia\/","https:\/\/www.instagram.com\/yayasanlahanbasah\/","https:\/\/www.youtube.com\/@yayasanlahanbasah"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/#\/schema\/person\/bbafd66457c53a52c9cdc2acf01c91fb","name":"wetlandsindonesia","url":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/author\/wetlandsindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1929"}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1929"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2516,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1929\/revisions\/2516"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/277"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"wl_issue","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_issue?post=1929"},{"taxonomy":"wl_topic","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_topic?post=1929"},{"taxonomy":"wl_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesia.wetlands.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wl_type?post=1929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}